Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»NTT NEWS»Nikmati Lezatnya “Hinga Mbeta” di Pantai Selatan Matim
NTT NEWS

Nikmati Lezatnya “Hinga Mbeta” di Pantai Selatan Matim

By Redaksi19 Oktober 20192 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Hinga Mbeta di pantai selatan Manggarai Timur. (Foto: Sandy Hayon/Vox NTT).
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Borong, VoxNTT-Bagi anda yang ingin berwisata di pantai selatan Manggarai Timur, Flores-NTT, jangan lupa untuk mencicipi lezatnya rumput laut.

Etnik Rongga, yang sebagian besar mendiami wilayah selatan Kecamatan Kota Komba, rumput laut dikenal dengan sebutan “hinga mbeta”.

Sesuai laporan penduduk Kecamatan Kota Komba tahun 2011, etnik Ronga tegolong minoritas. Jumlah penduduknya hanya 8.000 jiwa.

Dalam bahasa Rongga  Hinga berarti telinga dan Mbeta berarti putus. Hinga Mbeta dapat diartikan sebagai telinga yang putus.

Sepintas Hinga Mbeta memang tak terkait dengan mama rumput laut.

Dari penuturan tokoh adat suku Motu, Antonius Lajo, konon rumput laut sudah dimanfaatkan sejak lama oleh masyarakat etnik Rongga. Namun, kala itu mereka belum menamakan rumput laut itu.

Suatu hari kisah Antonius, ada beberapa orang yang pergi ke pantai untuk mencari rumput laut.

Pantai selatan Manggarai Timur. (Foto: Sandy Hayon/Vox NT

Setelah dikumpulkan, mereka mengolahnya untuk dikonsumsi. Rumput laut itu lalu ditaburi dengan sambal pedas.

“Mereka taruh lomboknya banyak. Nah, saat mereka mencicipi rumput laut yang sudah diolah, apalagi dengan lombok ini, seseorang di antara mereka bilang begini, “Hinga Mbeta e.. (telinga putus e). Kata telinga putus ini sebagai ungkapan untuk menggambarkan kelezatan atau kenikmatan dari rumput laut yang sudah ditaburi lombok itu. Jadi, dari situlah nama Hinga Mbeta diberikan dan mulai berkembang sampai saat ini,” ujar Antonius, kepada VoxNtt.com, Rabu (16/10/2019).

Antonius menjelaskan, Hinga Mbeta tidak tumbuh setiap bulan. Jika ingin mencicipi lezatnya Hinga Mbeta, maka anda wajib berkunjung pada bulan September hingga awal bulan Februari tahun 2020 mendatang.

Pada bulan ini, sepanjang pantai selatan yakni, Watu Kodi, Nanga Rawa, Toko Wolo, Tibo Rumbu, Ghore ghare, Lia Mbapa, Watu Pu’u, Alo Wae Rengga ditumbuhi Hinga Mbeta.

Untuk menuju ke pantai selatan membutuhkan waktu lebih dari satu jam dari Borong, Ibukota Kabupaten Manggarai Timur.

Arahkan kendaraan anda menuju Kisol, Kelurahan Tanah Rata, lalu belok kanan menuju pantai Nanga Rawa, Desa Bamo.

Hinga Mbeta yang Diambil dari Pesisir Laut Bisa Langsung Dikonsumusi. Tetapi bagi masyarakat etnik Rongga, Hinga Mbeta kerap disantap bersama parutan kelapa.

Untuk menghilangkan bau amis Hinga Mbeta terlebih dahulu harus dicuci dengan dengan air tawar atau pun air panas. Bilas rumput laut selama beberapa kali hingga benar-benar bersih.

Selanjutnya, siapkan kelapa yang sudah diparut, asam yang sudah dibersihkan dan cabai yang sudah ditumbuk dan dihaluskan. Setelah itu, campurkan dengan rumput laut yang sudah dibersihkan. Diamkan 10-15 menit setelah itu Hinga Mbeta siap dihidangkan.

Penulis: Sandy Hayon

Editor: Boni J

hinga mbeta Manggarai Timur
Previous ArticleWakapolres Manggarai Resmikan Rumah Janda Miskin di Matim
Next Article Kanis Unda Desak Bupati Agas Disposisi Surat Gugatan Penetapan Cakades Komba

Related Posts

Tiga Tahun Tak Kunjung Diperbaiki, Jembatan Pomakeke Masih Jadi Langganan Pencitraan Politik

26 Juni 2026

KemenHAM Serap Aspirasi Warga dalam Sosialisasi Penguatan HAM di Tiga Desa Manggarai Raya

25 Juni 2026

Julie Laiskodat Sumbang Rp100 Juta untuk MTQ Tingkat Provinsi NTT di Nagekeo

25 Juni 2026
Terkini

Tiga Tahun Tak Kunjung Diperbaiki, Jembatan Pomakeke Masih Jadi Langganan Pencitraan Politik

26 Juni 2026

KemenHAM Serap Aspirasi Warga dalam Sosialisasi Penguatan HAM di Tiga Desa Manggarai Raya

25 Juni 2026

Julie Laiskodat Sumbang Rp100 Juta untuk MTQ Tingkat Provinsi NTT di Nagekeo

25 Juni 2026

Rutan Kupang Siap Serahkan Rekaman CCTV Terkait Dugaan Suap terhadap Saksi Kasus Jaksa Peras Kontraktor

24 Juni 2026

Undhira Bali Pertahankan Tradisi Ibadah Rabuan untuk Perkuat Karakter dan Spiritualitas Civitas Akademika

24 Juni 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.