Beberapa Turis asal Afganistan menikmati sunset di Bukit Cinta. (Foto: Ronis/Vox NTT).

Kupang,Vox NTT- Era kini pasangan kekasih pada usia remaja pun dewasa, paling memburu berbagai lokasi dengan view cantik nan menarik sebagai tempat beradu kasih.

Tak hanya sebagai ruang melunasi dahaga rindu dan beradu kasih, beradu kasih pada lokasi menarik memantik kenikmatan romantis. Keromantisan pada tempat-tempat semacam Bukit Cinta Penfui dengan beautiful sunset dipercaya akan membuat hubungan kian awet.

Sunset dari Bukit Cinta Penfui. (Foto: Ronis/Vox NTT).

Bukit cinta, yang terletak di Pefui Timur, Kecamatan Taebenu Kabupaten Kupang itu memang menjadi salah satu tempat yang direkomendasikan bagi pasangan kekasih. Akibatnya, Bukit penuh cinta itu hampir tak pernah sepi apalagi pada musim rerumputannya sedang hijau. Kala senja paling ramai dikunjungi.

Selain rerumputan hijau dan sunset yang cantik, bekas benteng dan gua peninggalan masa penjajahan Portugis di Timor juga mempertebal alasan para pasangan itu memilih untuk menikmati kasmaran di Bukit Cinta.

Sensa Meo dan Yun Teguh, saat ditemui VoxNtt.com, Sabtu (05/01/2019) di Bukit Cinta mengaku, kerap memilih Bukit Cinta untuk saling melepas rindu karena lokasinya indah dan romantis.

“Ada pohon yang buat sejuk. Juga angin sepoi-sepoi. Asyik saja kalau nongkrong di sini. Apalagi kalau ada sunsite itu bagus kalau foto-foto,” ungkapnya.

Beberapa pasangan muda mudi tengah beradu kasih di Bukit Cinta di Penfui. (Foto: Roni/Vox NTT).

Tak hanya pasangan muda-mudi lokal atau dari sekitar Kupang, ada juga pengunjung dari luar. Tak jauh dari tempat Sensa dan Yun beromantis nampak ada 4 (empat) bule, pengunjung yang berasal dari Afganistan yang kebetulan berada di Kupang.

Mereka pun sering datang ke Bukit Cinta, sekadar untuk menikmati senja sambil melihat pemandangan ke arah Kota Kupang dan juga sekeliling Pulau Timor yang juga sangat tampak jelas dari atas Bukit Cinta.

“We allways come here, good place,” tutur Ali salah satu dari mereka kepada VoxNtt.com.

Selain pasanga muda mudi, penelusuran VoxNtt.com pula menemukan beberapa kelompok mahasiswa yang menikmati senja sambil melakukan diskusi di Bukit Cinta.

Ada kelompok mahasiswa Katolik dari Kampus Undana yang juga memilih Bukit Cinta karena suasana yang sejuk dan juga bisa berdiskusi lepas.

Kelompok Mahasiswa memanfaatkan Bukit cinta untuk berdiskusi. (Foto: Roni Vox NTT).

“Di sini nyaman. Selain karena pemandangannya yang bagus dan asri juga bisa bersapa ria dengan rekan-rekan. Kami pilih untuk diskusi kegiatan organisasi Kampus di sini sudah banyak kali,” ujar salah satu peserta kepada VoxNtt.com.

Pertempuran Penfui Memiliki Sejarah

Nama Penfui dan juga bekas peninggalan sejarah dalam bentuk benteng dan gua-gua ternyata memiliki sejarah massa lalu yang sangat luar biasa.

Sebagaimana dikutip dari berdikarionline.com,  upaya VOC untuk masuk dan menguasai perdagangan cendana terus dilakukan selama kekuasaan Topas. VOC menunggu saat yang tepat untuk meluaskan pengaruh dan kekuasaannya ke pedalaman Timor. Kesempatan itu datang dalam situasi krisis di tahun 1740-an.

Gua peninggalan perang Portugis dengan Belanda di Bukit Cinta. (Foto: Ronis/Vox NTT).

