Matheus SN Siagian
>alterntif text

Oleh: Matheus SN Siagian

Pelaku Pariwisata di Mabar

Taman Nasional Komodo (TNK) merupakan magnet bagi Nusa Tenggara Timur. Karena binatang purba itu, masyarakat dunia berbondong-bondong berdatangan ke Labuan Bajo. Tidak hanya itu, seperti yang sudah kita ketahui, Labuan Bajo menjadi salah satu area yang dianggap strategis secara nasional, baik dari sisi Zona Ekonomi Eksklusif, Kawasan Ekonomi Khusus, Kawasan Strategis Pariwisata Nasional, juga zona maritim.

Sejak saya tinggal di sini lebih dari dekade lalu, binatang komodo menarik pula berbagai komunitas pelestarian internasional, di samping para wisatawan yang penasaran dengan makhluk itu. Dengan mata kepala saya sendiri, saya lihat Labuan Bajo yang tadinya berupa pelabuhan pemukiman kecil yang lama-lama berkembang menjadi pusat perdagangan sekaligus pintu masuk masyarakat global ke Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Apa yang ada dalam pikiran mereka? Contohnya, jika orang Jakarta, orang Belanda, pergi ke Labuan Bajo, apa yang mereka cari? Saya rasa jawabannya serupa, binatang Komodo. Hal ini sejalan dengan asil riset Kemenpar tentang persepsi kepariwisataan nasional terhadap Labuan Bajo, yang diadakan tahun 2012 lalu. Identitas Labuan Bajo tak dapat dilepaskan dari identitas kadal raksasa tersebut.

Lindungi komodo! Lindungi komodo! Jaga alam Kepulauan habitat Komodo! Bagaimana dengan manusianya, apakah manusianya boleh punah yang penting komodonya selamat? Dan pertanyaan berikutnya, apakah komodo akan selamat jika manusianya punah?

Saya percaya alam merupakan keseimbangan yang berkesinambungan. Komodo Dragon, binatang purba itu, merupakan identitas yang melekat di mata orang luar Nusa Tenggara bagi masyarakat  Manggarai Barat.

Tak hanya identitas, bahkan komodo diakui merupakan sumber pemasukan, seolah ‘barang jualan’ yang membangun roda perekonomian masyarakat di sekitar Pulau Komodo sampai Labuan Bajo. Hal ini terlihat dari ramainya protes saat wacana kenaikan tiket TNK muncul belakangan ini. Banyak orang protes, bagaimana kita bisa cari makan? Mengapa tidak pro rakyat?

Menanggapi hal itu, saya rasa usaha konservasi merupakan hal yang harus terus dijalankan. Komodo perlu dijaga. Alam perlu dijaga, karena kelanggengan alam dengan manusia  Manggarai Barat  merupakan aspek yang paling penting bagi masyarakat  Manggarai Barat  sendiri. Inilah yang harus kita tilik lebih baik. Bagaimana dengan usaha-usaha yang akan kena pengaruh?

Komodo (Foto: The Sun)

Pertanyaan ini dapat dijawab melalui ekspresi identitas dan ketergantungan berlebih pada industri pariwisata. Kita, masyarakat  Manggarai Barat harus memiliki identitas yang tidak melekat pada kadal raksasa ini. Mari kita lihat Australia, mereka juga punya hewan yang hanya ada di sana, Kangguru dan Koala. Apakah mereka hanya mengandalkan kedua binatang itu sebagai penarik perekonomian? Tidak.

Sydney merupakan kota perdagangan yang industri dan teknologinya mumpuni. Wisatawan bisa saja datang karena koala atau kangguru, namun manusia di sana tidak bergantung sepenuhnya pada dua binatang tersebut. Pariwisata merupakan salah satu industri penting di Australia, namun BUKAN merupakan satu-satunya industri yang ada di sana.

Hal yang sama dapat dilihat pada Cina, kota Sichuan, yang memiliki Panda. Apakah Sichuan akan punah bila tidak ada Panda? Tidak. Ingat Sichuan kita akan ingat kulinernya yang lezat. Padahal, Panda ada di sana. Keberhasilan Sichuan dalam menjadikan Panda binatang yang tidak lagi langka melalui konservasi merupakan hal yang dapat kita adaptasikan dan sesuaikan dengan keadaan kita di Manggarai Barat dengan Komodo.

Bagaimana Caranya?

Jika berbicara dari sudut pariwisata, sebagai sebuah destinasi Labuan Bajo dan sekitarnya dapat membangun identitas-identitas lain yang sudah dimiliki. Kenyataannya, kita harus menyadari dan perlahan-lahan lepas dari keterikatan kita pada kadal raksasa itu. Bagaimana sebagai destinasi kita bisa menjaga sang kadal, sembari menumbuhkembangkan identitas-identitas Manggarai Barat yang terpisah dari komodo; yang sebenarnya sudah ada dan sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan; seperti kebudayaan agrikultur, kuliner dan wastra tenun.

