Dua mahasiswa STFK Ledalero saat mengunjungi Kedang, Lembata, NTT
alterntif text

Lewoleba, Vox NTT-Perjalanan yang melelahkan akan memberi cerita miring bagi sebagian besar para petualang. Namun, tidak demikian bagi Never dan kawan-kawannya.

Atas dasar minat dan keingintahuan untuk melihat tempat dan suasana yang baru, tenaga pun rela dikuras. Kedang, di ujung timur pulau Lembata, NTT adalah tempat yang menjadi sasaran perjalanan kami mengisi waktu liburan panjang sebagai Mahasiswa STFK Ledalero, Maumere, Flores.

Saya sebagai anak asli Kedang dijadikan sebagai ‘kompas’ petunjuk jalan bagi Never dan Ius yang berasal dari Atambua, Kabupaten Belu dan Eman Lengari dari Hadakewa, Lembata.

Jarak tempuh dari Lewoleba, ibu kota Kabupaten Lembata menuju Kedang kurang-lebih 60 KM. Didukung dengan motor supra X bertenaga kuda, kami memulai perjalanan dengan daya kecepatan “setengah gas” sambil menikmati keindahan alam semesta ciptaan Tuhan yang terbentang di sisi kiri-kana jalan raya. 

Debu panas beterbangan seolah-olah ada kegembiraan yang mau mereka ungkapkan atas kehadiran kami layaknya para penari dari sanggar Uyolewun dalam rangka menyambut kedatangan Bupati Lembata.

Sebaliknya, raut wajah kami sebagai para petualang tampaknya memberi gambaran kegembiraan apalagi bagi kedua teman yang berasal dari pulau seberang walaupun hitamnya rambut telah menjelma menjadi warna abu-abu.

alterntif text

Udara panas, matahari menusuk sengat ke pori-pori tubuh, keringat pun mengalir lancar, kami tetap bersemangat. Dari kejauhan jarak, laut Flores di bagian utara memberi aroma hangat menambah daya semangat dalam perjalanan.

Keindahan jejeran perbukitan dan bentuk tanjung Nuha Nera seakan memberi daya pikat tersendiri bagi kami untuk menancap gas. Hijau hutan lamatoro, pohon reo dan lambaian dedaunan kelapa nampak riuh ditambah semilir angin pantai melukis sepoi. 

Puncak Tanjung Baja, Kedang, Lembata, NTT

Kerikil dan lekak-lekuk permukaan jalan raya dari Lewoleba menuju Kedang bukan menjadi penghalang perjalanan sebab sebagai warga NTT, tentu sudah lama “makan garam” dengan situasi seperti ini.

Semua tentu memiliki makna tersendiri untuk direfleksikan. Ketabahan dan keuletan Ius dan Eman sebagai pengendali supra X pada akhirnya membawa kami untuk berkenalan sebentar dengan mama-mama tua yang setia berjualan di pinggir jalan.

Mereka disebut para penjual ketupat, tepatnya di kampung Lewolein, Kecamatan Lebatukan – mungkin menjual ketupat adalah mata pencaharian yang paling gampang di tempat tersebut – semoga Pemerintah memerhatikan keseriusan pekerjaan mereka. 

Gunung Ile ape dan Tanjung Nuhanera dilihat dari Tanjun Baja

Kami menghormati mereka dengan membeli beberapa ketupat sebagai cadangan tenaga dan sebaliknya mereka menghormati kami dengan sapaan dan pelayanan yang tulus.

Usai menikmati santapan di Lewolein, kami melanjutkan perjalanan menuju tanjung Baja. Di sana, keindahan alam baja yang tampak gersang sudah melukis panorama indah untuk menjemput kedatangan kami.

Kami berhenti sejenak untuk melakukan proyek dokumentasi perjalanan. Tampak indah gunung Ile Ape dan tanjung Nuha Nera dilihat dari puncak Tanjung Baja. Laut Flores mengalun tenang  tanpa keganasan ombak layaknya di selatan Lembata.

Beberapa burung elang beterbangan berputar-putar di udara sebagaimana atraksi pesawat tempur angkatan udara menjelang hari Kemerdekaan republik Indonesia pada pertengahan agustus.

Toleransi di Kedang

Nusa Tenggara Timur atau yang biasa dijuluki nusa tertinggi toleransi bukan sebuah gelar asal-asalan. Hal ini didukung warisan toleransi yang masih dijaga teguh oleh masyarakat Kedang di Lembata.

Pantai Lewolein

Pada saat memasuki gerbang wilayah Kedang, terlihat jelas berjejeran Mesjid dan Gereja – berdiri berdampingan layaknya dua manusia yang ingin berpelukan. Hampir di setiap kampung terdapat mesjid sekaligus gereja.

Gaung suara azan terdengar hampir di setiap sudut perkampungan – lonceng gereja nyaring berbunyi pada setiap hari minggu.

Masing-masing orang sesuai imannya pergi menyembah Tuhan dengan damai tanpa perdebatan tetek-bengek soal ajaran teologi.

Selama beberapa hari bersama rekan-rekan saya di Kedang, ada banyak makna luar biasa yang bisa dipetik sebagai bekal perjalan kehidupan. Selain alam yang memesona, kami juga belajar mencintai menembus batas atau sekat-sekat perbedaan.

Orang Kedang sungguh luar biasa menjaga kerukunan umat beragama. Salah satu fondasi yang menjadi batu kekuatan membangun toleransi adalah budaya lokal yang sama serta ikatan darah sebagai yang lahir dari satu Leluhur yaitu Uyolewun.

Prinsip mereka ialah, kehadiran agama tidak boleh menjadi “peluru” untuk memorak-morandakan kemapanan budaya lokal sebagai jempatan pemersatu.

Alam yang indah – ada pantai Wei Lolon, Wowon, Noni’, Bean, hutan Natu di Desa Mahal dan masih banyak lagi – mengajarkan kita untuk menghormati kehidupan. Manusia tidak mampu melanjutkan estafet kehidupan tanpa bantuan alam semesta.

Kebiasaan menebang pohon secara liar atau membakar hutan harus dihentikan. Orang Kedang mengajak kita untuk mengormati kehidupan dengan menjaga toleransi kemanusiaan dan memelihara alam semesta.

Ayo, jalan-jalan ke Kedang di ujung timur pulau Lembata; akan ada nuansa tersendiri bagimu yang berminat ke sana.

Penulis: Rian Odel