Jakarta, VoxNTT.com – PT AIA Financial (AIA) menetapkan SDN Cipedak 01 Jakarta dan SMP IL Kapten Fatubaa dari Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur, sebagai pemenang nasional kompetisi proyek sekolah sehat AIA Healthiest Schools 2026. Kedua sekolah tersebut akan mewakili Indonesia pada kompetisi regional AIA Healthiest Schools di Bangkok, Thailand, pada Juli 2026.
Presiden Direktur AIA, Harsya Prasetyo mengatakan, program tersebut merupakan bagian dari upaya perusahaan mendorong terbentuknya generasi yang lebih sehat melalui lingkungan pendidikan.
AIA, kata dia, ingin berkontribusi terhadap kualitas generasi bangsa dan menjadikan gaya hidup sehat sebagai bagian dari perjalanan belajar setiap anak.
AIA Healthiest Schools menghadirkan modul pembelajaran yang dirancang secara khusus bagi siswa-siswi di Asia Pasifik termasuk Indonesia yang dapat diakses secara gratis, fleksibel, dan menyenangkan, lalu dilanjutkan dengan Kompetisi Proyek Sekolah Sehat.
“Terima kasih atas dedikasi, kreativitas, dan semangat dari seluruh pihak untuk menciptakan lingkungan sekolah yang lebih sehat bagi generasi penerus bangsa,” kata Prasetyo.
Program AIA Healthiest Schools mendorong terciptanya lingkungan sekolah yang lebih sehat melalui dua inisiatif utama, yakni penyediaan modul pembelajaran daring gratis bagi guru dan kompetisi proyek sekolah sehat yang mengusung empat pilar, yaitu makan sehat, gaya hidup aktif, kesehatan mental, serta sehat dan lestari.
Tahun ini, Indonesia mencatat partisipasi tertinggi di antara seluruh negara peserta dengan 2.896 pendaftar dan 359 proyek sekolah sehat yang dikirimkan. Jumlah tersebut menunjukkan meningkatnya kesadaran sekolah-sekolah untuk membangun budaya hidup sehat melalui program yang berkelanjutan.
Pada kategori Sekolah Dasar, SDN Cipedak 01 Jakarta meraih juara melalui proyek GEMARIPAH SEGAR atau Gerakan Minum Air Putih Aah Segar. Program tersebut lahir dari temuan tingginya risiko dehidrasi pada siswa akibat rendahnya kebiasaan mengonsumsi air putih.
Sekolah itu menerapkan sejumlah kegiatan, antara lain jadwal minum serentak, kartu pemantauan hidrasi, lomba poster edukasi, dan pembentukan Duta Hidrasi Cilik. Dalam tujuh hari setelah program berjalan, persentase siswa yang memenuhi anjuran konsumsi dua liter air per hari meningkat dari 12 persen menjadi 98 persen. Risiko dehidrasi juga turun dari 60 persen menjadi nol persen.
Sementara itu, kategori Sekolah Menengah Pertama dimenangkan oleh SMP IL Kapten Fatubaa dari Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur, melalui Huka Upcycling Project (HUP). Sekolah yang berada di kawasan perbatasan Indonesia dan Timor-Leste itu mengembangkan pemanfaatan limbah kulit pisang menjadi es krim, pupuk kompos, dan pupuk cair organik.
Program tersebut juga melibatkan siswa dari Timor-Leste melalui seminar kolaboratif dan uji coba produk. Dampaknya tidak hanya dirasakan warga sekolah, tetapi juga petani lokal, masyarakat sekitar, serta lebih dari 150 siswa dari Timor-Leste yang terlibat dalam kemitraan pembelajaran.
Chief Marketing Officer AIA, Kathryn Parapak, mengatakan keberhasilan proyek sekolah sehat tidak ditentukan oleh besarnya program, melainkan kemampuannya menjawab kebutuhan nyata di lingkungan sekolah.
“Ketika guru, siswa, orang tua, dan komunitas bergerak bersama, perubahan positif akan tercipta lebih kuat dan bertahan lebih lama,” kata Kathryn.
Penilaian kompetisi dilakukan berdasarkan sejumlah aspek, antara lain relevansi permasalahan yang diangkat, kesesuaian solusi yang ditawarkan, kualitas implementasi, dampak yang terukur, serta keberlanjutan program.
Melalui AIA Healthiest Schools, AIA berharap semakin banyak sekolah di Indonesia membangun lingkungan belajar yang sehat, inklusif, dan berkelanjutan. Praktik-praktik baik yang lahir dari berbagai proyek peserta diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi sekolah lain dalam menciptakan perubahan positif bagi generasi masa depan. [VoN]

