Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Sastra»Homo Viator-Puisi-Puisi Sonny Kelen
Sastra

Homo Viator-Puisi-Puisi Sonny Kelen

By Redaksi16 Agustus 20204 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Ilustrasi (Foto: Istimewa)
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Homo Viator

Kudengar ronta abad yang berdetak

Saat jejakku terperangkap ke persimpangan usia

Warkat yang kau kirim

Ke segala alamat telah kubaca di jelang berangkat

Padahal telah kupahat keputusan ini dengan palu

Di kalbu

“aku tak biarkan ziarahku ini terperangkap

Di jejaring rayumu”

Sebab lelah kutulis ziarah ini pada setiap halaman keputusan

Dengan nama yang sama pada nisan-nisan kematian

Tempat terakhir ziarah yang akan ku kunjungi

Sebab telah kulupakan siksamu sepanjang luka

Kini kurindukan kesetiaan pada secercah lilin

Yang menunggu dalam putih dan semacamnya

Jika dalam keyakinan pun masih kau pendam keraguan

Sering-seringlah membaca puisi yang kutulis tanpa curiga itu

Dari setiap perjalanan homo viator

 Puella

Rahasia ini menyimpan kedutan tak tentu pada nadiku; terperangkap erat

Pada retina matanya yang biru. Duka tumbuh tujuh kali tujuh kali tepat pada setiap waktu

Yang terkelupas pada batang hari. Riwayat penciptaan dari rusuk laki-laki, seperti sebuah mitos

Turun temurun yang tak lagi dipercaya sebagai kebenaran. Dari setiap headline surat kabar

Tanah air selalu menyebut-nyebut namanya. Malaikat pun tahu, mereka tak dihargai sebagai

Ciptaan yang setara dengan laki-laki. Sebab membacanya saja tanah ikut retak.

Membiarkannya saja keringat penuh debu. Kaki masih lalu,mulut masih jambu.

Tubuh ini tak boleh kau berhalalkan sebab ruah telah dihembuskan pada hari pertama

Dan rusuk telah dibagikan untuk hari-hari berikut

Hargai mereka. Sebab selalu ada jumpa padamu, lebih nikmat dari anggur

Lebih merdu dari lagu. Jalan masih panjang; sebelum kau memakau pada mata birunya

Menghitung kenangan dari rahim yang melahirkanmu. Sebab kau perlu tahu: Tuhan masih

Menunggu kita yang tak pernah lebih seru dariNya.

Inne

Masih kekal benar kudengar suara ringkih manja

Kala pagi semakin sahid merendam rindu di sudut kamar

Juga tetap merdu suara yang memanjakan langit penuh harap

Sedang waktu tua tumbuh melintas dan musim telah mengetuk tanya

Di senja usia; aku masih mengadah

Tiba-tiba pasrah menikam mata di pelukan

Pusaran damai

Akankah kupertahankan juga amis rindu yang semakin tajam

Sedang cuaca menggodaku menyibak tingkap

Kenangan anggur manis dari asi yang selalu kukunjungi setiap waktu

Ketika di usia belia?

Arca-arca semakin lapuk saat kereta mengajakku mengunyah jarak

Dari balik lampin tempat pertama kali aku membaca dunia

Lewat nyanyian merdu: Nina bobo

Dan putih kasih di pangkuan manisnya inne

Senja di Pangkuan Ibu Kota

Setelah kepulangan menghitung sisa-sisa kenangan

Dengan penuh teka-teki masa depan dan halusinasi

Berkeliaran antara cinta dan cita

Setapak langkah menapak dialun-alun ibu kota

Semburat lembayung memerciki warna cuaca hidup yang baru

Seperti aneka cuaca yang membenam lalu hilang dibalik senja ibu kota

Semuanya telah ditelan bersama hembusan angin malam dan diporak-porandakan

Oleh mata angin kehidupan

Tadi mentari bersinar cerah; tapi kini menjelma dengan libidonya yang tinggi

Memancarkan sinarnya yang kian memanas dan bergeming pada merobeknya moralitas

Semua orang saling berkutat bating; dibanting depresi dan jeritan kelam terdengar di mana-mana

Ronai wajah indah berseri setelah ditikam duka paling keji di pangkuan ibu kota

Di Depan Makam

Hujan masih beku; belum juga api mampu dipadamkan kabut

Sedang ratapan masih membekas sedang langit masih jauh

Dan laut masih menunggu

Di jeda pergimu, matahari mengupas geliat lalu kau hilang menyelam ke liang lahat

Kebisuan tercipta diantara malam yang temaram

Dan kenangan yang mungkin akan kaugenapi pada barisan lain

Dan diceritakan seperti bidadari

Maka setangkai kamboja yang kau tinggalkan

Di kaki jendela kematianmu

Di sudut tenggelam matahari

Kami kenang sebagai setangkup harap

“Aku akan datang saat harum kamboja

Ranum di hidungku dan cahaya lilin terang di rumahku.”

Di situ telah kau ajarkan kami

Bahwa untuk merayakan sebuah pertemuan

Tak seharusnya kita berhadap-hadapan muka

 

*Sonny Kelen sekarang tinggal di Unit Gabriel Ledalero Maumere-NTT

[1] Homo Viator dalam bahasa Latin yang berarti manusia peziarah

[2] Sebutan untuk perempuan dalam Bahasa Latin

[3] Panggilan untuk ibu dalam bahasa Lamaholot; Flores Timur-NTT

Sonny Kelen
Previous ArticlePotret Dinasti Politik; dari Putra Jokowi hingga Risma, Bagaimana NTT?
Next Article Ibu, Aku Mencintai Adonai

Related Posts

Surat Cinta untuk Mama

7 Maret 2026

Cerpen: Mata Tua di Tubuh Bayi Bole Wote

6 Maret 2026

Pendoa Bermata Biru

23 Februari 2026
Terkini

Pentingnya Pendidikan Karakter dalam Membentuk Generasi Remaja Berintegritas

7 Maret 2026

Tuhan sebagai Gembala dan Bapa Yang Penuh Belaskasih dan Mengampuni 

7 Maret 2026

Surat Cinta untuk Mama

7 Maret 2026

Imigrasi Labuan Bajo Gelar Sosialisasi Bersama Desa Binaan di Kabupaten Manggarai, Cegah TPPO dan TPPM

7 Maret 2026

Demokrat Kritik Bawaslu NTT Soal Pelanggaran Pemilu 2024

7 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.