Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Pendidikan NTT»Politik Anggaran Pro Terhadap SDM Masih Rendah
Pendidikan NTT

Politik Anggaran Pro Terhadap SDM Masih Rendah

By Redaksi17 Desember 20195 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Ketua BMPS NTT, Winston Neil Rondo (Foto: Tarsi Salmon/Vox NTT)
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Kupang, Vox NTT-Ketua Badan Musyawarah Perguruan Swasta (BMPS) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) Winston Neil Rondo mengatakan, politik anggaran pro terhadap Sumber Daya Manusia (SDM) masih sangat rendah.

Menurut Winston, APBD Provinsi NTT tahun 2020 hanya 3,08 persen untuk peningkatan SDM.

“Ini jumlah sangat kecil dan membuat usaha-usaha untuk melakukan perubahan-perubahan nyata peningkatan kesejehtraan guru, kehadiran sarana-prasarana, peningkatan kompetensi guru menjadi sulit. Sulit untuk dibiayai,” ujar Winston kepada wartawan usai kegiatan diskusi akhir tahun “Evaluasi 2019 dan Proyeksi Pembangunan Pendidikan NTT Tahun 2020” yang diselenggarakan oleh BMPS NTT, Selasa (17/12/2019).

Menurutnya, ada banyak dari persepsi kebijakan revolusioner yang dicanangkan oleh Menteri Pendidikan Nadiem Makarim terkait merdeka belajar dan guru penggerak.

“Itu banyak implikasi untuk kita di NTT. Nah, pertanyaan kita bahwa sanggupkah kita untuk melakukan penyeseuain terhadap kebijakan – kebijakan pusat?. Karena sebagian besar pusatnya di guru sebagai penggerak dan murid sebagai subyek manusia yang punya berpikir. Dan itu ada hubungannya bagaimana mempersiapkan guru-guru kita. Peningkatan kompetensi, Bimtek, latihan, supaya bisa menjadi guru penggerak dan sistem merdeka belajar tadi,” tandasnya.

Ia mengatakan, kebijakan Pemerintah Provinsi NTT masih berwajah infrastruktur. Misalnya membangun jalan, jembatan, gedung-gedung. Kebijakan belum sungguh-sungguh mengapresiasi dan memberi investasi bagi pembagunan manusia.

Winston menegaskan, pendidikan adalah investasi. Kalau tidak melakukan itu, berarti tidak pernah sanggup untuk membangun masa depan SDM NTT.

“Sebagaimana amanat bapak Presiden Jokowi. SDM Unggul Indonesia Maju. Dinas pendidkan sendiri saya lihat punya kemajuan, punya data, punya informasi yang semakin maju. Dia tahu apa persoalan yang sedang dihadapi,” kata mantan Anggota DPRD NTT itu.

Jika politik anggaran tidak cukup memadai, kata dia, maka akan kesulitan juga untuk mengatasi persoalan.

“Sehingga sebagai BMPS dengan belajar catatan-catatan baik positif maupun kritik tajam yang terkait dengan pengalaman-pengalaman pendidkan kita selama kebijikan pemerintah tahun 2019,” ucapnya.

Oleh karena itu, Winston meminta pemerintah agar harus mengambil langkah-langkah jitu untuk memastikan investasi pembangunan SDM lewat pendidikan yang lebih baik dari tahun 2019.

Syaratnya menurut dia, pertama harus punya kos anggaran yang lebih besar. Kedua, memastikan bahwa kebijakan itu adil, baik itu sekolah negeri maupun swasta. Ketiga, investasi paling besar memang harus ditujukan bagi guru. Guru sebagai penggerak masa depan anak-anak dan murid sebagai subyek manusia berpikir.

“Begaimana menciptakan lingkungan yang menyenangkan dalam kelas,” tukas mantan Ketua Komisi V DPRD NTT itu.

Winston pun memberikan catatan 12 poin sepanjang tahun 2019.

Pertama, mencatat dengan tinta emas alokasi 50 Miliar dari APBD NTT untuk insentif transportasi bagi guru honor dan yayasan. Termasuk pembiayaan ‘kesra’ untuk guru negeri.

Kedua, bersukacita karena Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) online 2019 berlangsung lancar dan sukses, tanpa demonstrasi orangtua dan siswa, serta sistem zonasi dikawal ketat.

Ketiga, alokasi APBD untuk neraca pendidikan naik cukup signifikan.

Keempat, pelibatan sekolah swasta (BMPS) dalam pengambilan kebijakan pendidikan makin intensif.

Kelima, untuk pertama kalinya NTT sudah miliki grand desaign pembangunan Pendidikan dan Kebudayaan NTT 2020-2030.

