Paul Ama Tukan (Foto: VoxNtt.com)
alterntif text

Oleh: Paul Ama Tukan*

Watak subjektivisme mendominasi ruang dialektis demokrasi dengan wajah penuh intrik. Menjamurnya subjektivisme terendus ketika pelbagai pihak dengan segala cara-berusaha melabelkan ke-aku-an dalam ruang publik.

Dominasi subjektif yang kental ini menampakan diri secara benderang bukan saja dalam media sosial sebagai jejaring mainstream tetapi juga secara praksis-seperti misalnya menjadi pihak oposan dalam ruang demokrasi yang banyak ditunggangi kepentingan parsial.

Terlepas dari intensi menciptakan “kewarasan” publik, watak subjektivistik inipun acap kali secara tak kasat mata menunggangi argumentasi substansial yang sesungguhnya melemahkan bobot rasional.

Di era pasca kebenaran ini, watak itu justru diperlihatkan secara jelas dimana orang bertindak hanya atas dasar sentimen dan emosi yang diproduksi lewat isu-isu agama, prestise, dan kekuasaan yang memancing agresivitas dengan sangat  kuat.

Peluang subjektivisme ini justru mencuat dalam komunitas maya di mana realitas konkret telah digusur dan rentetatan fakta bisa sedemikian ideal diciptakan demi memenuhi hasrat kepentingan.

Maka, kita perlu memeriksa detail-detail yang jelas antara kehadiran dunia maya, dan terjebaknya masyarakat publik pada subjektivisme yang bisa melumpuhkan cita rasa keberagaman seperti isu radikalisme, hoax, hate speech, dll.

Dalam bukunya “Homo Deus, Masa Depan Umat Manusia”, Yuval Noah Harari (2019) menemukan suatu penyakit akut yang sedang diderita manusia modern yang ia sebut sebagai FOMO (Fear Of Missing Out) atau penyakit “takut ketinggalan”.

Manusia berhadapan dengan jalan “acak” yang mengaburkan otentisitas diri dan terjebak dalam kesibukan individual. Ketakutan muncul karena sensasi subjektivistik dirasa semakin jauh untuk diraih kendati manusia tetap berjuang dalam segala upaya dan kondisi demi keberadaan “ada”-nya.

Ia muncul pertama kali tatkala orang dengan sangat ambisius melerai diri ataupun koloninya dari klaim-klaim kelompok lain dan dengan cara demikian ruang bagi terbukanya diskursus direpresi atau bahkan dipenggal.

Pada saat yang sama, kelompok semacam ini terjebak pada narsisme serentak memenggal apa yang oleh Lefort sebagai-suatu ruang hampa (empty place) bagi tumbuhnya respon konstruktif pihak yang “berbeda”. Fenomen semacam ini perlu dibaca dalam konteks dunia maya (virtual) yang menguasai peradaban dewasa ini.

Komunitas Maya dan Keterjebakan pada Subjektivisme

Komunitas maya sesungguhnya berangkat dari tendensi keterpesonaan pada keluasan jaringan (internet) yang membuat manusia membayangkan internet sebagai sebuah kombinasi (Supeli, 2010:336).

Kombinasi yang dimaksud ialah bahwa keluasan jaringan itu menyediakan  segala sesuatu yang dibutuhkan manusia: jejaring sebagai perpustakaan, pusat belanja, bioskop, koran, ruang hobi, dll.

Realitas menjadi ruang amat kecil yang mudah dijangkau. Keterpesonaan insan komunitas maya ini yang memungkinkan mereka-tidak hanya menonton suatu dunia yang ditampilkan tetapi memungkinkan orang juga untuk masuk, menghuni dan tinggal di dalamnya (Supeli, Ibid).

Keterpesonaan itu semakin akut terbaca pada realitas maya (virtual) di mana orang semakin  terpacu untuk masuk dan tinggal dengan multi cara dan bertendensi mengabaikan kedalaman berpikir.

Indikasi yang paling nyata ditemukan adalah membanjirnya postingan-postingan yang bermuatan intimidasi, emosi dan tendensi temperamental. Keterjebakan insan komunitas maya ialah ketika mereka dikerangkeng dan tidak mampu menentukan batas bagi dirinya sendiri.

