Pius Rengka
alterntif text

Oleh: Pius Rengka

Sedikitnya, 30  penumpang bus wisata dalam perjalanan Bawen – Semarang- balik Jakarta, 1 Januari 2020. Perjalanan ditempuh 30 jam, lantaran terjebak hadangan banjir bandang di Jakarta. Normalnya, perjalanan Bawen – Semarang- Jakarta, ditempuh  8 jam lewat tol.

Kabar yang diperoleh menyebutkan, rombongan ini tak dapat masuk ke alamat rumah mereka masing-masing karena air meluap di mana-mana di seantero Jakarta. Derita yang dialami, rombongan ini kesulitan mandi, mencari makan, buang hajat. Menderita dan sakit.

Pengalaman serupa, juga dialami ribuan penduduk lain. Baik mereka yang tetap menetap di Jakarta selama pergantian tahun, juga mereka yang kembali Jakarta pada hari yang sama. 

Jakarta macet, bukan lantaran luapan kendaraan di jalan raya sebagaimana biasanya Jakarta, tetapi karena genangan air melampaui batas wajar sebagaimana biasa. Untuk membuktikan kebenaran ganasnya luapan air bah di Jakarta dan sekitarnya itu, ditunjukkanlah video dan foto genangan air yang menghalau dan menenggelamkan puluhan kendaraan. Video rumah penduduk diterjang banjir, bahkan lainnya foto  arus pengungsian ke tempat ungsian yang diduga nyaman untuk sementara. Juga yang meninggal dunia.

Semua video dan gambar disiarlanjutkan live melalui media sosial dan televisi. Fakta itu, tak terbantah juga tak perlu dibantah. Yang berbeda ialah cara tafsir atas peristiwa itu.

Menebak peristiwa itu, opini masyarakat mengalir seperti air bah menerjang dari segala arah. Komentar tentang kondisi dan situasi Jakarta dan sekitarnya, empat  hari belakangan ditafsir aneka rupa orang dari rakyat biasa hingga para akademikus kesohor.

Komentar tentang banjir Jakarta itu pun  tak hanya datang dari penduduk di Pulau Jawa. Tetapi dari berbagai arah di luar Jawa.  Komentar mereka dapat dilihat dan disaksikan melalui group WA, Facebook, Instagram, twitter dan televisi bahkan khabar melalui telpon. 

Isi komentar terbelah tiga. Kelompok pertama, nyaris habis-habisan mengutuk perilaku kekuasaan Anies Baswedan. Kata mereka, Anies Baswedan lebih gemar banyak bicara dibanding berbuat nyata.  Anies lebih terampil omong dari pada bertindak nyata mengatasi masalah Jakarta. Gubernur DKI, Anies Baswedan, sungguh terbukti tak layak dan tak sanggup menjadi pemimpin untuk mengatasi kerumitan kompleksitas masalah Jakarta. 

Para pengkritik itu pun mengutuk para pemilih Anies. Kemenangannya diperoleh melalui konsolidasi kekuatan politik berbasis agama. Isu agamalah yang memenangkan Anies. Tidak peduli apakah Anies Baswedan memiliki kapasitas dan integritas untuk posisi itu. 

Sekat politik paling primitif dan brutal dalam politik elektoral Jakarta adalah penggunaan isu agama itu. Anies Baswedan sendiri sesungguhnya dikurung tekanan multidimensional dalam menjalankan roda pemerintahan Jakarta. 

Kurung tekanan itu ialah tuntutan para pemilih. Mayoritas pemilih Anies adalah orang sekaum dengannya. Tekanan batin lain lantaran Anies Baswedan digusur Jokowi dari  Menteri Pendidikan karena ia dinilai tak becus memimpin departemen itu. Tekanan terakhir ialah tudingan bahwa Anies Baswedan sekadar pandai bicara di media publik. Ia tak  sanggup mewujudkannya dalam kenyataan empirik. 

Sejumput tekanan inilah, belum diurai tuntas Anies Baswedan secara tenang, sekaligus belum sanggup membebaskan dirinya, lalu bencana datang menghajar duluan.  Akhirnya, pilihan terbaik Anies ialah bersikap serba melawan, serba menolak masukkan. Karenanya dibangunlah narasi logis yang memperisai dirinya dari aneka serangan dan tudingan massal. 

