Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»KESEHATAN»Akhir 2018 hingga Awal 2019, Tercatat 83 Kasus DBD di Ngada
KESEHATAN

Akhir 2018 hingga Awal 2019, Tercatat 83 Kasus DBD di Ngada

By Redaksi22 Januari 20193 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Ilustrasi nyamuk Demam Berdarah Dengue (DBD)
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Bajawa, Vox NTT-Dinas Kesehatan  (Dinkes) Kabupaten Ngada mencatat telah terjadi 83 kasus penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD)  pada akhir tahun 2018 hingga awal 2019.

Kasus DBD tersebut tersebar di beberapa kecamatan di Kabupaten Ngada.

“83 Kasus ini merupakan akumulasi dari kejadian di akhir tahun 2018 hingga awal Januari 2019. Data yang diterima Dinkes Kabupaten Ngada, per 20 Januari 2019, ada 9 pasien DBD sedang dirawat di RSUD Bajawa,” jelas Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Ngada, Agustinus Naru saat ditemui wartawan di ruang kerjanya, Senin (21/1/2019).

Agustinus mengatakan, ke-83 kasus DBD tersebar di beberapa puskesmas yakni Puskesmas Aimere 31 kasus, Puskesmas Koeloda 11 kasus, Puskesmas Surisina 29 kasus, Puskesmas Inerie 2 kasus, Puskesmas Waepana 6 kasus, Puskesmas Watukapu 1 kasus, Puskesmas Watumanu 1 kasus, dan Puskesmas Kota terjadi 2 kasus.

Dari 83 pasien demam yang diakibatkan oleh gigitan nyamuk Aedes Aegypti tersebut, beber dia, dua di antaranya meninggal dunia.

Kata Agustinus, satu korban meninggal pada akhir Desember 2018. Ia adalah anak berusia 3 tahun dari Aimere.

Sedangkan, satu korban anak lainnya dari Koeloda. Ia meninggal akibat DBD minggu kedua Januari 2019.

Menyikapi kasus DBD ini, kata dia, tim Dinkes Kabupaten Ngada telah melakukan serangkaian tindakan pencegahan sesuai prosedur kesehatan yang ada.

Itu antara lain; tim Dinkes langsung ke wilayah kejadian untuk menggerakan 3M plus, melakukan survey jentik, melakukan abatesasi atau pemberian bubuk abate, serta Foging.

Agustinus menjelaskan, foging atau pengasapan bertujuan untuk membunuh nyamuk dewasa. Foging ini sudah dilakukan di lokasi Seminari Mataloko, Kelurahan Faobata dan beberapa wilayah dalam Kota Bajawa.

Menurut dia, foging belum dilaksanakan secara menyeluruh karena keterbatasan alat.

“Kita hanya memiliki dua alat foging, namun upaya terus dilakukan dengan bantuan pinjaman dua alat foging dari Kabupaten Nagekeo yang tiba Senin, 21 Januari 2019 dan akan langsung beroperasi di wilayah Kecamatan Aimere dengan jumlah kasus DBD terbanyak saat ini,” ujarnya.

Menurut Kadis Agustinus, penyebaran kasus DBD di Ngada berlangsung cukup cepat.

Sebab itu, pihaknya telah mengintruksikan semua puskesmas dan berkoordinasi dengan Lurah dan Camat untuk mendorong masyarakat melakukan gerakan 3M plus, menjaga kebersihan lingkungan sekitar dan melaporkan adanya kasus DBD kepada petugas puskesmas terdekat.

Ia mengharapkan kerja sama semua stakeholder untuk meningkatkan kesadaran masyarakat. Itu terutama agar bersama-sama mencegah penyebaran kasus DBD ini.

DBD, menurut Agustinus Naru, adalah salah satu penyakit menular. Nyamuk sebagai vektor penular DBD melalui gigitannya.

Sementara Kabid P2P Dinkes Ngada, Agung Artanaya mengatakan, kejadian DBD cenderung meningkat pada musim penghujan.

Hal itu karena curah hujan dapat meningkatkan tempat -tempat perkembangbiakan nyamuk penular DBD.

“Jentik nyamuk DBD cenderung hidup pada tempat penampungan air yang bersih dan berada dalam lingkungan rumah. Oleh karena itu disarankan kepada masyarakat Ngada agar selalu menguras atau membersihkan tempat penampungan air. Menutup rapat tempat penampungan air dan mengubur barang bekas yang berpotensi sebagai tempat berkembangnya jentik nyamuk DBD,” katanya.

Selain itu, tindakan pencegahan lainnya adalah menaburkan bubuk abate pada tempat penampungan air, terutama yang sulit dibersihkan. Lalu, menggunakan obat nyamuk atau anti nyamuk, menggunakan kelambu, serta menghindari kebiasaan menggantung pakaian di dalam rumah yang dapat menjadi tempat singgah nyamuk DBD.

 

Penulis: Arkadius Togo
Editor: Ardy Abba

 

DBD DBD Mabar DBD TTS
Previous ArticleKejari Ende Tahan Dirut PDAM dan Staf Penagihan
Next Article Gubernur NTT Minta Jumlah Dana KUR Diperbesar

Related Posts

RSUD Aeramo Luncurkan Inovasi Layanan “Bahagia Kita”

4 Maret 2026

RRI Labuan Bajo dan Plataran Komodo Gelar Donor Darah, Perkuat Aksi Kemanusiaan di Manggarai Barat

3 Maret 2026

NTT Dapat 7 Dokter Spesialis di Batch Ketiga, Pemprov Siapkan Skema Penempatan dan Dukungan Pengabdian

27 Februari 2026
Terkini

Cerpen: Mata Tua di Tubuh Bayi Bole Wote

6 Maret 2026

Tanah Ulayat, Identitas, dan Derita Sosial

6 Maret 2026

Desa Golo Riwu Tetapkan APBDes Tahun Anggaran 2026, KMP dan MBG Jadi Fokus Utama

6 Maret 2026

Rote Ndao Siap Jadi Tuan Rumah Selancar Ombak PON 2028

6 Maret 2026

Polres Manggarai Limpahkan Dua Tersangka Kasus Narkotika ke Kejaksaan

6 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.