Narasumber seminar saat sedang membawakan materi (Foto: Pepi/Voxntt.com)

Ruteng, Vox NTT-Mahasiswa Teologi STKIP Ruteng mengadakan seminar sehari, Sabtu (11/05/2019) di Kampus STKIP Ruteng, Manggarai.

Seminar dengan Tema “Membangun Spiritualitas Kaum Muda dalam Perspektif Budaya dan Ekologis” itu dibawakan oleh tiga pemateri yakni Yohana Susanti Pangkak, Valentinus Sutrisno dan Suster Andeke Kartini Kalalo, DSY. Pesertanya diikuti mahasiswa program studi pendidikan teologi tingkat satu sampai tingkat empat.

Dalam pemaparan materinya, Yohana Susanti Pangkak menjelaskan bahwa kaum muda adalah harapan keluarga, nusa, bangsa dan Gereja.

Kaum muda harus dipandang sebagai pribadi yang berkembang, karena memiliki ciri khas dan keunikan yang tak tergantikan, kualitas, bakat dan minat yang perlu dihargai.

“Mereka mempunyai perasaan, pola pikir, tata nilai, dan pengalaman tertentu, serta masalah yang perlu dipahami. Kaum muda memiliki hak dan kewajiban, tanggung jawab, dan peran tersendiri yang perlu diberi tempat,” kata Yohana.

Dengan potensi yang dimiliki, kaum muda dapat berkembang dalam proses pembinaan sehingga dapat berperan aktif dalam kehidupan keluarga, masyarakat dan Gereja.

Orang Muda Katolik Wolowaru, Ende usung peti mati sebagai sebagai bentuk penolakan aksi perdagangan manusia di NTT (Foto : Doc. OMK)

Spiritualitas hidup kristiani, lanjutnya, mendorong umat beriman terutama kaum muda untuk dapat berkembang dalam iman, harapan, dan kasih. Inti dari spritualitas adalah hubungan pribadi dengan Allah dalam Roh Kudus.

“Spiritualitas adalah jalan untuk memahami keberadaan dan kehidupan manusia yang berkaitan dengan pencarian nilai-nilai luhur untuk mencapai tujuan hidupnya. Spiritualitas adalah keterarahan batin dalam setiap sikap yang diambil. Keterarahan itu berdasarkan sesuatu yang rohani yang mengatasi diri sendiri. Istilah spiritualitas mengandung nada cita-cita yang menjiwai seluruh diri, seluruh cara bersikap dan bertindak” urai Yohana di hadapan peserta seminar.

Pada kesempatan yang sama Valentinus Sutrisno saat memaparka materi “Revitalisasi musik tradisional Manggarai (Gong dan gendang) bagi kaum muda dan relevansinya bagi pengembangan musik liturgi” menjelaskan, musik tradisional mempunyai nilai yang sakral sehingga dibunyikan atau dimainkan pada acara atau upacara-upacara adat tertentu dan bersifat sakral.

Dalam perkembangannya, musik yang digunakan dalam kebudayaan Manggarai di bawah ke ranah musik liturgi. Musik liturgi merupakan musik Gereja yang berfungsi untuk mengiringi lagu-lagu gereja pada saat merayakan ibadat ataupun perayaan Ekaristi.

Kehadiran musik liturgi dalam gereja katolik mampu membantu untuk menghayati iman Gereja akan karya penyelamatan Yesus Kristus melalui perayaan Ekaristi.

Beberapa jenis alat musik tradisional berupa gong dan gendang hasil karya tangan Yakobus Mbotu, pria kelahiran Ndungga, Ende, Flores (Foto: Ian/VoxNtt.com)

Dengan demikian, musik liturgi sebagai suatu simbol yang digunakan sebagai sarana untuk merayakan misteri keselamatan Allah.

Saat ini, jelas Sutrisno, alat musik nggong dan gedang kurang diminati oleh kaum muda. Salah satu cara untuk mempertahankan semua itu adalah dengan menjelaskan kesakralan fungsi dan tujuan dari peninggalan para leluhur serta meningkatkan kreativitas dan pengembangan bakat yang maksimal yang ada dalam diri kaum muda.

Lingkungan Hidup

Pada bagian terakhir Suster Andeke Kartini Kalalo, DSY menjelaskan, lingkungan hidup mengalami kerusakan terutama disebabkan ulah manusia yang menyalahgunakan kekuasaannya terhadap ciptaan-ciptaan nonhuman.

Manusia telah mengeksploitasi alam secara acak-acakan, bahkan keseimbangan antara manusia dan lingkungan hidup telah mencapai titik kritis.

Sexy Killers yang Sedang dan Akan Terjadi di NTT (2)

Beberapa masalah ekologi yang terjadi secara global ialah pertama, kerusakan lingkungan hidup yang meliputi kerusakan hutan, kerusakan terumbu karang, kerusakan lahan, dan kerusakan lapisan ozon.

Kedua, pencemaran lingkungan hidup yang meliputi pencemaran udara, pencemaran air, dan pencemaran laut, dan sampah.

Ketiga, kepunahan sumber daya alam dan lingkungan hidup meliputi kepunahan keanekaragaman hayati, kepunahan mata air, dan kepunahan sumber daya alam.

Keempat, kekacauan iklim global dan masalah sosial terkait dampak lingkungan hidup.

Ensiklik Laudato Si mengemukakan gagasan umum dan sesekali memberi petunjuk praktis tentang apa yang semestinya kita buat untuk merawat bumi sebagai rumah bersama kita.

Lokasi tambang mangan di Serise, Desa Satar Punda, Kecamatan Lamba Leda, Kabupaten Matim (Foto: Floresa)

Oleh karena itu, kegiatan pastoral lingkungan hidup harus menyeluruh dan berkesinambungan dan mencapai sasaran baik di tingkat keuskupan, paroki, KBG dan kelompok-kelompok kategorial lainnya yang diperkaya dengan informasi, pengetahuan, dan cara bertindak yang benar berkaitan dengan lingkungan hidup.

“Upaya nyata dalam pelaksanaan pastoral antara lain edukasi yaitu, menyadarkan umat akan pentingnya lingkungan hidup untuk keberlangsungan hidup semua ciptaan, serta membangun dan mengembangkan pertobatan ekologis demi terwujudnya rekonsiliasi atau pendamaian antara manusia dengan seluruh ciptaan” jelas Suster Andeke.

Kerusakan lingkungan hidup, jelas dia, harus ditanggapi dengan perubahan sikap, mengubah cara pandang dan perilaku pada alam semesta. Perubahan sikap harus dari sekarang, dan kemudian disusul dengan pengubahan gaya hidup seluruh masyarakat.

Penulis: Pepi Kurniawan

Editor: Irvan K

alterntif text