Inti komentar mereka puncaknya pada tuntutan agar Anies Baswedan hendaknya sedikit tahu malu dan tahu diri. Dia diminta berendah hati. Perlu dipertimbangkan secara jantan mengundurkan diri. Di hati kecil Anies Baswedan, mungkin saja  ada tuding terhadap dirinya sendiri bahwa benar dia tak sanggup atasi masalah Jakarta. 

Tudingan kelompok ini, terkonfirmasi melalui penderitaan masif masyarakat Jakarta, baik pendukung garis keras maupun masyarakat lain yang sejak awal melihat Anies tak sanggup menempati posisi itu.  Singkat ceritera Anies Baswedan adalah pemimpin gagal.

Anies Meruak

Menanggapai kritikan kelompok pertama ini, Anies Baswedan, tentu saja, meruak kencang. Dia tak mengakui dirinya lemah. Dia merasa piawai merancang konstruksi pembangunan Jakarta. Anies Baswedan adalah Nabi Musa jaman ini yang sanggup membawa rakyat Jakarta exodus dari aneka belenggu rantai penderitaan.

Anies Baswedan pun terang-terangan berbeda arah pandangan dengan Menteri PUPR Basuki di televisi. Anies Baswedan berpendapat, sebab utama banjir di Jakarta karena di hulu lalai mengatur pembangunan. 

Jakarta, kata Anies Baswedan, hanya akibat  atau ekses dari kelemahan kebijakan publik di tempat lain. Inti jawaban Anies, apa yang dialami Jakarta bukan lantaran salah urus Jakarta, tetapi Jakarta menerima ekses salah urus pemimpin politik di tempat lain, termasuk salah telaah pemimpin-pemimpin sebelum Anies berkuasa. Air hujan bukan dialiri ke laut melalui gorong-gorong raksasa. Air hujan di seluruh dunia masuk ke tanah. Pemimpin sebelumnya salah fatal, kata Anies Baswedan. 

Kelompok kedua berpendapat lain. Mereka mengembangkan narasi bahwa banjir di Jakarta terjadi sejak zaman VOC. Di Jakarta itu banyak rawa. Siapa pun Gubernur Jakarta akan tetap mengalami banjir. Jadi, banjir bandang adalah hal biasa, yang tidak perlu panik irasional.

Pembelaan kelompok ini tegas.  Kata mereka, Anies Baswedan adalah Gubernur handal, cerdas, bijaksana. Kebijakan publiknya telah benar dan baik.  Anies tak hanya sanggup mengkonstruksi perubahan Jakarta sangat signifikan. Anies Baswedan pun pemimpin ideal yang justru didambakan Indonesia. Dia pemimpin bersenyum manis, wajahnya pun tampan, kata-katanya tertata apik rapi.

Kejadian Jakarta, kata mereka, tak boleh dikaitkan dengan politik elektoral karena banjir Jakarta tak ada urusan dan tak ada rumusan terkait pemilihan politik dan kekuasaan. Ini semata-mata realitas alam Jakarta yang rutin banjir. Banjir Jakarta ditimpa politik pembangunan di tempat lain tempat dari mana banjir itu datang. 

Intinya, banjir Jakarta peristiwa alam yang menyejarah. Kaum ini mengklaim paling paham konteks sejarah dan kontentnya. Artinya, Anies Baswedan tidak bersalah. Dia orang baik, cerdas, terampil bicara. Satu kata dan tindakan. 

Ditambahkan, ucapan Anies Baswedan sesuai perintah agama yang dianutnya, pas pula dengan tuntutan para pendukung politik pemilihnya dan sesuai dengan kehendak Yang Maha Kuasa. Jadi, banjir di Jakarta hanyalah bagian dari rencana Ilahi yang harus diterima seturut kemampuan para penerima.

Kelompok ketiga, mencermati  kejadian banjir Jakarta tidak serba hitam putih. Mereka mengajukan gagasan dengan data. Data sejarah banjir Jakarta sejak masa penjajahan (Batavia), data konstruksi anggaran dan kebijakan pembangunan Jakarta semasa Anies. Data konstruksi pembangunan  Jakarta di masa Anies Baswedan disandingkan dengan data konstruksi pembangunan selama kepemimpinan Basuki Tjahja Purnama (BTP).

