Yoss Gerard Lema

(Catatan Kecil  Untuk Gubernur Victor Laiskodat)

Oleh: Yoss Gerard Lema *)

Menggali Lokalogi

Saya sengaja bercerita tentang indahnya Sunset, Purnama dan Sunrise untuk menunjukan kepada semua orang bahwa NTT memiliki potensi wisata beragam dan tak terhitung jumlahnya.

BACA Ulasan Sebelumnya: Menikmati Pariwisata NTT Saat Sunset, Purnama dan Sunrise (Part 1)

Sejak matahari terbit (sunrise) sampai matahari terbenam (sunset), bahkan saat bulan purnama  anda bisa menikmati panorama cantik dan sedap dipandang.

Karena pariwisata NTT tidak sebatas garangnya buaya komodo atau cantiknya danau kelimutu atau perang tanding Pasola di Sumba dan penangkapan ikan paus.

Karena NTT yang terdiri dari pulau Flores, Sumba, Timor, Alor, Rote, Sabu, Lembata, Adonara, Solor dan pulau-pulau kecil lainnya sangat kaya akan budaya, panorama alam yang indah, unik dan beragam.  Sehingga ketika Gubernur NTT Victor Bungtilu Laiskodat dan Wakil Gubernur Yoseph Naisoi mencanangkan Pariwisata sebagai leading sector, maka inilah cara berpikir seorang pemimpin yang ‘out of the box’.

Cara berpikir seperti ini mungkin saja karena sang pemimpin telah melihat realitas  adanya trend masa keemasan pariwisata yang kini melanda dunia.

Cara berpikir senekat ini pastilah karena sang pemimpin sadar betul bahwa daerah yang dipimpinnya mempunyai potensi wisata terunik, berkelas dan jempolan. Sekaligus Victor Laiskodat  dan Yos Naisoi mau mengatakan kepada seluruh rakyat NTT bahwa mereka berdua lebih mengenal jati diri rakyatnya dari pada politisi yang lain. Pada saat bersamaan keduanya mau mengatakan bahwa NTT adalah sorga pariwisata yang sesungguhnya.

Sedangkan sektor lainnya, seperti pertanian, peternakan, perikanan, perdagangan, koperasi dan UKM, perbankan, teknologi informasi, kerajinan, dll juga wajib dibangun untuk mendukung parawisata sebagai lokomotif pembangunan ekonomi NTT.

Karena itu, sebelum memulai, wajib hukumnya untuk menggali lokalogi di bidang pariwisata. Gali apa sebenarnya yang ada pada rakyat kita. Gali semua kekuatan potensi pariwisata kita. Dimulai dari manusia dan budaya yang menyertainya, alamnya, kulinernya, lagu-lagunya, tariannya, pantainya, gunungnya, sungai dan air terjunnya, pohon, bunga-bunganya, batu-batunya, dll.

Mereka yang dipercaya memotret lokalogi adalah orang- orang pilihan yang paham parawisata. Paham trend parawisata ke depan, minimal dua puluh lima tahun kedepan.

Mereka adalah pegiat parawisata, masyarakat kampus, bahkan turis dalam dan luar negeri, guide professional dan siapa saja yang komitmen memajukan pariwisata NTT.  

Dari potret yang dihasilkan barulah kita tahu apa sesungguhnya kekuatan kita. Seperti apa indah dan uniknya budaya kita. Sumba, negeri dalam dongeng, sebagus dan seunik apakah warisan nenek moyang kepada anak cucu. Begitu juga Alor, Lembata, Adonara, Solor, Flores, Timor, Sabu, Rote, Samau dan pulau-pulau kecil lainnya.

Tim lokalogi akan memotret realitas dengan lensa jernih, mengandalkan profesional mereka dalam bidang parawisata. Melihat segala sesuatu dengan rasa, mata batin, dan feeling sebagai seorang parawisata sejati. Sebab potret yang dihasilkan akan menentukan masa depan para jelata di Bumi Flobamora tercinta.

Saya berharap dari panorama alam tim lokalogi akan menemukan spot-spot baru yang terindah dan unik. Apakah menemukan pantai berpasir putih, atau spot keindahan di seluruh pegunungan NTT. Konon, perbukitan Camplong, TTS, TTU, Belu dan Malaka memilki sangat banyak spot terindah. Suhunya sejuk dan dingin, bahkan di tempat-tempat tertentu selalu turun hujan salju. Timor yang kering kerontang ini ada wujud alam seperti di Eropa?  

