Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Pendidikan NTT»111.040 Anak NTT Putus Sekolah
Pendidikan NTT

111.040 Anak NTT Putus Sekolah

By Redaksi7 November 20193 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Provincial Manager Program INOVASI NTT Hironimus Sugi (Kiri) didampingi rekannya, Mus Mualim, Spesialis Kebijakan Pendidikan Provinsi Divisi Advokasi INOVASI saat memberikan keterangan pers, Kamis, 7 November 2019 (Foto: Tarsi Salmon/Vox NTT)
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Kupang, Vox NTT – Ada 111.040 anak usia sekolah pada jenjang SD/MI sampai jenjang SMA/SMK di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) yang putus sekolah.

Jumlah tersebut merupakan data terbaru dari Innovation for Indonesian Children’s School, Inovasi untuk Anak Sekolah Indonesia (INOVASI).

Hal ini diungkapkan Provincial Manager Program INOVASI NTT, Hironimus Sugi, kepada wartawan di Kupang, Kamis (07/11/2019).

Menurutnya, pemerintah tengah mendesain program untuk mengembalikan anak-anak putus sekolah ini ke jenjang sekolah.

INOVASI, kata dia, adalah program kemitraan Pemerintah Indonesia-Australia.

Program ini dilaksanakan di Pulau Sumba dengan tujuan meningkatkan mutu hasil pembelajaran siswa kelas awal. Itu erutama dalam hal kemampuan literasi dan numerasi, serta pendidikan inklusif.

“Data ini yang menjadi fokus perhatian ke depan, yakni untuk dapat kembali ke sekolah formal atau dapat mengakses pendidikan luar sekolah lainnya. Fokus yang lainnya adalah mempertahankan 1,35 juta anak usia sekolah yang sekarang berada di sekolah formal baik di jenjang SD/MI sampai dengan jenjang SMA/SMK untuk tidak drop out dan tetap mendapatkan pendidikan yang berkualitas,” kata Sugi.

Fokus perhatian ini jelas Sugi, sangat penting guna memastikan bahwa anak-anak generasi emas NTT memiliki kemampuan dan daya saing yang baik untuk menghadapi dunia kerja global abad 21.

Ini juga sejalan dengan visi Gubernur dan Wakil Gubernur NTT “NTT Bangkit Menuju Sejahtera” khususnya dalam bidang pembangunan.

“Visi NTT Bangkit Menuju Sejahtera” ini bukan sekadar slogan, tetapi harus bisa mendorong kita untuk betul-betul bangkit,” ujar Sugi.

Ia mengatakan, mutu dan relevansi lulusan ditentukan oleh kuatnya sinergi kapabilitas antara 22 dinas pendidikan dan kebudayaan provinsi dan kabupaten/kota dengan 7.657 kepala sekolah dan 92.448 guru di NTT.

“Sinergi kapabilitas yang berpihak pada proses pembelajaran. Para bupati/wakil bupati dan walikota/wakil walikota di 22 kabupaten/kota se NTT pun berkomitmen untuk mewujudkan agar 1,35 juta anak NTT kelak masuk kelompok bonus demografi,” ungkapnya.

Salah satu cara membangun komitmen itu kata dia, adalah melalui lokakarya Grand Design Pendidikan Provinsi NTT.

Sejak bulan September 2019, lanjut Sugi, rangkaian lokakarya grand design ini telah diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTT dengan melibatkan berbagai pihak.

“Grand design ini bersifat strategis sekaligus operasional, yang dirancang berdasarkan isu-isu strategis, tujuan, sasaran, dan arah kebijakan strategi pencapaian sasaran pembangunan pendidikan dengan berbasis pada pencapaian SDG’s pemerintah,” tandasnya.

Lokakarya ini telah dilakukan tiga kali yakni, pertama, digelar di Kupang 11–13 September 2019 lalu. Saat itu membahas isu-isu strategis berjenjang dan lintas-jenjang.

Kedua, di Kupang pada tanggal 9-10 Oktober 2019 yang merupakan perumusan visi-misi dan tujuan yang akan dicapai.

Sementara Lokakarya ketiga nanti akan diselenggarakan tanggal 11-13 November 2019 di Kupang untuk membahas strategi pencapaian yang akan dilakukan bersama-sama.

Pembahasan pada lokakarya ketiga, jelas dia, juga meliputi profil pendidikan di NTT.

“Hal ini sangat berguna untuk memahami secara lebih kontekstual tentang pendidikan dan kebudayaan di NTT, baik itu yang telah berhasil dan yang belum,” tuturnya

Penulis: Tarsi Salmon
Editor: Ardy Abba

Kota Kupang
Previous ArticleKetika Warga Klahit dan Glak Antar Hasil Kebun ke Kantor Bupati Demi Jalan Raya
Next Article Kelas Awal Kunci Kualitas Pendidikan

Related Posts

Seminari Kisol Luncurkan Renstra 2026–2031 untuk Hadapi Tantangan Era VUCA

5 Maret 2026

Renstra 2026–2031 Jadi Momentum Pembenahan Seminari Pius XII Kisol

5 Maret 2026

Seminari Pius XII Kisol Susun Renstra 2026–2031, Fokus pada Penguatan Kesehatan, Gizi, dan Tata Kelola

5 Maret 2026
Terkini

Pemda Manggarai Minta Penghuni Kosongkan Stan Penjual Tuak di Pasar Reo

7 Maret 2026

Satgas Pangan Sidak Pasar, Pastikan Stok Aman dan Harga Stabil di Labuan Bajo Jelang Idul Fitri

7 Maret 2026

Ketua PSSI Manggarai Barat Buka O2SN Gugus 04 Namo di Lembor Selatan

7 Maret 2026

Kisah Nangadhero, Desa Pesisir di Nagekeo Tempat Petani dan Nelayan Menjaga Harmoni

7 Maret 2026

Pentingnya Pendidikan Karakter dalam Membentuk Generasi Remaja Berintegritas

7 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.