Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Ekbis»Nelayan di Pantai Cepi Watu Borong Keluhkan Ketiadaan Alat Tangkap
Ekbis

Nelayan di Pantai Cepi Watu Borong Keluhkan Ketiadaan Alat Tangkap

By Redaksi6 Mei 20192 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Gayus (34) sedang memperbaiki alat tangkap ikan yang rusak (Foto: Sandy Hayon/ Vox NTT)
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Borong, Vox NTT-Nelayan di pantai Cepi Watu, Kecamatan Borong, Kabupaten Manggarai Timur (Matim), NTT mengeluhkan ketiadaan alat tangkap ikan.

Salah satunya Gayus (34). Nelayan asal Bali itu, mengaku sudah belasan tahun menjadi nelayan, namun hingga kini belum pernah mendapatkan bantuan dari pemerintah daerah atau dinas terkait.

Menurutnya, ketiadaan alat tangkap sangat berpengaruh pada hasil dan pundi-pundi rupiah yang akan diperoleh.

“Hasil tangkap yang diperoleh sangat bergantung pada alat tangkap,” ujar pria yang kerab dipanggil Bapa Gibran itu saat ditemui VoxNtt.com, belum lama ini.

Diakuinya, dalam sehari pria tiga anak itu hanya mendapat Rp 100.000 dari hasil laut yang dijualnya. Itupun baginya sangat tidak memuaskan.

“Kalau yang punya alat tangkap pasti bisa Rp 400.000 sampai Rp 1.000.000 apalagi dengan perahu motor pasti lebih banyak lagi,” imbuh pria kelahiran 1985 itu.

Gayus menerangkan, hampir setiap hari ia melaut tepat pukul 03.00 Wita dan pulang sekitar 09.00 Wita. Itu pun kalau dapat, jika tidak ia harus memancing.
Bahkan terkadang ia pulang dengan tangan hampa.

Gayus bukanlah pria yang tak berpendidikan. Ia menamatkan pendidikan di Sekolah Teknik Menengah (STM) dan mengambil jurusan otomotif.

“Saya memang jurusan itu tapi kendala modal dan tanah, ya terpaksa mau tidak mau alih profesi,” tukasnya.

Semasa jadi nelayan, Gayus mengaku belum pernah mendapat bantuan. Saat ini ia hanya memanfaatkan alat tangkap seadanya dan perahu yang masih tradisional.

“Ini saja yang saya punya pak, kalau robek, kadang kami harus menghabiskan waktu seminggu untuk menyelesaikan yang robek,” ucapnya.

Penulis: Sandy Hayon
Editor: Ardy Abba

Manggarai Timur
Previous ArticleKantor KPU Mabar Dijaga Ketat Aparat Keamanan
Next Article Laka Lantas di Paka Matim, Pria Asal Kota Komba Masuk Puskesmas

Related Posts

Reses di Manggarai Timur, Siena Katarina Bantu Pembangunan Gereja Stasi Bangka Jari

1 Juli 2026

Puluhan Tahun Bertaruh Nyawa, DPRD Desak Jembatan Permanen di Wae Musur

30 Juni 2026

Jejak Rokok Ilegal Helium di Nagekeo: Beredar Bebas, Polisi Menunggu Laporan

12 Juni 2026
Terkini

Masyarakat Harus Gunakan Lahan untuk Porang, Bukan untuk Tambang

1 Juli 2026

Reses di Manggarai Timur, Siena Katarina Bantu Pembangunan Gereja Stasi Bangka Jari

1 Juli 2026

Satreskrim Polres Mabar Selesaikan Kasus Penipuan Wisatawan Malaysia lewat Restorative Justice

1 Juli 2026

Puluhan Tahun Bertaruh Nyawa, DPRD Desak Jembatan Permanen di Wae Musur

30 Juni 2026

Imigrasi Labuan Bajo Periksa Dokumen WNA dalam Operasi Gabungan di Manggarai

30 Juni 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.