Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Ekbis»Petani di Sok Matim Kesulitan Pasarkan Hasil Panen
Ekbis

Petani di Sok Matim Kesulitan Pasarkan Hasil Panen

By Redaksi2 Maret 20192 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Hasil jagung milik Kasmir Egot di Sok Kabupaten Manggarai Timur yang kesulitan dipasarkan (Foto: Sandy Hayon/ Vox NTT)
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Borong, Vox NTT-Para petani jagung di Kampung Sok, Desa Compang Ndejing, Kecamatan Borong, Kabupaten Manggarai Timur (Matim) kesulitan memasarkan hasil panennya.

Kasmir Egot (56) salah sorang petani di kampung itu, mengaku hasil panen yang berlimpah, namun bingung pemasarannya.

“Saya punya setiap kali panen jagung hasilnya dua ton, tapi bingung mau jual ke mana,” kata Kasmir saat ditemui VoxNtt.com, Sabtu (2/3/2019) sore.

Di Kampung Sok, kata dia, hasil panen yang berlimpah sangat bergantung pada luas lahan. Bahkan beberapa petani hasil panennya mencapai belasan ton.

“Semua orang hasilnya beda-beda di sini ada yang 5 ton bahkan belasan ton bagi orang-orang tertentu. Hanya harganya begitu saja setiap tahun,” ungkapnya.

Namun, ketiadaan tempat pemasaran lantas membuat mereka memilih menjual hasil panennya itu kepada para tengkulak dengan harga yang murah.

“Bahkan ketika ada banyak yang cari harganya turun drastis dan kami terpaksa menjualnya dengan harga Rp 2.500 per kilogram (kg),” ujarnya.

Kasmir menambahkan, harga jagung di kampung itu biasanya berkisar Rp 3.000- Rp.3.800 untuk setiap kilogramnya. Namun, harga itu pun tidak sesuai dengan harapan para petani.

“Karena tidak tahu harus dipasarkan ke mana?” keluhnya.

Dia berharap agar pemerintah daerah membantu mereka dalam pemasaran hasil panen yang mereka peroleh.

“Saya berharap agar pemerintah membantu kami untuk bisa pasarkan hasil panen kami kepada orang-orang yang pemerintah tentukan. Biar harganya sesuai serta sesuai dengan jeri payah kami saat kerjakan kebun,” tukasnya.

Penulis: Sandy Hayon
Editor: Ardy Abba

Manggarai Timur Petani Jagung
Previous ArticleKak Seto Ajak Masyarakat Selalu Pakai Kain Tenun NTT dalam Setiap Hajatan
Next Article Ruangan Pastoran Paroki Tanggar Terbakar

Related Posts

Isno Baco Ajak Warga Desa Pinggang Berpolitik “Riang Gembira” pada Pilkades 2026

2 Juni 2026

Maju Pilkades Loce, Wilibrodus Rian Usung Penguatan Pertanian hingga Wisata Budaya

1 Juni 2026

Teodorus Weke Gelar Ritus Adat dan Minta Restu Leluhur Jelang Pilkades Wae Mulu

28 Mei 2026
Terkini

Menteri Transmigrasi RI Serahkan Bantuan Sembako untuk Masyarakat Translok di Manggarai Barat

4 Juni 2026

Alarm dari Kupang: Reformasi Radikal Pengendalian PAD

4 Juni 2026

Pemkab Manggarai Barat Usulkan Satgas Perizinan untuk Perkuat Pengawasan Usaha

4 Juni 2026

Menteri Transmigrasi RI Tinjau Pembangunan Sanitasi dan Lokasi HPL di Manggarai Barat

4 Juni 2026

Kejari Manggarai Barat Pulihkan Kerugian Negara Rp2,09 Miliar dari Dua Kasus Korupsi

4 Juni 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.