Illustrasi
alterntif text

Mbay, Vox NTT- Januari 2019, curah hujan di Kabupaten Nagekeo tinggi.

Curah hujan yang turun tampak masih mengalami peningkatan dari awal Januari hingga akhir Januari di beberapa lokasi.

Hal itu disampaikan Tim peneliti dari Institut Teknologi Bandung (ITB) Armi Susandi dalam menyampaikan hasil penelitian prediksi curah hujan di wilayah Nagekeo dalam update pemodelan prediksi curah hujan, kalender tanam dan kebencanaan iklim 2018-2022 kabupaten Nagekeo yang berlangsung di Pondok SVD Mbay, belum lama ini.

Susandi mengatakan pada Januari dasarian 1, curah hujan yang turun berada di sekitar 100 mm/dasarian.

Pada dasarian 2, nilai ini bertambah menjadi hingga 150 mm/dasarian di beberapa lokasi.

Pada dasarian 3, di barat Kabupaten Nagekeo curah hujan turun menjadi kisaran 100 mm/bulan.

Namun di pesisir utara dan pesisir selatan nilai curah hujan yang turun meningkat hingga mencapai 200 mm/dasarian.

Curah hujan yang terus menerus tinggi menyebabkan perlu diwaspadainya ancaman bencana banjir dan longsor di lokasi yang rawan.

Susandi menjelaskan, untuk bulan Februari 2019 curah hujan sempat meningkat cenderung berfluktuasi dibandingkan bulan Januari.

Pada awal bulan, curah hujan yang turun berada di kisaran 120-130 mm/dasarian di sebagian besar wilayah Kabupaten Nagekeo.

Pada dasarian kedua, curah hujan naik hingga di kisaran 150 mm/dasarian.

Pada dasarian ketiga, curah hujan jatuh turun hingga di kisaran 60 mm/dasarian dan pada saat inilah musim hujan di Kabupaten Nagekeo tampak sudah akan selesai.

Susandi memaparkan hasil model prediksi iklim di Kabupaten Nagekeo untuk bulan Maret 2019 dimana dasarian 1, 2, dan 3 curah hujan berada di kategori sedang.

Curah hujan yang turun di sebagian besar wilayah Nagekeo berada di kisaran 50 hingga 100 mm/dasarian.

Pada dasarian pertama, curah hujan yang turun terdistribusi merata.

Dijelaskannya bahwa pngembangan model proyeksi Iklim untuk potensi bencana Iklim dan proyeksi masa tanam di Nagekeo, berada pada kisaran 50 mm/dasarian.

Pada dasarian kedua, di wilayah barat laut di sekitar Desa Nggolonio, Kelurahan Towak, dan Desa Tedamude, curah hujan yang turun mencapai kisaran 100 mm/dasarian.

Sementara itu, pada dasarian yang sama, curah hujan di wilayah lainnya hanya berada di sekitar 50 mm/dasarian.

Pada dasarian ketiga, wilayah yang mendapatkan anomali curah hujan yang lebih tinggi berpindah ke tenggara.

Di Desa Kotodarumali, curah hujan yang turun mencapai 120 mm/dasarian.

Sedangkan di Desa Tedamude, curah hujan yang turun kurang dari 50 mm/dasarian.

Di wilayah lainnya, curah hujan berada di kisaran 50 hingga 100 mm per dasarian.

Sementara untuk hasil model prediksi iklim di Kabupaten Nagekeo untuk bulan April 2019, curah hujan masih tergolong sedang.

Pada dasarian pertama, rata-rata curah hujan yang turun berada di kisaran 60 mm/ dasarian. Curah hujan di utara lebih tinggi dibandingkan wilayah lainnya.

Pada dasarian kedua, curah hujan yang turun masih berada di kisaran 60 mm/dasarian. Namun pada dasarian kedua, wilayah di selatan mendapatkan curah hujan lebih tinggi dibandingkan wilayah lainnya.

Pada dasarian ketiga, curah hujan di utara meningkat mencapai 100 mm/dasarian.

Sementara di selatan, curah hujan turun hingga kurang dari 50 mm/dasarian.

 

Penulis: Arkadius Togo
Editor: Adrianus Aba