Internet/dunia maya dengan demikian menjadi sebuah kekuatan deterministik yang terbebas dari kontrol kecuali oleh dirinya sendiri dan bebas mengontrol masyarakatnya (Gibson, dikutip dalam Supelli 2010:337).

Dalam komunitas maya, semua orang terlibat secara reaktif. Ruang ini dikatakan sebagai ruang “ketelanjangan” yang pregiven (terberi) karena kebebasan individu termanifestasi secara merdeka tanpa introspeksi yang mumpuni. Konsekuensi logisnya ialah kebebasan itu menjadi sebuah tanggung jawab personal dengan segala ke-aku-an yang melekat dalam diri masing-masing pribadi.

Ruang yang demikian bebas ini, menimbulkan suatu kepercayaan akan  independensi diri sebagai penentu nilai etis dan kebaikan. Lanskap publik justru menyediakan semacam “kaplingan” lahan yang lapang untuk direduksi secara semena-mena. Yang patut diterima di sini adalah subjektivitas hadir dengan wajah ganda untuk eksis dan ambisius menunjukan siapa dirinya – yang sebenarnya sudah membawa dalam dirinya suatu klaim kebenaran.

Pada titik ini menurut hemat penulis kebenaran yang dipersepsi oleh orang lain besar kemungkinan dianggap sebagai pemantik  api perpecahan dan penyulut kebencian. Etika dan norma yang dijunjung bersama adalah urusan belakang. Dengan demikian, subjektivisme pun tumbuh dengan sangat kondusif. Watak ini tak tepisah dari kebiasaan narsis yang pada akhirnya menggiring orang untuk eksis dengan segala cara yang tentu bertendensi lepas dari kerangka etis.

Komunitas Maya dan Narsisme

Dalam KBBI, Narsisme dimengerti sebagai “hal atau keadaan memiliki kecenderungan untuk mencintai diri secara berlebihan”. Narsisme yang minus nalar tampak dalam setiap postingan yang membanjir dalam medsos. Kita mendapati upaya mengkondisikan ruang yang bebas itu dengan klaim-klaim personal yang syarat muatan intrik.

Muatan intrik itu menyusup tatkala nalar dikolapskan berhadapan dengan hasrat keakuan yang terlampau menggebu. Penyebab utama narsisme ialah hasrat untuk tampil seideal mungkin dengan segala cara yang dianggap cukup untuk memikat atensi publik. Hasrat itu pada dasarnya sudah inheren dalam setiap manusia dan menjadi sesuatu yang melekat serentak dapat mempengaruhi dimensi eksistensial manusia.

Akan tetapi, hasrat itu berbalik buas tatkala timbulnya obsesi untuk “menaklukan” yang lain dan membiarkan diri terjerumus dalam keabsenan nalar. Di sini narsisme berbalik menjadi suatu hasrat yang di dalamnya terkontaminasi keinginan untuk “memangsa” orang lain dan tentu upaya memproklamirkan diri sebagai pahlawan. Mengentalnya narsisme terlihat ketika persaingan eksis yang kian hari kian ramai pada ruang publik dengan saling unjuk diri dan akhirnya terjebak pada usaha saling mengobjektivasi.

Pengaruh-pengaruh subjektivisme dan narsisme inipun menimbulkan suatu ekstremisme maya ataupun menurut hemat penulis menjadi basis pergerakan “radikalisme maya”. Dalam komunitas maya setiap orang mampu menjadi siapa saja yang mampu mengobjektivasi yang ‘lain’ dalam gerak pemikirannya sendiri.

Narsisme dengan demikian menjadi basis bertumbuhnya eksterimisme karena media mainstream adalah sasaran para ekstremis memanifestasikan ideologinya. Cara kerja kaum ekstremis menyusup pertama kali pada media mainstream karena di sanalah tercipta peluang untuk mengakomodasi ruang, memperkeruh keadaban publik dan bisa juga mencaplok ruang dialektis.

Raibnya “Empty Place”

“Empty Place” diperkenalkan oleh Lefort yang menempatkan pemikirannya dalam konteks demokrasi. Empty Place secara harfiah berarti ruang kosong, suatu situasi di mana orang dimungkinkan masuk dan menimba sesuatu dari suatu lanskap yang kosong.