Diungkapkan, pada periodesasi yang sama, arah kebijakan dua tokoh hebat ini disandingkan sambil menunjuk implikasi empiriknya. Basuki Tjahja Purnama mengembangkan leadership yang lugas, tegas dan terus terang (artinya ide, proses dan anggaran).  Pembangunan Jakarta dapat diakses semua pihak. Asas transparansi, tanggung gugat, dikemukakan tanpa tedeng aling-aling. 

Salah satu hasil terpenting ialah terkait teknik mengatasi  banjir Jakarta. Gorong-gorong raksasa dan suket dibangun. Bantaran daerah aliran sungai dikeruk. Dibentuk organisasi pengendali air berbaju kuning yang dikontrol Gubernur Basuki Tjahya Purnama, apalagi saat menjelang musim hujan tiba. Maka normalisasi kali Ciliwung pun dipatok 31 km. Yang sudah dibereskan 16 km dengan harapan konstruksi tersisa dituntaskan pemimpin setelahnya. Anggaran 800 miliar. Akibatnya, meski normalisasi kali Ciliwung baru dikonstruksi 16 km, tetapi banjir dijinakkan. Jakarta luput dari terjangan air bah. Kecuali itu, ada penggusuran okupan di tepi sungai. Mereka dipindahkan ke rumah susun yang disiapkan pemerintah.

Sebaliknya, Anies Baswedan. Konstruksi pembangunan dan anggaran, berbeda sangat diametral. Ide pembangunan terbuka, proses lainnya relatif tertutup. Hasilnya, pembangunan normalisasi kali Ciliwung terhenti dari rencana awal 30-an km.  Anggaran normalisasi sungai dipangkas 500 miliar. Anies Baswedan memilih metode naturalisasi. Mimpinya, air hujan masuk ke tanah bukan ke laut sesuai ajaran agama dan gejala univeral dunia. Tepi sungai tak perlu gusur para okupan. Dalam waktu tak pernah tertentu akan ada hutan tepi sungai. Air meresap ke tanah. Tidak perlu gorong-gorong.

Dengan tandas dikatakan Anies Baswedan, Basuki Tjahja Purnama salah fatal membangun gorong-gorong raksasa. Organisasi pengendali banjir berbaju kuning dibubarkan. Puncak kebijakan itu, Jakarta kini banjir. Lalu, Anies menyusun narasi konstruksi pembangunan di hulu salah.

Anggaran 500 miliar untuk melanjutkan konstruksi normalisasi kali Ciliwung dialihkan ke belanja lem, belanja team gemuk penasihat, dan belanja lain yang dinilai Anies lebih prioritas tinggi dibanding urus skenario atasi banjir Jakarta.

Pada akibatnya, demikian kelompok ketiga berpendapat, di kepemimpinan Basuki Tjahya Purnama, banjir dapat dikendalikan, di saat Anies Baswedan banjir tak dapat dikendalikan. Basuki Tjahya Purnama tidak menuding pemerintah Bogor, tetapi dia sibuk mengendalikan kemungkinan yang diakibatkan luapan air dari tempat lain. Anies Baswedan justru bersikukuh menuding banjir kiriman dari tempat lain antara lain dari Bogor. 

Basuki Tjahya Purnama menilai urusan banjir Jakarta itu prioritas tingkat tinggi. Anies Baswedan urusan banjir bukan prioritas, melainkan beli lem sambil kritik pemerintah  di hulu sungai tempat dari mana banjir itu datang. Basuki Tjahya Purnama mengalirkan air ke laut, Anies Baswedang menguburkan air ke tanah karena sesuai keyakinannya. 

Karena itu, Anies Baswedan berpendapat kecuali dibangun kanal di hulu, masyarakat pun ikut berdoa. Doa diduga menyesaikan segala hal. Banjir Jakarta tidak dijinakkan dengan normalisasi jalur aliran air, tetapi naturalisasi. Tujuan ganda. Air diserap ke tanah sambil menghijaukan lingkungan sekitar dan membiarkan okupasi di bantaran sungai. 