Ketidakpuasan terhadap kekuasaan Topas mulai dirasakan oleh sejumlah kerajaan di sekitar Kupang, terutama menyangkut kontrol mereka atas perdagangan cendana.

Di tahun 1748, raja Amfoan, Dom Bernardo Da Costa, mulai merencanakan pembangkangan. Kerajaan yang selama ini menyata’kan loyalitasnya terhadap Portugis (melalui kekuasaan Topas) tiba-tiba berbalik mendukung VOC.

Ia mendekati VOC untuk meminta dukungan, namun tidak dijawab secara tegas oleh Daniel Van der Burgh selaku residen Kupang. Konteksnya, sejak tahun 1663, kerajaan Portugis dan Belanda telah menyepakati  perdamaian. Namun jauh di belahan benua ini situasinya tidak dapat dikontrol dari Eropa. Ada versi sejarah yang menyebutkan dukungan Van der Burgh secara diam-diam kepada aksi raja Amfo’an.

Singkat cerita, Amfo’an menyerang salah satu pusat kekuasaan Topas di wilayahnya. Pemimpin Topas waktu itu, Gaspar da Costa, sangat marah sehingga bereaksi secara brutal. Ia mengancam para bangsawan Timor untuk tidak mengikuti pemberontak tersebut.

Tapi ancaman ini justeru dilawan dengan bergabungnya kerajaan Amanuban dalam pemberontakan. Da Costa kemudian menangkap seorang saudara raja Sonba’i (kerajaan Fatuleu) dan beberapa pejabat kerajaan lain untuk dijadikan sandera sembari membunuh sekitar 120 orang-orang Sonba’i. Tindakan ini justeru memicu pemberontakan yang lebih luas.

Raja Sonba’i, yang saat itu merupakan raja terkuat di Timor bagian barat, dievakuasi ke Kupang bersama isteri dan anak-anaknya. Mereka dikawal oleh sekitar 2,300 pasukan bersenjata beserta sanak family yang bila ditotal mencapai 10,000 orang. Kedatangan pengungsi dari Sonba’i dan Amanuban ke Kupang disambut gembira oleh VOC.

Gaspar da Costa yang mengetahui hal ini segera menghimpun kekuatan tentara dari kerajaan-kerajaan yang masih loyal dalam jumlah sangat besar untuk menyerbu Kupang.

Menurut arsip VOC, jumlah pasukannya berkisar 30,000 sampai 40,000 orang. Pasukan ini kemudian membangun benteng dari tanah dan bebatuan di Penfui, wilayah yang sekarang menjadi bandar udara Kupang.

Jumlah pasukan yang sangat besar ternyata tidak menjamin kemenangan. Sebagian besar pasukan dari kerajaan-kerajaan setempat tidak merasa berkepentingan dalam perang tersebut. Tanggal 9 Desember 1759, sekitar 500 orang pasukan VOC bersenjata lengkap yang terdiri dari orang Belanda, Rote, Sabu dan Solor, berbaris menuju Penfui.

Dalam jarak tertentu di belakang mereka terdapat pasukan raja-raja Timor yang baru membelot ke VOC. Pasukan VOC membombardir posisi lawan dan mulai menyerbu. Serangan tiba-tiba ini mengejutkan pasukan Gaspar Da Costa. Sebagian besar dari pasukannya melarikan diri, sementara ribuan prajurit yang masih tinggal habis dibunuh. Konon, Gaspar da Costa sendiri menemui ajal ditombak oleh seorang prajurit Timor.

Setelah puing-puing benteng bekas pertempuran itu, kini, bekas peninggalan berupa benteng-benteng itu masih berebaran dari Penfui, yang kini menjadi bukit Cinta hingga oesapa.

Benteng-benteng itu kini masih ditemukan di sekitar bukit cinta dengan kondisi yang sudah rusak sebagian dan juga tertutup tanah. Juga terdapat gua peninggalan perang massa lalu itu yang kini masih ada dibagian tengah Bukit Cinta.

Penulis: Ronis Natom

Editor: Boni J