Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Seni dan Budaya»Suku Nataia Nagekeo Segera Gelar Tinju Adat
Seni dan Budaya

Suku Nataia Nagekeo Segera Gelar Tinju Adat

By Redaksi8 Juli 20193 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Ketua Suku Nataia, Patris Seo
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Mbay, Vox NTT- Pertandingan tinju adat atau Etu sebutan masyarakat Suku Nataia Kabupaten Nagekeo akan berlangsung dari tanggal 10-13 Juli 2019.

Kegiatan itu akan berlangsung di Kampung Boanio, Desa Olaia, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo.

Ketua Suku Nataia Patris Seo menjelaskan rangkaian acara tinju adat/ Etu itu diawali dengan ritual adat.

Alat-alat musik yang digunakan dalam ritual adat itu seperti gong dan gendang, serta alat pukul lainnya yang diturunkan dari rumah adat.

Ini tahapan-tahapan tinju adat suku Nataia.

10 Juli: Koma Moa Go Laba

Ini adalah ritual pembersihan gong gendang dilanjutkan dengan wari (jemur).

Pagi hari itu, go laba diturunkan dari rumah adat. Kelapa diparut, lalu dijadikan bahan untuk membersihkan go laba. Setelah dibersihkan, go laba diletakan dan dijemur (wari) di depan rumah adat. Ritual ini berlangsung sejak pagi hingga jelang siang.

Soi Melo

Jelang malam, masyarakat adat setempat dipimpin oleh pelaku ritual, dengan gong gendang menuju tempat ritual, tidak jauh dari kampung. Setelah ritual, rombongan kembali ke rumah adat, sambil mendendangkan lagu dan syair adat yang disebut soi melo.

Tiba di arena, soi melo berhenti lalu dilanjutkan dengan etu pate (tinju pembuka hanya sepasang anak laki-laki)

11 Juli: Etu Pate

Sejak pagi hingga sore, ritual berisikan atraksi tinju khusus anak-anak, dengan tangan kosong (belum gunakan alat bertinju).

12 Juli: Ja Kepo

Saat ini, sudah mulai mempersiapkan kepo (semacam sarung tinju). Pagi sampai siang, tinju untuk anak-anak. Sore hingga jelang malam, tinju untuk orang dewasa (etu meze).

Boka Loka: Pada malam pukul 19.00 Wita

Malam hati itu bakal dilakukan ritual boka loka (tandak).

Masyarakat adat Nataia mengawali boka loka dengan tandak “ana ia“, tandak khusus untuk anak suku Nataia.

Setelah beberapa jam, sekitar pukul 20.00 Wita, tandak “ana ia” selesai. Selanjutnya, teke (tandak) dari berbagai tempat/kampung turut hadir saat itu.

Sebut saja, teke sa Labo, teke sa Nage, fera Wolowe, fera Lape Ngegedhawe, teke nata Toto, dan sebagainya.

Masing-masing kelompok sudah bisa teke dengan api unggun masing-masing.

Teke ini berlangsung sepanjang malam hingga pagi hari.

13 Juli: Etu Meze

Ini merupakan ritual Etu yang mulai seru. Melibatkan orang dewasa dari berbagai wilayah sekitar.

Para jagoan tinju mulai dipertemukan oleh para mosa laki babho, diiringi gong gendang. Etu ini diperkirakan selesai pukul 13.00 Wita.

Dhongi Koti

Setelah ritual etu meze, pelaku ritual Nataia melanjutkan dengan ritual dhongi koti.

Gasing adat diturunkan dari rumah adat lalu dilanjutkan ritual dhongi koti.

Ritual ini merupakan puncak Etu Nataia. Selanjutnya dibuka luas untuk atraksi main gasing yang melibatkan para jagoan dari berbagai wilayah sekitar.

Permainan gasing adalah permainan rakyat kebanyakan. Khusus Nataia, ritual gasing adalah satu kesatuan dengan ritual Etu.

Sudah cukup lama sejak tahun 1980-an, ritual ini hanya sekedar simbolik saja.

Tahun 2019 ini, ritual dhongi koti diperkenalkan secara luas dan dimainkan oleh khalayak. Yang diundang khusus untuk bertarung dhongi koti di pelataran kampung Nataia melibatkan orang dewasa dan kaum tua-tua.

Untuk diketahui, beberapa kampung tetangga telah mempersiapkan timnya untuk bertarung di arena, baik Etu (tinju adat) maupun Dhongi Koti (adu bermain gasing).

Panitia lokal menyediakan acara khusus ini dengan nama Festival Dhongi Koti. Dalam pelaksanaannya mendapat dukungan langsung dari pemerintah Provinsi NTT melalu Dinas Pariwisata.

Penulis: Arkadius Togo
Editor: Ardy Abba

Nagekeo
Previous ArticleIni Isi Surat Arsenius Sebelum Tewas Gantung Diri di Rowang Ruteng
Next Article Warga Asal Matim Meninggal di Kalimantan, Keluarga Galang Bantuan Dana

Related Posts

51 Relawan Dapur SPPG Wolowae Ikuti Pelatihan Penjamahan Makanan, Cegah Keracunan MBG

7 Maret 2026

Kisah Nangadhero, Desa Pesisir di Nagekeo Tempat Petani dan Nelayan Menjaga Harmoni

7 Maret 2026

RSUD Aeramo Luncurkan Inovasi Layanan “Bahagia Kita”

4 Maret 2026
Terkini

Pelantikan Sekda Ngada Tanpa Persetujuan Gubernur Dinilai Bermasalah

7 Maret 2026

Mari Minum dan Membasuh Diri dari Sumber Air Hidup Kekal

7 Maret 2026

51 Relawan Dapur SPPG Wolowae Ikuti Pelatihan Penjamahan Makanan, Cegah Keracunan MBG

7 Maret 2026

Pemda Manggarai Minta Penghuni Kosongkan Stan Penjual Tuak di Pasar Reo

7 Maret 2026

Satgas Pangan Sidak Pasar, Pastikan Stok Aman dan Harga Stabil di Labuan Bajo Jelang Idul Fitri

7 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.