Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»NTT NEWS»Musibah di Nggela, Wabup Djafar: Asas Gotong Royong Ditegakkan
NTT NEWS

Musibah di Nggela, Wabup Djafar: Asas Gotong Royong Ditegakkan

By Redaksi3 November 20182 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Wakil Bupati Ende, H. Djafar H. Achmad meninjau lokasi musibah kebakaran di Perkampungan Adat Nggela baru-baru ini (Foto: Dok. Pribadi)
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Ende, Vox NTT-Wakil Bupati Ende, H. Djafar Haji Achmad menyebutkan, musibah kebakaran di Perkampungan Adat Nggela mesti dijadikan bahan evaluasi semua pihak. Sebab, musibah kali ini, kata Djafar, dikategorikan sebagai bencana terbesar sepanjang sejarah.

Ia menegaskan, perkampungan adat Nggela dapat dibangun kembali apabila ada intervensi dari semua pihak. Namun paling penting baginya adalah asas gotong royong masyarakat yang diwariskan leluhur sebagai dasar pijak.

“Sepanjang sejarah kampung adat, saya melihat, bencana kampung adat Nggela terbesar di Ende. Nah, ini sebagai bahan evaluasi semua pihak termasuk masyarakat setempat,”ujar Wabup Djafar.

“Kita berupaya terobosan-terobosan baru dengan berkomunikasi dengan Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Pusat untuk membangun kembali. Tapi yang paling penting dan wajib dijalankan oleh masyarakat adalah asas gotong royong,”tegas dia.

Ia mengatakan, agar perkampungan adat itu memiliki nilai magis, maka warisan nenek moyang dipertahankan. Salah satunya adalah membangun perkampungan ada secara gotong royong.

Djafar mengisahkan asas gotong royong para leluhur dahulu di wilayah Lio yang menjadi bagian peradaban. Misalnya tradisi “ghuru mana” yang masih melekat hingga saat ini.

Tradisi itu menjadi sebuah bingkai keberadaan pada konteks strata sosial.

“Orang tidak melihat si A kaya dan si B miskin. Tetapi nilai kebersamaan dalam membangun sebuah perkampungan itu mesti menjadi landasan dalam kehidupan masyakarat di Ende,”imbuh Wabup.

Diketahui, perkampungan adat Nggela, Kecamatan Wolojita, Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur dilanda musibah kebakaran pada Senin, (29/10/2018) sekitar pukul 14.00 Wita. Akibatnya, 33 rumah ludes terbakar diantaranya 22 rumah adat dan sisanya rumah warga dan balai pertemuan.

Kapolres Ende, AKBP Achmad Muzayin menyatakan, tidak ada korban jiwa dalam peristiwa itu. Hingga saat ini, polisi masih melakukan penyelidikan.

Penulis: Ian Bala
Editor: Ardy Abba

Nggela
Previous ArticleKorupsi Dana Bansos NTT: Lagu Lama yang Biasa Kita Nyanyikan
Next Article KMK Se-Undana Gelar Tanam Pohon di Kampus

Related Posts

Keuskupan Agung Ende dan Warga Flores Gugat Tiga SK Geothermal ke Mahkamah Agung

31 Juli 2026

Bantuan Rp100 Juta per Desa Mulai Diimplementasikan, Bapperida NTT Intervensi Manulai 2

20 Juli 2026

Demokrat Manggarai Timur Tanam 250 Pohon dan Bersihkan Pantai Borong

17 Juli 2026
Terkini

Apotek K-24 Resmikan Outlet di Labuan Bajo, Perluas Akses Layanan Kesehatan 24 Jam

4 Agustus 2026

Ketua DPRD Manggarai Timur Minta Agregat Jalan Watu Cie-Deno Dibongkar Jika Tak Sesuai Spesifikasi

4 Agustus 2026

Dua Belas Penundaan Menguji Kemanusiaan Akademik

4 Agustus 2026

ASN di Reok Barat Keluhkan Iuran HUT RI, Camat Sebut untuk Kelancaran Upacara

4 Agustus 2026

Camat Welak Kunjungi Tiga ODGJ di Desa Wewa, Sebut Penanganan ODGJ Jadi Prioritas

4 Agustus 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.