Jika ada kurang percaya sebaiknya Ttnya kepada Insinyur Dody Tibuludji. Seorang sarjana pertanian lahan kering alumni Fakultas Pertanian Undana. Dody telah membudidaya bunga-bunga dari dataran tinggi. Kebunnya seluas sekitar satu hektar kini jadi obyek wisata, ada saja orang yang datang ke tempatnya untuk membeli bunga sambil berselvy ria.

Kebun bunga yang indah itu kini jadi tempat praktek mahasiswa pertanian. Karena bisnis bunga daratan tinggi kini mulai merajai permintaan pasar saat acara kematian, pernikahan, pelantikan, permintaan hotel, namun sayangnya belum diminati kantor-kantor pemerintah. Ko..??  

 Infrastruktur

Berbekal rekomendasi yang dibuat tim lokalogi barulah gubernur dan DPRD di tingkat propinsi, serta Bupati/Walikota dan DPRD di kabupaten/kota bersepakat untuk membangun infrastruktur.

Tulisan ini mengandaikan Gubernur Victor dan Wakil Gubernur Yos Naisoi mampu meyakinkan semua bupati/walikota, serta anggota DPRD propinsi, kabupaten/kota untuk satu kata dan perbuatan membangun pariwisata. Sebab membangun parawisata pasti butuh dana besar. Kita harapkan dukungan dana besar dari pemerintah pusat, tetapi semua itu sangat tergantung argumentasi gubernur ke pemerintah pusat.  

Ruas jalan menuju Elar Selatan, Manggarai Timur yang putus total akibat longsor (Foto: Istimewa)

Ini berarti infrastruktur jalan ke obyek-obyek wisata yang direkomendasikan tim lokalogi wajib dibangun. Jalan yang dibangun harus memenuhi standar mutu terbaik. Karena jalan ini akan dinikmati wisatawan dalam dan luar negeri. Coba bayangkan bahwa untuk sampai ke daerah kita mereka telah menempuh jarak ribuan mil menggunakan pesawat atau kapal laut dan mobil. Mereka telah mengeluarkan biaya sangat besar. Maka rasanya sangat pantas apabila fasilitas jalannya untuk mereka haruslah yang terbaik.

Selain infrastruktur jalan maka yang wajib dibangun adalah bandara. Bandara Eltari di Kupang mungkin perlu dikaji ulang. Akankah dipindah ke tempat lain yang lebih representasi. Begitu juga bandara-bandara lain di seluruh NTT harusnya dikaji ulang. Hal yang sama juga berlaku untuk dermaga-dermaga, apakah fasilitasnya harus dilengkapi. Bahkan pada titik-titik strategis ke obyek wisata menonjol harusnya dibangun dermaga yang memungkinkan kapal-kapal pesiar bisa sandar. Labuan Bajo, Ende, Larantuka, Alor dan Sumba. Sebab potensi wisata yang dimiliki daerah-daerah ini sangat unik. Contohnya, komodo, danau kelimutu, Samana Santa dan perburuan ikan paus, panorama bawah laut di Alor, serta perang tanding dan budaya megalitik di Sumba.

Infrastruktur lainnya yang mesti dibangun adalah listrik dalam skala besar, sedang dan kecil. Berarti listrik tenaga angin, tenaga surya dan tenaga air harus jadi alternative.  Kenapa? Karena kadang potensi-potensi wisata itu berada di daerah terpencil. Seperti gunung, bukit, kampung-kampung, bahkan pulau-pulau kecil. Banyak wisatawan suka panorama alam yang indah dan natural. Suka penduduk yang ramah, dengan senyum yang selalu mengembang dan tidak terusik dan usil dengan budaya para wisatawan yang serba transparan.

Ruas Jalan Pantura Flotim, jalur Kawaliwu-Lato. Tanggul pelindung badan jalan yang jebol belasan tahun namun tak kunjung diperbaiki. Tanggul pelindung badan jalan yang rusak diperkirakan mencapai 50-an meter. Tampak dalam gambar badan jalan hanya dihiasi lapisan tanah berdebu. (Foto: Sutomo Hurint/VoxNtt.com)

Obyek wisata yang indah, ditambah keramahan penduduknya bikin wisatawan betah berlama-lama dan pasti akan kembali dengan rombongan lebih besar. Karena sangat jarang wisatawan kembali hanya karena tertarik pada sebuah tarian adat atau lagu daerah. Bagi mereka itu terlalu mahal. Tapi wisatawan akan datang kembali ketika dia rindu pada suasana yang membekas di hati ketika pertama dia datang. Itu saja.