Tafsir selanjutnya, Pemerintah Pusat, dinilai gagal paham soal Jakarta. Faktual, rakyat tak peduli urusan naturalisasi atau normalisasi. Bagi rakyat, hidup nyaman di Jakarta itu perlu. 

Penggunaan Kekuasaan

Kisah Jakarta sebagaimana dilukiskan di atas merefleksikan tentang cara penggunaan kekuasaan. Kekuasaan itu adalah kursi. Kursi mengubah kelakuan atau  kelakuan manusia berubah saat berkuasa. Sede morum mutatio atau mutat mores, cum regnandi. Itu gejala biasa. Gejala itu, sama tuanya dengan usia politik. 

Konsep kekuasaan itu penting dalam sistem sosial. Wajah kekuasaan, demikian Kenneth Boulding (1989) ada tiga rupa.  Kekuasan berfungsi mengancam, kekuasan ekonomi dan kekuasaan integratif. Kekuasaan itu dapat difungsikan untuk merusak, juga kekuasaan dapat memproduksi dan mengubah keadaan, atau mengintegrasikan semua jenis kepentingan.

Tentu saja, catatan awal tahun ini, tidak dimaksudkan untuk  menulis seluruhnya pikiran Boulding, kecuali membuat sketsa metaphora. Sketsa metaphoris itu berfungsi  untuk melihat kekuasaan yang sama dapat berubah fungsi pada orang berbeda naluri. 

Kekuasaan itu ada pada Basuki Tjahja Purnama, Anies Baswedan atau pun kekuasaan yang sama di mana saja aksi kekuasaan itu hendak dipakai orang berbeda tabiat. Pertanyaannya mengapa kekuasaan yang sama diwujudkan berbeda oleh tiap penguasa? Jawaban umum, tiap penguasa memiliki konteks sejarah pribadi berbeda. Cermati kisah berikut ini.

Sebut saja, pria itu bernama Lucas Butanua.  Ia kelahiran musim paceklik. Lahir di sebuah sudut kampung tak kesohor  dari keluarga sederhana nyaris sempurna hina dina. 

Luka-luka kehidupannya, mengajarkan dirinya untuk senantiasa bekerja keras. Dan, juga berlaku keras dan kasar. Jauh darinya tatakrama penuh adab dengan selimut peradaban yang pantas. Hidupnya, telah mendidik dirinya menjadi manusia yang, kadangkala nyaman menghalalkan segala cara. Bahkan, pilihan cara yang dianggapnya halal, justru  persis sebaliknya dengan cara halal bagi kebanyakan orang berpikir waras. Tetapi, Lucas, lain. Dia penuh sejarah dhuka dan luka.

Dia tak hanya lain dalam keunikan hidupnya dan terutama substansi sejarah hidupnya, persis terkonfirmasi secara empirik mengkonfirmasi kata Dale Carnigie, remember there has no one like you in the world, you are unique. Ia pun membawa sejumlah jenis kelainan. 

Sejarah masa silam, sungguh benar, tak mungkin diubah, tak perlu digugat apalagi disesali. Masa depan itulah yang layak ditata, ditatap. Diyakini dapat diubah dan direncanakan mulai sekarang. Segala perkara harus dirajut menjadi selembar sejarah baru. A new era of life.

Sekali peristiwa, perjalanan nasib sejarah Lucas mengubah seluruh hidupnya dan terutama pandangan hidupnya. Dia sadar. Dia datang dari lapisan paling miskin di kampungnya lalu muhibah ke lapisan sosial kelas menengah atas oleh takdir sejarah. 

Mutasi sosial, dan juga mungkin metamorphosa sosial, dari kelas paling hina dina merangkak ke kelas menengah atas, dilaluinya penuh dhuka lara, hina dina, derai tangis air mata, penuh gertak gigi, dan tentu saja, dilumuri sejumlah permainan kotor, keras dan dekil. Tetapi dia berubah dan terus mengubah dirinya. Mutasi fisik psikologis dan sejarah hidup mengikutinya tanpa sedikit pun lelah melupakan dirinya.