Menurut saya, masyarakat Manggarai Barat harus dapat bertahan dengan atau tanpa komodo. Harus dapat bertahan dengan atau tanpa kenaikan tiket masuk TNK. Komodo memang penting, tetapi bukan segala-galanya.

Komodo saya ibaratkan seperti kopi atau obat kuat, dia memberikan kita tenaga di pagi hari untuk melek dan bekerja. Saya melihatnya lebih sebagai dorongan awal yang dapat memicu hal-hal lain untuk berkembang, sebagai faktor penarik pariwisata. Setelah itu, keberlanjutannya terletak pada bagaimana pariwisata dapat mendorong pertumbuhan ekonomi, pendidikan, dan indeks pembangunan manusia Manggarai Barat.

Saya melihat sejuta potensi di Manggarai Barat yang belum terjamah. Pembangunan dan pengembangan yang terjadi masih berada dalam tahapan awal. Jadi baik atau buruk, semua tergantung arah yang kita ambil; tergantung juga dari regulasi dan penegakan kebijakan yang pemerintah jalankan sebagai pengayom dan pelayan masyarakat.

Untuk itu, kita memerlukan rencana yang didasari studi mendalam yang berkualitas. Aspek kemanusiaan, aspek konservasi, keberlanjutan dan perubahan iklim, semuanya harus dikonsiderasi. Dari sana, kita dapat melahirkan pedoman pembangunan berjangka menengah, 5 – 15 tahun, dengan inisiatif yang dapat menjadi pengungkit dan dapat dimulai dari tahun-tahun pertama. Jangan lebih dari 10 tahun, karena zaman sekarang perkembangan teknologi begitu cepat. Pemerintah yang baik diharapkan dapat mengayomi dan mengguliskan inisiatif-inisiatif tersebut, yang disertai dengan penegakan regulasi yang pro rakyat.

Terkait potensi dan kebudayaan masyarakat, sektor agrikultur pertanian merupakan sektor yang dapat disuntik dengan teknologi baru. Petani Manggarai Barat tidak kalah dengan petani-petani Jawa. Malah, UMR kita jauh di bawah Pulau Jawa Kesempatan ini seharusnya dapat digunakan oleh pemerintah NTT untuk memancing investor-investor berwawasan hijau yang ingin masuk.

Tak hanya itu, sektor primer lainnya banyak sekali yang masih belum dikembangkan. Sektor kelautan, misalnya. Selain pengembangan cold storage dan logistik kualitas ekspor, industri pengolahan hasil laut juga tidak kalah pentingnya. Hal ini meliputi pertanian di laut, terutama rumput laut yang dapat diolah menjadi kosmetik dan obat-obatan. Selain itu, dengan bibir pantai yang luas NTT sangat mungkin jadi penghasil garam di Indonesia.

Intinya, banyak sekali potensi yang belum digarap dan sangat dapat kita garap; baik secara kepariwisataan maupun dengan menilik pada sektor lain. Karena itu, tolong jangan gantungkan identitas daya tarik pariwisata kita di ujung ekor Komodo.

Pemerintah dapat membantu rakyatnya menciptakan diversifikasi daya tarik wisata dengan cara membuat event di musim sepi, atau membuat promosi di dalam dan luar negeri, dengan fokus kebudayaan pertanian dan agrowisata. Segala hal yang masih wacana simpan saja dulu, baiknya dilemparkan ke publik saat sudah direncanakan dengan baik.

Selain itu, pemerintah dapat membantu secara regulasi melalui pembuatan akses dan insentif-insentif yang membantu calon-calon pengusaha Manggarai Barat untuk memulai. Hal ini meliputi akses kepada modal, keamanan investasi dan faktor non finansial seperti proteksi.

2019 diramalkan oleh beberapa ekonom akan menjadi tahun yang buruk untuk perekonomian dunia. Secara alami, sektor pariwisata akan menjadi sektor pertama yang akan merasakan dampak dari memburuknya perekonomian dunia.

Oleh karena itu, hendaknya  Manggarai Barat mempersiapkan diri dengan berdiversifikasi di sektor-sektor lain yang dapat dikembangkan dan sudah kita miliki potensinya. Bisa agrikultur, logistik, pendidikan, perdagangan maupun pengolahan; apapun, agar kita tidak menggantung nyawa di ujung ekor kadal yang terancam punah, menekan habitatnya dan mengeksploitasinya sebagai identitas yang kita tempel paksa kepada diri sendiri.