Yang juga wajib dibangun pemerintah adalah air. Kota-kota atau tempat wisata harus dipastikan cukup airnya. Tidak boleh ada keluhan air di hotel atau di obyek wisata. Karena itu menemukan sumber mata air baru harus dilakukan. Contohnya kota Kupang, sampai hari ini masih memprihatikan. Padahal Kupang sebagai ibu kota propinsi NTT harusnya menjadi contoh bagi kota-kota lainnya. Selain airnya selalu kurang bagi warganya, Kupang juga dikenal sebagai kota yang jorok. Padahal sebuah kota atau daerah sangat digandrungi wisatawan salah satu alasannya karena bersih.

Lihatlah ke got-got, jalan utama, tempat pembuangan sampah (TPS), kompleks perumahan, dll sangat banyak sampah dan menjadi tempat pembiakan bibit penyakit. Apalagi saat musim hujan sekarang ini. Mengerikan dan menjijikan sekali. Lalu coba lihat sampah-sampah sepanjang bibir pantai, mulai dari Tenau sampai di Lasiana, oooh minta ampun joroknya.

Sampah menumpuk di salah satu selokan jalan Timor Raya, Kota Kupang (Foto: Sandry/VoxNtt.com)

Saran saya, Walikota Jefry Riwu Kore dan Wakil Walikota Herman Man tidak perlu berpikir rumit, cukup dengan mengadopsi cara kerja Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok saat dia membersihkan kota Jakarta. Bentuk pasukan di luar pasukan kuning, yaitu pasukan Biru, Hijau, merah, coklat, dll untuk berbagai peruntukan. Karena tugas pemimimpin adalah melayani rakyat. Lalu bagaimana membiayanya semua pasukan yang dibentuk itu, seorang walikota dan wakil walikota seharusnya sebelum  maju sudah punya konsep dan program.

Bila Kota Kupang kebersihannya masih minus, lalu bagaimana dengan kota-kota lainnya. Inilah tugas berat dan hebat yang harus dilakukan seorang Gubernur Victor dan Wakil Gubernur Yos Naisoi untuk berdiri di barisan terdepan. Bupati di seluruh NTT dan Walikota Kupang wajib berdiri di belakang gubernur dan wakil gubernur untuk kebersihan kotanya. Saya percaya karakter tegas dan berani seorang Gubernur Victor Laiskodat akan memberi harapan besar bahwa kota-kota di NTT akan jadi bersih, nyaman dan teduh, baik pada musim kemarau maupun hujan.

Dan seorang teman menitipkan pesan kepada Walikota Kupang, katanya seharusnya kota Kupang senantiasa berbunga sepanjang tahun. Syaratnya, cukup tanam tiga tanaman, yaitu pohon sepe atau flamboyant yang berbunga merah segar di sepanjang jalan-jalan utama dalam kota, dimulai dari Bandara Eltari sampai ke huk huk kota.

Bunga sepe di Jl. El Tari II, depan Komunitas Keuskupan Agung Kupang (seberang Taman Nostalgia), Kupang (Foto: edyraguapo.blogspot.com)

Bunga sepe akan berbunga indah  pada oktober sampai februari. Bayangkan satu kota berbunga merah sepe nan indah, menyambut hari lahir NTT 20 Desember, menyambut kelahiran Tuhan Yesus Kristus pada 25 Desember dan menyambut suka cita tahun baru pada 1 Januari. Masuk akalkan?

Selanjutnya, antara bulan Maret sampai Agustus, konon bogenfil aneka warna,  yaitu merah, putih, kuning, jingga, dll akan membuat kota Kupang sedap dipandang mata. Yang pasti para milenial akan berselvy ria di taman-taman kota. Lalu yang ketiga adalah bunga oliyander dengan aneka warna. Kata teman itu, oliyander selaku berbunga sepanjang tahun. Dan ketiga bunga itu akan bikin kota Kupang lebih sexy, genit dan penuh aksi. Eheem..eheeem.