Maka, pada satu titik simpul sejarah nasibnya, jadilah dia seorang berpengaruh. Dirinya pun dililit  sejumlah temali sebutan. Dia dihujani aneka pangkat sosial. Dia pejuang kemanusiaan, pembela kebenaran, dan si pemurah hati. 

Dan, lihatlah. Para sahabat atau diduga sahabat, membentuk lingkaran berkeliling di sekitarnya entah hanya menyentuh  bayangannya, entah untuk menanti remah-remah belas kasihannya, entah hanya untuk membaui sedikit aroma parfumnya, atau agar desah derita masa silamnya  diputar ulang sebagai heroik tentang kekitaan yang, satu front di masa lalu, dan kini hendak menampiknya dengan segala cara yang paling mungkin.

Jadilah Lucas Butanua kepala desa di sebuah kampung miskin, penyakitan, melarat dan penuh korupsi. Dia bertengger di puncak kekuasaan, sambil melihat jelata di bawah. Diam-diam dia bertekad menuntaskannya. Tetapi dia tak sanggup. Dia ragu dan gagu.

Dia terengah-engah, seperti seorang cacat penggendong luka yang, sedang merangkak mendaki bukit berbatu terjal tajam. Ucapannya, bernas berisi, tetapi nihil akibat. Nasib rakyat tak banyak berubah, realitas sosial mengalir saja mengikuti hukum alam. Bahkan, mengikuti alur mutasi mutan ala Charles Darwin, survival of the fittest

Namun, kawanan di sekitarnya, belum pulih dari masa silam mereka. Romantisme masa lalu selalu didayung entah untuk apa. Mereka masih terus dahaga kuasa, haus pengaruh, haus duit, haus aneka rupa bentuk dan warna, sehingga setiap kesempatan yang mungkin datang melalui kuasa harus ditelan tanpa kunyah pula. 

Satu kata yang kuat berkesan kemudian datang kepadanya, dan terutama kepada lingkungannya, bahwa dia dan kaumnya tak beda jauh dari orang kebanyakan di daerah dekil lain di jagat raya ini. Dia SERAKAH.

Serakah, bagi pemimpin kharismatis India, Mohandas Gandhi, tak sanggup diobati oleh sejumlah sumberdaya yang tersedia di  semesta. Semua kebutuhan manusia, kata Gandhi, sesungguhnya dapat digenapi dunia ini. Tetapi dunia ini dan bahkan semesta ini pun tak sanggup melayani keserakahan seorang. Tuhan pun mungkin lupa mengendalikan keserakahan manusia. Ini bukan soal putus asa, tetapi tentang ketamakkan.

Refleksi Fundamental

Pada situasi demikian, teringatlah kita pada aneka warna tentang cara manusia terhormat membuat pilihan. Perihal pilihan, manusia dihadapi dengan aneka pertanyaan yang paling fundamental yang dapat ditanyakan dalam satu peradaban. 

Yaitu, mengenai hakekat baik dan buruk, serta benar dan salah. Dan, kita semua diundang untuk memecahkan  problem sosial ini dengan mengadakan tiga pembedaan fundamental.

Filsuf Sidney Hook (1980). Dia berkata, pertama kita harus mulai dengan mengakui pernyataan-pernyataan etis atau keputusan moril yang dibuat orang mengenai sesuatu yang lebih baik daripada sesuatu yang lain, sesuatu yang lebih buruk dari pada yang lain.

Kedua, kita harus dapat membedakan pernyataan-pernyataan etis ini dari analisa meta-etis mengenai maknanya. Orang mengatakan bahwa ini baik, akan tetapi apa yang dimaksud dengan baik itu? Mereka setuju bahwa sesuatu itu lebih baik daripada sesuatu yang lain, akan tetapi apakah yang mereka  maksudkan dengan lebih baik itu?

Ketiga, pembedaan mengenai pembenaran etis. Bagaimanakah kita dapat membenarkan suatu pernyataan bahwa sesuatu itu baik atau buruk, ataupun sesuatu itu lebih baik atau lebih buruk?

Namun, kerap disadari, bahwa kita tahu apa yang baik, walaupun kita belum tentu tahu mengapa hal tersebut baik? Hal tersebut tidak hanya berlaku dalam etika, melainkan juga dalam ilmu lain semisal eksakta. 

