Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Pendidikan NTT»Pemerintah Diminta Bentuk Tim Khusus Evaluasi Pembelajaran Secara Virtual
Pendidikan NTT

Pemerintah Diminta Bentuk Tim Khusus Evaluasi Pembelajaran Secara Virtual

By Redaksi7 Agustus 20203 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Dosen Fisip Ilmu Pemerintahan Universitas Widya Mandira (Unwira) Kupang, Thomas Susu usai diwawancarai awak media di Kupang, Jumat, 7 Agustus 2020 (Foto: Vox NTT/Tarsi Salmon)
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Kupang, Vox NTT – Pemerintah provinsi dan kabupaten/kota melalui Dinas Pendidikan di Nusa Tenggara Timur (NTT) diminta untuk membentuk tim khusus terhadap evaluasi pelaksanaan pembelajaran secara virtual (daring).

Hal ini disampaikan Dosen Fisip Ilmu Pemerintahan Universitas Widya Mandira (Unwira) Kupang, Thomas Susu kepada wartawan di Kupang, Jumat (07/08/2020).

Menurut Thomas evaluasi itu mesti dilakukan untuk mengetahui sejauh mana model pembelajaran menggunakan sistem daring tersebut.

Karena kata dia, model ini dipaksa untuk diterapkan tanpa ada persiapan terlebih dahulu hanya karena adanya pandemi Covid-19.

Dengan adanya tim khusus untuk melakukan evaluasi dimaksud agar ada tanggung jawab yang diberikan atas hasil kerja yang dijalankan.

“Dari kegiatan evaluasi, kita bisa tahu kelemahan sistem pembelajaran, sumber daya, input, dan dampak untuk selanjutnya dicari model pembenahannya,” kata Tomi demikian Thomas disapa.

Ia berargumen, hingga saat ini belum ada format yang dipakai untuk melakukan evaluasi terhadap model pembelajaran menggunakan sistem daring.

Kata dia, para guru termasuk dosen di perguruan tinggi pun belum dapat mengukur perkembangan pengetahuan anak. Para peserta didik hanya ditugaskan untuk mengerjakan soal- soal tanpa ada penjelasan bila para peserta didik menemukan kesulitan saat mengerjakan soa- soal.

“Kalau pembelajaran offline atau tatap muka di kelas, para guru atau dosen bisa jelaskan secara sederhana terhadap materi ajar, bahkan menggunakan gestur tubuh agar para peserta didik bisa memahami materi yang diajarkan,” jelasnya.

Ia menegaskan, harus diakui hingga saat ini belum ada instrumen yang tepat bagi orangtua untuk menertibkan anak- anak dengan sistem pembelajaran daring.

Memang jelas dia, orangtua diminta untuk membantu dan mengawasi anak- anak selama pembelajaran daring, tapi tidak bisa mendisiplinkan anak- anaknya.

“Karena selama ini, hanya sekolah yang mengatur soal disiplin belajar dan ditaati para peserta didik,” tuturnya.

Ditanya apakah pelaksanaan sistem daring ini harus diselingi dengan sistem offline, Tomi mengatakan, terlalu mahal bagi guru untuk menjalankan tugas dimaksud.

“Karena harus membagi waktu untuk mengajar dalam beberapa sesi setelah adanya pembatasan jumlah siswa dalam satu kelas,” tandasnya.

Selain itu kata dia, adanya risiko penularan Covid-19 di antara sesama siswa. Sebelum ditemukan antivirus Covid-19, proses pembelajaran sistem daring masih berlaku.

Ia menambahkan, diskusi yang dilakukan saat ini bukan soal penerapan kurikulum tapi teknis pemanfaatan teknologi informasi.

Pasalnya, tidak semua tenaga pendidik akrab dalam memanfaatkan dan menggunakan informasi teknologi.

Dikhawatirkan, menggunakan aplikasi internet seperti WhatsApp baru akan dilakukan setelah berada di sekolah atau kampus karena ada layanan wifi.

“Dengan demikian, pembelajaran daring tidak memberi hasil yang maksimal karena waktu belajar tidak efektif,” ujarnya.

Harus diakui tambah dia, sistem pembelajaran daring hanya menciptakan generasi pengguna (user) tanpa memiliki kreativitas dan inovasi yang tinggi.

Penulis: Tarsi Salmon
Editor: Ardy Abba

Kota Kupang
Previous ArticleTerkait Polemik Pemprov dengan Fraksi DSP, BK DPRD Segera Gelar Sidang Laporan
Next Article Menteri PUPR Puas dengan Progres Proyek KSPN di Labuan Bajo

Related Posts

Dugaan Pungli Pengambilan SKL dan Ijazah di SMPN Satap Munde Matim, Warga Desak Dinas Tindak Tegas

18 Juli 2026

Dua Siswa SMPN 10 Poco Ranaka Lolos OSN Provinsi, Wakili Manggarai Timur

14 Juli 2026

SMP Tujuh Tangkai Pulau Boleng Buka Pendaftaran Siswa Baru, Permudah Akses Pendidikan Anak Kepulauan

29 Juni 2026
Terkini

Gubernur NTT Minta PMKRI Tetap Jadi Mitra Kritis Pemerintah

21 Juli 2026

Bupati Matim Dorong Kongres PMKRI Hasilkan Rekomendasi untuk Manggarai Raya

20 Juli 2026

Bupati Manggarai Harap Kongres PMKRI Hasilkan Rekomendasi untuk Daerah 3T

20 Juli 2026

Bantuan Rp100 Juta per Desa Mulai Diimplementasikan, Bapperida NTT Intervensi Manulai 2

20 Juli 2026

PMKRI Perkuat Komitmen Kawal Pembangunan dan Kebijakan Nasional

20 Juli 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.