Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Sastra»Puisi: Menari di Penjara
Sastra

Puisi: Menari di Penjara

By Redaksi12 Mei 20192 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Ilustrasi (Foto: acehimage)
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Puisi-Puisi Melki Deni*

Menari di Penjara

Kita sedang dipenjara di dalam ruang yang sama.

Semua orang mau diselamatkan dalam sejarah peradaban ciptaan.

 

Kita sedang dipenjara dengan skandal yang berbeda-beda.

Mereka mencuri dunia ide-ide dan ranting-rantingnya.

Kau merampok segala yang ada di bumi;

uang, perempuan, kekuasaan, nama baik, dan muara-muaranya.

Sedangkan aku merampok surga, dan mengejar orang-orang di bumi ini.

Termasuk kau dan mereka akan terbantai secara massal.

Aku tidak menggunakan pisau, senjata, rudal, nuklir atsu bom atom.

 

Kata dan bertindak.

Karena tindak adalah kata-kata yang telah dijelmakan.

Itu saja!

Menari Kepiluan

Tadi aku tega menyerah dalam pelukan itu.

Pelukan adalah ritus tersempurna mendeskripsikan keluh ini.

Aku telah menelan kata tobat kemarin,

tiba-tiba aku tertakluk,

ketika dijemput di ujung tebing putus rasa.

Memang itu mimpi dalam siesta, tapi lebih nikmat daripada kenyataan.

Mimpi adalah jawaban terlengkap mengenai narasi terputus.

Aku telah menyantap hidangan kepiluan empat bulan.

Enaknya meracuni hulu darah murni ini.

Aku menari kepiluan di tengah samudra buana.

Sebab hidup adalah komplikasi seni tarian,

yang bahagia dan yang telantar,

yang hambar dan yang madu.

Aku dibuang dalam danau air mata terkumuh,

merenang dengan lunglai.

Air mata adalah bius total tuk menghabisi narasi hikayat ini.

*Melki Deni, Mahasiswa STFK Ledalero-Maumere NTT.

 

Melkisedek Deni
Previous ArticleKaum Muda Mesti Berkembang dalam Iman, Harapan dan Kasih
Next Article Puisi: Gadis Khatulistiwa

Related Posts

Surat Cinta untuk Mama

7 Maret 2026

Cerpen: Mata Tua di Tubuh Bayi Bole Wote

6 Maret 2026

Pendoa Bermata Biru

23 Februari 2026
Terkini

Kisah Nangadhero, Desa Pesisir di Nagekeo Tempat Petani dan Nelayan Menjaga Harmoni

7 Maret 2026

Pentingnya Pendidikan Karakter dalam Membentuk Generasi Remaja Berintegritas

7 Maret 2026

Tuhan sebagai Gembala dan Bapa Yang Penuh Belaskasih dan Mengampuni 

7 Maret 2026

Surat Cinta untuk Mama

7 Maret 2026

Imigrasi Labuan Bajo Gelar Sosialisasi Bersama Desa Binaan di Kabupaten Manggarai, Cegah TPPO dan TPPM

7 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.