Masyarakat Pariwisata

Kampanye NTT menjadi tujuan wisata mesti dilakukan secara gencar. Apalagi pada masyarakat yang daerahnya ada obyek wisata. Orang Bali adalah contoh. Bagaimana pemerintah, tokoh adat, tokoh agama, pemuda, tokoh perempuan, dll saling bersinergi. Mereka menerima semua wisatawan dari berbagai negara, namun adat budaya masyarakatnya tidak tergerus. Bahkan banyak wisatawan justru terpesona pada budaya Bali. Sebagian memilih menetap di Bali, banyak pula yang menikah dengan orang Bali atau warga Indonesia lainnya.

Nusa Tenggara Barat (NTB) juga sama. Ribuan wisatawan setiap hari datang ke kota Mataram. Saya pernah datang ke daerah wisata Gili Air, sebuah pulau kecil mungkin seperti pulau Kera. Ribuan wisatawan bule, Negro, Cina, Latina, dll ada di sana. Mereka menikmati pasir putih yan indah. Wisawatan perempuannya terlihat sangat sexy tanpa penutup dada sambil menantang matahari sambil menggeliat diatas pasir. Tapi semuanya baik-baik saja. Orang-orang pribumi, laki perempuan melayani mereka dengan ramah. Bahkan ibu-ibu tua bercakap-cakap dengan wisatawan dalam bahasa Inggris. Aku hanya bisa tersenyum.

Belajar dari Bali, NTB, Yogya, masyarakat Samosir, dll seharusnya rencana besar Gubernur dan Wakil Gubernur mendapat dukungan dari semua stekholder.  Kuncinya pemerintah harus terbuka pada masyarakatnya. Agar semua pihak mau bergotong royong mempersiapkan masyarakat. Sebab goal yang diinginkan adalah menjadi tuan rumah yang baik. Tuan rumah yang mau mengerti budaya tamunya. Tuan rumah yang bersyukur kedatangan tamu dari negeri yang jauh. Dan inilah point penting yang harus disadari sejak awal. Sebab arus besar budaya asing seperti ‘air bah’ akan masuk ke Bumi Flobamora. Tapi kalau semuanya telah dipersiapkan secara baik dan bijak kenapa harus takut? Percampuran dan senyawa budaya akan membuat sesuatu yang indah. Itulah parawisata.

Karena itu lihatlah NTT lima atau sepuluh atau tiga puluh tahun ke depan. Hotel-hotel berbintang akan membanjiri kota-kota di seluruh NTT. Tapi jangan serakah, berikan keadilan bagi rakyat jelata di desa-desa sebab mereka yang empunya semua keunikan itu. Kembangkan  sejak dini Desa Wisata. Biarkan orang desa membangun bungalow-bungalow kecil dengan bahan lokal menurut arsitektur adatnya.

Begitu juga restoran desa yang menyajikan makanan racikan mama-mama desa. Artinya bahasa Inggris, Cina, Mandarin, Jepang, Korea dan lain-lain sedikit-sedikit mesti dipahamani orang desa. Apalagi soal money and money. Sebab apapun yang dilakukan pemerintah pada akhirnya harus berdampak pada peningkatan ekonomi dan kesejahteraan rakyatnya.

Wagub NTT, Josef A. Nae Soi saat memotong Kue Tar dari Kelor saat meresmikan Resto Kelor dan Jamur di Taman Dedari, Sikumana, Kota Kupang, Selasa 13 November 2018. (Foto: Dok. Humas NTT)

 

Oleh karena itu, internet (wifi) wajib masuk keseluruh obyek wisata. Biarkan orang desa melek dunia luar. Biarkan parawisata benar-benar jadi lokomotif pembangunan ekonomi NTT akan akan menarik gerbong panjang sektor dan sub sektor lain seperti pertanian, peternakan, perikanan, koperasi, kerajinan, perhubungan, hortikultura, dll. Satu hal yang pasti bahwa internet akan mencipta youtubers-youtubers baru dari desa. Mereka akan mempromosikan obyek wisata desanya dalam bahasa Inggris patah-patah. Heeebat khan..??

Akhirnya, proficiat buat Gubernur Victor Laiskodat dan Wakil Gubernur Yos Naisoi. Salut  untuk keberanian kalian berdua. Kalian adalah pemimpin yang berpikir ‘Out of The Box’.

Semoga cara berpikir kalian merasuk kedalam hati dan sanubari seluruh jajaran. Karena ini ‘Kerja besar, Kerja cerdas, Kerja bersama’ butuh komitmen seluruh jajaran pemerintahan di semua level, serta partisipasi semua stakeholder dan masyarakat. Salam dan doa…amiiin.

*) Penulis adalah Wartawan, Penulis, Novelis, tinggal di Kota Kupang.