Suasana diskusi warga Klahit dan Glak bersama Bupati Sikka dan Dandim 1603 Sikka (Foto: Petrus Plain)
alterntif text

Maumere, Vox NTT- Ada pemandangan berbeda di Kantor Bupati Sikka pada Kamis (7/11/2019). Belasan warga datang dengan membawa hasil kebun.

Mereka berasal dari Dusun Klahit, Desa Watudiran, Kecamatan Waigete dan Dusun Glak, Desa Hale, Kecamatan Mapitara.

Hasil kebun yang dibawa dalam keranjang anyaman pelepah kelapa tersebut di antaranya beras hitam, kacang tanah, mangga, dan kacang merah.

Petrus Plain Nenang, pemuda Glak yang memimpin rombongan menerangkan kedatangan mereka bukan untuk mengantar upeti.

“Kami ingin menagih komitmen Bupati Sikka terkait pemenuhan hak-hak kami warga Glak terutama mengenai infrastruktur dasar terutama jalan,” terangnya di Kantor Bupati Sikka.

Komoditas yang dibawa itu merupakan hasil kebun masyarakat yang selama ini sulit dijual karena buruknya akses jalan.

Pada bulan Mei 2019 lalu, mereka telah mengajukan proposal yang disampaikan langsung kepada Bupati Sikka.

Selanjutnya, pada Juli 2019 lalu, Wakil Bupati Sikka Romanus Woga pun sempat berkunjung ke Glak.

Glak terletak di perbatasan Kecamatan Waigete dan Kecamatan Talibura. Demikian juga antara warga Klahit dan Glak masih terdapat pertalian darah dan hubungan kekerabatan.

Warga Klahit dan Glak dan ole-ole hasil kebun untuk Bupati Sikka (Foto: Are De Peskim/VoxNtt.com)

Mobilitas antar warga kedua kampung terjadi setiap hari. Oleh karenanya, akses jalan yang baik sangat dibutuhkan.

Selain itu, warga Klahit yang telah menikmati jalan raya hendak bersolidaritas dengan saudaranya.

Terisolir

Ditambahkan Piter, Glak berada di ruas jalur Bola-Kilawair. Akan tetapi, dari arah Patiahu, jalan aspal baru dibangun sampai Klahit. Sementara dari arah Bola jalan aspal hanya sampai di Hale. Singkat cerita, Glak terisolir di tengah.

“Jalan yang perlu dibangun kurang lebih 60 km. Tetapi kami minta karena ini sifatnya darurat maka diutamakan di titik rawan yang masing-masing sepanjang Rp 15 km,” terangnya.

Dua titik rawan tersebut sulit dilalui terutama saat musim hujan. Menurut perhitungan mereka hanya dibutuhkan kurang lebih Rp 30 juta untuk kedua titik tersebut.

“Kalau untuk tenaga kami masyarakat siap kerja. Kami hanya butuh material,” terangnya.

Warga lainnya, Petrus Pin mengeluhkan jalanan yang ada bukan untuk dilalui kendaraan.

“Kami harus jalan kaki 1-2 jam ke arah Hale atau 5-6 jam ke arah Klahit kalau mau ke Maumere,” terangnya.

Informasi yang diperoleh, perwakilan warga Glak dan Klahit akhirnya bertemu Bupati Sikka Robi Idong yang didampingi Dandim 1603 Sikka, Sugeng Prihatin.

Kepada warga, Bupati Robi menjanjikan akan mengirimkan Dinas PU ke lokasi pada Jumat (08/11/2019).

Sementara itu, terkait teknis pengerjaan akan diatur. Selain masyarakat pengerjaan titik rawan dimaksud akan melibatkan Kodim 1603 Sikka dan Komunitas Jeep Maumere.

Penulis: Are De Peskim
Editor: Ardy Abba

alterntif text