Ibu Sisilia menunjuk Kartu Indonesia Sehat (KIS) yang diperolehnya dua minggu lalu (Foto : Ian Bala/Vox NTT)

Ende, Vox NTT-Sisilia Sina (62), warga RT 01/RW 02, Kelurahan Kotaratu, Kecamatan Ende Utara, Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur, merupakan salah satu warga yang tak pernah mendapatkan bantuan pemerintah selama 38 tahun.

Tak hanya bantuan di bidang pendidikan dan kesehatan, kebutuhan primer seperti sandang, pangan dan papan juga tak ia rasakan.

Padahal, Sisilia sudah menjanda selama 10 tahun. Ia ditinggalkan sang suaminya Fransiskus Siku, karena menderita struk.

Mereka dikaruniai lima orang anak, yang sebagiannya sudah berkeluarga. Saat ini, Sisilia tinggal bersama tiga anaknya di rumah reot dan cukup memprihatinkan.

Kondisi dapur di rumah ibu Sisilia Sina (Foto : Ian Bala/Vox NTT)

Rumah semi permanen yang terdapat empat kamar itu semuanya berlantai tanah. Dinding rumah yang terbuat dari gedek tersebut sudah tampak lapuk dan rusak. Belum lagi, kondisi atap yang mayoritas bolong termakan usia.

“Saat hujan, kita berpindah-pindah. Ya, cari tempat yang aman,”ucap wanita tua itu.

Kediaman Sisilia memang agak sedikit tertutup pepohonan di Jalan Perwira, Kota Ende. Jaraknya, sekitar 20 meter dari jalur jalan itu.

Sementara, jarak dari Kantor Lurah Kotaratu tidak seberapa. Diperkirakan hanya 40 meter.

Setiap hari, rumah ibu lima anak ini memang cukup ramai. Ramainya itu karena kedua anak laki-lakinya membuka usaha perbengkelan motor.

Bengkel itu dibuka persis di depan rumah mereka. Warga terutama orang muda di Ende kerap kali memperbaiki atau memodifikasi kendaraan di bengkel itu.

Sisilia adalah seorang ibu rumah tangga biasa. Sejak suaminya masih hidup sebagai tukang kayu, mereka bertekad untuk menyekolahkan kelima anak hingga gelar sarjana.

Usaha itu pun tak tercapai semuanya. Hanya dua anak yang lulus sarjana dan tiga anak lainnya lulus SMA.

Setelah sang suaminya meninggal dunia, kehidupan Sisilia hanya berpasrah. Ia sama sekali tak memikirkan rumah mereka yang sudah dalam kondisi memprihatinkan itu.

Sisilia mengaku, pemerintah setempat tidak pernah memberikan sumbangan material untuk memperbaiki rumah itu. Padahal, keberadaan Kantor Lurah Kotaratu tidak jauh dari rumah mereka.

“Pemerintah tidak pernah data kami di sini. Sumbangan-sumbangan juga kami tidak dapat,” ucap Sisilia.

Untuk jaminan kesehatan, Sisilia beruntung karena mendapat Kartu Indonesia Sehat (KIS), program dari pemerintahan Joko Widodo, meski ia mengaku baru diperoleh dua minggu lalu.

Ia menceritakan, biaya pemeriksaan kesehatan sebelumnya dibiayai sendiri dari hasil usaha kedua anaknya itu. Setelah mendapatkan kartu KIS, akhirnya dia bisa diperiksa gratis di puskesmas terdekat.

Ia berharap, kondisi keluarganya saat ini dapat diperhatikan lebih oleh negara. Baik perumahan maupun jaminan kesehatan.

Harapan itu juga diungkapkan Kristina S.D. Wonga, menantu dari Sisilia. Kristina mengaku sejak 2006 mereka tidak mendapatkan bantuan apapun dari pemerintah.

“Kita mencari sendiri. Sumbangan beras raskin atau apapun kita tidak dapat. Tapi kami tetap bersyukur dengan keadaan ini,” ucapnya.

Kondisi rumah Sisilia yang memprihatinkan itu, mendapat respon baik dari grup motor trail Ende, Alva Speed. Grup motor yang hanya beranggota tujuh orang ini berpatungan membeli semen untuk rehabilitasi rumah Sisilia.

Protret Sisilia Sina (62) saat berada di kediamannya, Kelurahan Kotaratu, Kecamatan Ende Utara, Kabupaten Ende, NTT (Foto : Ian Bala/Vox NTT)

Grup motor Alva Speed dibawa pimpinan Sefnad Eduard itu telah menyumbang 10 sak semen. Tak hanya itu, mereka juga bergotong merenovasi rumah Sisilia.

“Kita hanya bermodal patungan saja. Ada rejeki kita kumpul dan bantu mama Sisilia,”kata dia.

“Kita juga nanti akan bantu seng juga,” sambung Sefnad, salah satu anggota dari Kepolisian Resor Ende.

Garis Kemiskinan Ende Tertinggi di Flores

Badan Pusat Statistik telah merilis masalah kemiskinan di NTT. Tercatat, Garis Kemiskinan (GK) Kabupaten Ende tahun 2018 tertinggi di daratan Flores-Lembata yakni Rp 358.986 per bulan per kapita.

Urutan berikut ditempati Kabupaten Lembata yakni Rp 353.957 perbulan per kapita, Kabupaten Ngada Rp 331.266 per bulan per kapitan, Kabupaten Nagekeo Rp 323.316 per bulan per kapita.

Kemudian disusul Kabupaten Manggarai Timur Rp 313.593 per bulan per kapita, Kabupaten Manggarai Barat Rp 313.380 per bulan per kapita dan Kabupaten Manggarai yakni Rp 311.833 per bulan per kapita.

Sedangkan Kabupaten Sikka pada urutan kedelapan yakni Rp 298.332 perbulan per kapita dan posisi terakhir Kabupaten Flores Timur yakni Rp 281.757 per bulan per kapita.

Berdasarkan catatan BPS, penduduk miskin di Kabupaten Ende pada tahun 2018 sebanyak 66.014 orang atau 24,20 persen dari total seluruh penduduk Kabupaten Ende.

Angka ini naik 909 orang ketimbang jumlah penduduk miskin pada hasil survei tahun 2017 yakni sebanyak 65.105 orang atau 23,95 persen.

Penulis : Ian Bala

Editor: Irvan K