Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Sastra»Puisi: Manusia Itu Bernama Perempuan
Sastra

Puisi: Manusia Itu Bernama Perempuan

By Redaksi29 April 20183 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Ilustrasi
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Puisi-Puisi Putra Niron

Manusia Itu Bernama Perempuan

Saya masih ingat, Ini terjadi ketika kantuk dengan tiba-tiba melanda diri saya.

Memang sudah layak dan sepantasnya saya harus tertidur,

Toh saya hanya menghabiskan waktu untuk memberikan nama kepada ciptaannya.

Tapi, jangankan terima kasih,

 

Secuil senyum pun tidak saya dapatkan dari bibir mereka.

Dan masih banyak lagi tentang saya dan kesendirian saya waktu itu.

Akhirnya saya tertidur.

Ketika terjaga, saya melihat ciptaan lainnya yang baru.

 

Benar.

Dari baunya saja dia adalah ciptaan yang baru.

Tapi dia berbeda.

Memang semua ciptaannya itu berbeda.

Hanya saja dia ini mirip sekali dengan saya.

 

Bulu yang ada di sepanjang tubuhnya hampir sama dengan saya miliki.

Mata yang tajam juga begitu mirip dengan mata sendu saya.

Dan masih banyak yang terlalu mirip dengan punya saya.

Saya masih diberi kesempatan untuk menamai ciptaan baru itu.

 

Baiklah.

Saya namakan dia Perempuan.

Dia tersipu mendengarnya.

Kata pencipta, dia menciptakannya dengan mengambil salah satu bagian tubuh saya.

 

Aneh.

Tidak ada sedikit pun rasa kehilangan dari saya.

Padahal hingga kini, cerita dari pencipta saya itu telah berkembang dan banyak meyakini bahwa salah satu rusuk saya diambil untuk menjadikan manusia yang telah diberi nama Perempuan ini.

 

Baiklah.

Kini saya sudah memiliki teman yang sepadan.

Dan kami berdua sama,

Sama-sama manusia,

Tapi dia bernama perempuan.

**************

Flores, 21 april 17,

Untuk wanita yang lahir 21 April.

Tentang Segala Tetek Bengek Teriakan Nenek

 

Saat baru saja keluar dari kamar mandi,

Ibu menyertai saya,

“jangan kencing di kloset! Tidak bagus untuk kesehatan kemaluanmu.”

Ayah yang hendak masuk ke kamar mandi juga menambahkan,

“lain kali jangan berak di sana,

Tidak bagus untuk anusmu.”

 

Saya masih terpaku, menyesal.

Karena air mani dan taik saya ada di sana.

Nenek dengan tertatih turun dari kuburannya, menghampiri kami.

Dengan berteriak dia memarahi kami.

“ Jangan main-main dengan kamar mandi.

 

Suami saya melamarku di sana.

Dan banyak kenangan Bla..bla…bla..

Tutup kamar mandi itu.

 

Hormatilah dia.

Di sana cinta kami tumbuh, rindu kami terukir.”

Lalu segala tetek bengek aturan menjadi wasiat, sebelum nenek naik ke kuburnya.

Saumlaki, Maret 18

Putra Niron, penikmat puisi. Berdomisili di Saumlaki.

 

 

 

Catatan Redaksi
Hengky Ola Sura
Redaksi Seni Budaya VOX NTT

Pertama sejak absen sekitar dua minggu rubrik sastra VOX NTT kembali hadir. Pertimbangan untuk menyeleksi karya-karya yang masuk jadi salah satu pertimbangan paling mendasar.

Pekan ini dua puisi dari Putra Niron jadi serupa pendalaman kepada pemahaman bisa jadi semacam kontemplasi paling luhur tentang sosok bernama perempuan. Pada puisi Manusia itu bernama perempuan, Putra Niron menyajikan satu narasi bernas nan puitis dari deret kata sampai makna dibalik kata-kata yang tersaji. Manusia itu bernama perempuan adalah satu afirmasi tentang kemuliaan Sang Pencipta. Sosok yang hidup karena rusuk sang lelaki tapi lalu jadi perempuan adalah juga satu mujizat yang nyata. Maka ketika membaca keseluruhan puisi ini hemat saya kita diikutkan untuk tidak hanya sekedar memuja keindahan dari sosok bernama perempuan tapi juga memandangnya sebagai wajah paling nyata dari kemuliaan penciptaan.

Pada puisi kedua, sosok  nenek jadi serupa pengganggu yang tak henti-hentinya bicara tentang yang seharusnya dihidupi, dilaksanakan dan jadi seperti sebuah norma. Puisi ini tampak nakal dalam pemilihan kata dan makna sekilas ketika terbaca, toh ia serupa keampuhan merawat tradisi dan lebih dari bisa jadi penghayatan terhadap tatanan dari nilai hidup yang harus terejwantah setiap harinya.

Previous ArticlePelaku Pembuangan Bayi di Helung Sudah Ditahan Polisi, Begini Motifnya
Next Article TPDI Kecewa dengan Polda NTT

Related Posts

Surat Cinta untuk Mama

7 Maret 2026

Cerpen: Mata Tua di Tubuh Bayi Bole Wote

6 Maret 2026

Pendoa Bermata Biru

23 Februari 2026
Terkini

Pelantikan Sekda Ngada Tanpa Persetujuan Gubernur Dinilai Bermasalah

7 Maret 2026

Mari Minum dan Membasuh Diri dari Sumber Air Hidup Kekal

7 Maret 2026

51 Relawan Dapur SPPG Wolowae Ikuti Pelatihan Penjamahan Makanan, Cegah Keracunan MBG

7 Maret 2026

Pemda Manggarai Minta Penghuni Kosongkan Stan Penjual Tuak di Pasar Reo

7 Maret 2026

Satgas Pangan Sidak Pasar, Pastikan Stok Aman dan Harga Stabil di Labuan Bajo Jelang Idul Fitri

7 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.