Keenam, masih cukup sulit bagi guru swasta untuk mendapatkan NUPTK.

Ketujuh, masih belum seimbang alokasi bantuan sarana dan prasarana (sarpras) untuk sekolah swasta, baik dari pos APBN maupun APBD

Kedelapan, masih ada beragam masalah terkait tunjangan sertifikasi dan non sertifikasi

Kesembilan, realisasi dana bantuan operasional sekolah (BOS) sering terlambat dan berdampak terhadap pembelajaran sekolah. Akuntabilitas dana BOS juga masih sangat rendah.

Kesepuluh, masih ada kontroversi terkait pungutan sumbangan komite yang memberatkan orangtua siswa.

Kesebelas, guru sekolah swasta masih kesulitan mendapatkan akses untuk Bimtek dan pelatihan kompetensi guru.

Keduabelas, mutu pendidikan NTT konsisten nomor 30, selalu berjalan di tempat, hilang dalam derap perubahan.

Sementara harapan dan proyeksi pendidikan tahun 2020 tambah Winston, yakni,

Pertama, perjuangan kesejahteraan guru swasta dan negeri setara dalam APBD 2020 (insentif, transportasi, dan lain-lain)

Kedua, pastikan semua guru honor komite dan yayasan yang memenuhi syarat mendapatkan insentif transportasi.

Ketiga, mendukung DPRD dan Gubernur NTT agar memperjuangkan urusan guru menjadi urusan pemerintah pusat. Gaji semua guru dibayar dari APBN.

Keempat, semua guru honor dan yayasan NTT menjadi guru P3K yang dibiayai APBN.

Kelima, perkuat sistem PPDB dan kampanye sekolah berstandar pendidikan nasional (bukan sekolah murah dan favorit).

Keenam, perjuangkan beasiswa untuk siswa sekolah swasta.

Ketujuh, mendesak Gubernur NTT agar membuat kebijakan yang melindungi sekolah swasta dengan 2 kebijakan kunci yakni: tidak menarik guru negeri dari sekolah swasta dan mendukung penempatan guru negeri atau ASN di sekolah swasta.

Kedelapan, memberi kemudahan NUPTK untuk guru sekolah swasta.

Kesembilan, urusan dana komite sudah menjadi persoalan publik yang serius. Karena itu, harus segera diatur, ditertibkan, diawasi dan diaudit. Kemudian, mendesak untuk segera dikaji dan diterbitkan Pergub tentang pengelolaan dan pengawasan dana komite.

Kesepuluh, mendukung penuh gagasan Dinas Pendidikan untuk rekruitmen dan pembinaan Kepsek sebagai manager pendidikan di sekolah.

Kesebelas, mendukung literasi Bahasa Inggris jadi literasi utama di sekolah-sekolah swasta dan negeri (training, mentoring dengan jejaring mitra Bahasa Inggris).

Keduabelas, prioritas 2020 adalah meningkatkan alokasi anggaran untuk Bimtek/pelatihan dan pembinaan kompentensi, baik guru negeri maupun swasta.

Ketigabelas, mendukung gagasan Menteri Nadiem agar 4 prinsip Merdeka Belajar diterapkan sepenuhnya dengan alokasi anggaran prioritas dari APBD NTT dan kabupaten/kota pada 2020.

Penulis: Tarsi Salmon
Editor: Ardy Abba

BMPS NTT
Previous ArticleTidur Sekamar, Remaja di Ruteng Digerebek Warga
Next Article Tuntut Bongkar Kasus Kematian Ansel Wora, Polisi Diminta Libatkan Aipda Buang Sine

Related Posts

Seminari Kisol Luncurkan Renstra 2026–2031 untuk Hadapi Tantangan Era VUCA

5 Maret 2026

Renstra 2026–2031 Jadi Momentum Pembenahan Seminari Pius XII Kisol

5 Maret 2026

Seminari Pius XII Kisol Susun Renstra 2026–2031, Fokus pada Penguatan Kesehatan, Gizi, dan Tata Kelola

5 Maret 2026
Terkini

Cerpen: Mata Tua di Tubuh Bayi Bole Wote

6 Maret 2026

Tanah Ulayat, Identitas, dan Derita Sosial

6 Maret 2026

Desa Golo Riwu Tetapkan APBDes Tahun Anggaran 2026, KMP dan MBG Jadi Fokus Utama

6 Maret 2026

Rote Ndao Siap Jadi Tuan Rumah Selancar Ombak PON 2028

6 Maret 2026

Polres Manggarai Limpahkan Dua Tersangka Kasus Narkotika ke Kejaksaan

6 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.