Katakanlah, para pembaca setuju dan menyatakan benar bahwa jarak antara Flores dan Timor itu lebih jauh dibandingkan antara Timor dan Rote. Tetapi akan timbul keraguan misalnya, ketika saya menduga saja semua pembaca adalah  para filsuf dan saya mengajukan pernyataan dan juga pertanyaan tentang kebenaran. Saya dapat pastikan, satu dengan lainnya akan berbeda dan berdebat menjadi sangat seru.

Begitu pun Lucas Butanua. Dia pikir dia benar sendiri, merasa baik sendiri, dan karena itu tindakannya diduganya sendiri selalu benar dan baik saja adanya. Tetapi lihatlah adakah korelasi ucapannya, tindakannya dengan kenyataan? 

Begitu pun mungkin, yang dialami Basuki Tjahja Purnama dengan Anies Baswedan. Ucapan dan tindakan Basuki Tjahja Purnama berkorelasi positif dengan kenyataan, sedangkan ucapan Anies Baswedan terkesan  sangat samar relasi ucapannya dengan kenyataan.

Maka penggunaan kekuasaan diuji dengan kenyataan atau kenyataan selalu menjadi ujian bagi seluruh ucapan, bukan ucapan itu benar pada dirinya sendiri. Camkanlah, bahwa Setan dan Malaikat dapat mengatakan hal yang sama, dapat mengutip perikop kitab suci yang sama, tetapi motif dan kenyataan amat sangat berbeda arah. 

Setan membawa manusia menuju neraka, sedangkan Malaikat menggring umat manusia menuju surga. Karena itu, Malaikat menampakkan surga melalui dunia, sedangkan Setan menjadikan dunia sebagai ladang kejahatan dari neraka. Kuasa yang sama akan berbeda arah pada Malaikat dan Setan.

Akhirnya, Lucas Butanua, mungkin saja menjadi serupa ini sekarang, karena pengalaman hidupnya. Hal serupa juga dengan Basuki Tjahja Purnama dan Anies Baswedan tatkala mereka berkuasa. Kisah Basuki Tjahja Purnama tegas mencahayai kekuasaannya dengan nilai-nilai etis, sedangkan lainnya mungkin antietik. 

Para pemilih politik tentu saja boleh berdebat hari ini tentang hal itu, tetapi memilih calon pemimpin yang baik dan buruk adalah sejenis pilihan etis. Dalam pikir Sydney Hook, jika sudah jelas ada calon pemimpin buruk di satu pihak dan ada calon pemimpin baik di pihak lain, maka memilih pemimpin baik bukan pilihan etis dari dua jenis calon itu. 

Pilihan etis itu akan hadir ialah ketika ada dua calon pemimpin sama buruknya dan mungkin juga sama baiknya. Yang dipilih rakyat adalah pemimpin yang lebih baik dari calon pemimpin baik yang lain, atau calon pemimpin buruk yang level keburukannya jauh lebih sedikit dibanding calon pemimpin buruk lainnya. 

Alasan saya selalu melawan cara menentukan pemimpin dengan transaksi duit ialah karena kekuasaan yang diperoleh dengan transaksi melahirkan pemimpin jahat. Pemimpin jahat akan selalu berorientasi pada kepentingan kaumnya atau dalam bahasa yang lebih kampungan pemimpin buruk bersekutu dengan keluarga sendiri, suku sendiri, agama sendiri, meski pun mereka kebanyakan buruk adanya.

Transksi politik itu dapat berwujud transasksi agama, uang dan sejenisnya. Akibatnya kekuasaan yang diperoleh dikendalikan oleh penjahat yang setia menghalalkan segala cara, melanggar hukum atau kekuasaan yang diperoleh secara demokratik akan melahirkan pemimpin baik hati.

Tentu saja banyak pemimpin Lucas Butanua di sekitar kita. Entah karena sejarah hidupnya atau karena jenis kebingungannya dalam memimpin rakyatnya. Tetapi satu yang pasti ialah banjir dan bencana dalam bahasa kekuasaan merupakan  representasi dari kemampuan pemimpin atau penguasa. Atau dalam bahasa Kenneth Boulding, kekuasaan yang disebut dengan threat power. Begitulah.