Di sini, Lefort hendak menunjukan suatu fakta sekaligus keprihatinannya akan raibnya ruang dialektis (yang menjadi ciri khas demokrasi) dimana ruang itu tak lagi tercipta karena mencuatnya pelbagai klaim-klaim kebenaran parsial yang lebih menonjolkan eksklusivisme bepikir.

Jika Lefort pada zamannya melihat keprihatinan demokrasi dalam konteks eklusivisme berpikir maka, situasi itu tak ubahnya dengan konteks sekarang yang lebih menonjolkan realitas virtual ketimbang realitas konkret dengan segala macam “kesibukan”-nya.

Ada 2 indikasi yang dikemukakan di sini. Pertama, adanya penetrasi dunia maya yang menimbulkan adiksi/candu. Dunia maya bekerja dalam sistem algoritma yang membaca kebutuhan dan keinginan masyarakatnya. Algoritma bekerja dengan suatu strategi di mana agar ruang maya itu tetap dilintasi.

Masyarakat maya mudah terjebak ketika kebutuhan-kebutuhannya terasa dipenuhi secara kombinatif. Justu dalam keterjebakan itu, ia semakin dipacu untuk terlibat dan membuka ruang. Walhasil, orang merasa tetap terdesak untuk eksis di dunia maya walaupun tidak ada hal substansial yang cukup urgen.

Dengan demikian, ruang bagi terbukanya hoax semakin lebar. Hoax tercipta karena ada keterdesakan untuk eksis walaupun tidak ditunjang dengan pertimbangan rasional yang mumpuni. Hal ini pun berlaku bagi para korban hoax. Di sana ada eksklusivisme berpikir dengan klaim-klaim kebenaran yang palsu dan manipulatif. Karena kesibukan ini empty place itu raib, hilang dan tergerus.

Kedua, menguatnya rasionalitas instrumental. Rasionalitas instrumental berarti cara berpikir dengan menggunakan strategi-strategi untuk memperalat orang lain. Rasionalitas macam ini merupakan dampak langsung dari penetrasi dunia maya.

Rasionalitas ini menampakan wajah barbar manusia kepada sesamanya dengan memproduksi sebanyak mungkin komunikasi non etis, provokasi dan hate speech. Alhasil, realitas maya menjadi sebuah ruang dimana pertempuran sentimental terjadi tanpa sedikitpun mengupayakan dialog-dialog yang menyejukkan.

Lawan dari rasionalitas instrumental adalah apa yang oleh Jurgen Habermas sebagai Rasionalitas Komunikatif. Di sini ruang publik seharusnya menjadi suatu ruang  komunikasi secara rasional tanpa sentimen. Rasionalitas Komunikatif mengupayakan adanya keterbukaan untuk menerima “yang lain” dalam keberagaman perspektif.

Akhirnya, kita tak mampu mengelak bahwa komunitas maya pun memiliki sumbangan positif demi kemajuan peradaban. Akan tetapi perlu diingat bahwa upaya melabelkan ke-akuan di dalam ruang itu pun sering terjadi. Ketika orang masuk dalam dunia maya, dalam kesibukan yang tiada henti, orang justru memproduksi kebohongan, kebencian atau justru perpecahan di tengah cita rasa keberagaman negeri ini.

Di sini perlu suatu awasan dan terlebih upaya pribadi untuk tidak terjebak dalam tindakan demikian. Yang perlu diupayakan ialah keterbukaan, suatu pengakuan akan yang lain, yang berbeda yang terjalin dalam suatu rasionalitas komunikatif.

Dengan pengakuan yang lain, apapun perkembangan peradaban termasuk dunia maya pun tidak menggerus manusia kepada sikap saling melenyapkan dan tindakan atas dasar sentimen semata. Mari kita menjadi masyarakat komunitas maya yang bijak dengan menjunjung tinggi alteritas, semangat pluralistik tanpa melabelkan ke-akuan dalam kehidupan dan dunai maya khususnya. Empty place/ruang kosong harus selalu diupayakan karena di dalamnya penerimaan akan yang lain itu dapat dimungkinkan. (*)

*Paul Ama Tukan. Mahasiswa STFK Ledalero. Anggota Kelompok Menulis di Koran (KMK) Ledalero. Penghuni unit Mikhael, Ledalero