Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Sastra»Puisi: Panggil Aku ‘Oa’
Sastra

Puisi: Panggil Aku ‘Oa’

By Redaksi24 November 20192 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Ilustrasi (Foto: Cipta Media)
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

*) Puisi-Puisi Sonny Kelen

Panggil Aku Oa

Aku mau dipanggil Oa saja

Walau ibuku seorang pemulung, ayahku seorang buruh yang jujur

Keadilan adalah angan yang selalu kuingin

Sekali kuraih karena wanita harus mendahulukan kepentingan pria dalam budaya

Aku mau panggil aku Oa saja

Poligami yang aku benci harus kulakoni

Karena petuah leluhur yang menuntut

Menjaga warisan budaya yang mengorbankan

Aku di pintu duka

Aku mau panggil aku Oa saja

Karena aku adalah kisah tak tuntas

Yang berulangkali kau tebas

Hanya untuk kembali bertunas dan bertunas lagi

Ledalero, 2019

Oa

                      /1/

Aku mencintaimu seperti hujan mencintai bunga

Selepas mendung lalu beranjak dalam diam

Sebelum dirimu kujumpai esok pagi

                     /2/

Seperti senja memberat

Kemudian pergi kepada malam

Sebelum bulan pergi

Setelah ditutup sebuah hari

                           /3/

Seperti membiarkan diriku jatuh pada runcing matamu

Menghadirkan cahaya selepas malam

Setelah di bibirmu kutemukan rindu yang aduh

                          /4/

Seperti sederet kata yang berangkat

Menjelma puisi rindu yang utuh

Sebelum dibibirmu kau tanam

Senyum paling tulus

                       /5/

Seperti dingin sebuah bangku

Menunggumu sepanjang musim

Sebelum cuaca menggugurkan daun

Menghitung sisa-sisa embun

                  ***

Oa 

Aku menuliskan ini

Supaya mereka tahu

Engkau lahir untuk dicintai

Dan didengar

Bukan ditindas

Ledalero, 2019

Keterangan: Oa merupakan panggilan kesayangan untuk perempuan dalam budaya Lamaholot

*Penulis Sekarang Tinggal di Unit Gabriel Ledalero

Sonny Kelen
Previous ArticleCerpen: Yoker Merah
Next Article Reses Fredirikus Seran di Rinhat Tanpa Diikuti Pegawai Sekwan

Related Posts

Elegi Luka Sang Pemaaf

19 April 2026

Tentang Pintu Kiri dan Pintu Kanan di Surga

19 April 2026

Senja di Atas Batu Sisa

13 April 2026
Terkini

Polsek Amarasi Timur dan Pemerintah Kecamatan Tinjau Lokasi Kebakaran Rumah Warga di Pakubaun

6 Juni 2026

Peti Persembahan vs Peti Mati

6 Juni 2026

Jejak Skandal AKP Serfolus Tegu: Istri Simpanan, Dugaan Kekerasan hingga Laporan ke Propam

5 Juni 2026

Menteri Transmigrasi RI Serahkan Bantuan Sembako untuk Masyarakat Translok di Manggarai Barat

4 Juni 2026

Alarm dari Kupang: Reformasi Radikal Pengendalian PAD

4 Juni 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.