Calon Presiden nomor urut 01 Joko Widodo (Foto: news.lentera.co.id)

Kupang, Vox NTT-Selain disorot karena tidak menyinggung angka kematian TKI asal NTT yang terus meningkat, Jokowi juga dikritik lantaran tidak menyinggung masalah lingkungan dan perampasan ruang hidup rakyat.

Tak Singgung Masalah TKI, Kampanye Jokowi di Kupang Disorot

Padahal masalah-masalah ini tengah menjadi persoalan serius yang harus diangkat ke ranah kebijakan nasional.

Selain itu, NTT juga merupakan daerah tertinggal yang menjadi misi utama pembangunan Jokowi sejak mencalonkan diri pada pemilu 2014 silam.

Emak-emak tampak setia mendengarkan pidato Jokowi di lapangan Sitarda, Kota Kupang Senin 08 April 2019

Namun berbagai masalah tersebut sama sekali tidak disinggung dalam pidato Jokowi dalam kampanye terbuka di lapangan Sitarda, Kota Kupang hari ini. Jokowi hanya memamerkan 7 bendungan yang dibangunnya selama 4 tahun terakhir di NTT.

“Pertama, Jokowi-Ma’ruf tidak melihat persoalan krisis akibat pariwisata masal yang merampas ruang hidup nelayan dan privatisasi pesisir pantai bahkan hingga Poro Duka menjadi korban sebagai persoalan serius untuk dievaluasi, lalu diperbaiki,” ujar Melki Nahar, direktur kampanye JATAM kepada VoxNtt.com, Senin (08/04/2019).

Selain itu, Jokowi-Ma’ruf juga tidak menganggap persoalan Geothermal yang menjadikan Flores sebagai pulau panas bumi, dimana telah terbukti menghancurkan ruang hidup rakyat sebagai kebijakan yang salah, dan menjadi penting untuk dihentikan.

Masalah lain yang tidak disinggung menurut Melki, yakni tak melihat Sumba Timur yang tengah berhadapan dengan industri perkebunan tebu yang notabene juga berdampak buruk bagi masyarakat dan lingkungan.

Kampanye di Kupang, Jokowi Yakin NTT Sumbang Minimal 80% Suara

Lanjut Melki, narasi kampanye Jokowi-Ma’ruf malah terus berkutat pada infrastruktur dan tentu saja tak terkait dengan persoalan krisis rakyat.

“Hal ini, selain bisa dilihat sebagai model pembangunan ala Jokowi-Ma’ruf, bisa juga terkait kegagalan politisi lokal dalam mendorong persoalan dan krisis di atas diselesaikan,” ujarnya.

Mengenai politisi lokal, Melki melihat ada fenomena pembiaran atas sejumlah masalah tersebut terus terjadi.

Dia menduga masalah tersebut kemudian dimanfaatkan untuk mendatangkan keuntungan, sehingga dana dari pusat terus digelontorkan ke NTT.

Penulis: Tarsi Salmon

Editor: Irvan K