Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Ekbis»Unika Ruteng Gelar Bimtek untuk Pengelola Desa Wisata Meler
Ekbis

Unika Ruteng Gelar Bimtek untuk Pengelola Desa Wisata Meler

By Redaksi8 Oktober 20203 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Kegiatan bimbingan teknis untuk pengelola Desa Wisata Meler di Aula Hotel Revaya Ruteng, Kamis (08/10/2020) (Foto: Ardy Abba/ Vox NTT)
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Ruteng, Vox NTT- Unika St. Paulus Ruteng menggelar kegiatan bimbingan teknis di Aula Hotel Revaya Ruteng, Kamis (08/10/2020).

Bimtek dimulai dengan penerimaan secara adat (kepok) dan pengalungan untuk tim Kementerian Pariwisata, serta sambutan pembuka oleh Rektor Unika Ruteng Dr. Yohanes Servatius Boy Lon.

Kegiatan yang melibatkan 25 orang pengelola Desa Wisata Meler, Kecamatan Ruteng tersebut bekerja sama dengan Direktorat Pengembangan SDM Pariwisata Deputi Bidang Sumber Daya dan Kelembagaan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Sedangkan 5 orang lainnya adalah pamateri dari Unika St. Paulus Ruteng.

Mereka ialah, Dr. Sebastianus Menggo, Dr. Inonsensius Sutam, Yosefina Rosdiana Su, Felisitas Ndeot, dan Alberta Parinters Makmur.

Sebagai informasi, Dr. Sebastianus Menggo dalam bintek tersebut membawakan materi tentang pelayanan pariwisata berbasis cleaniness, health, safety, dan environment (CHSE) dan sapta pesona desa wisata.

Lalu, Dr. Inonsensius Sutam membawakan materi tentang sadar wisata dan pelayanan prima, Yosefina Rosdiana Su tentang eksplorasi desa wisata, Felisitas Ndeot tentang kemasasan (packaging) produk pariwisata dan Alberta Parinters Makmur tentang segmentasi pasar di desa wisata.

Koordinator kegiatan Bimtek, Dr. Sebastianus Menggo, menjelaskan Bimtek bertujuan agar ada pemahaman yang sama para pendamping terhadap pengembangan Desa Wisata Meler ke depannya. Itu terutama di era Covid-19 dan pasca penyakit pandemi tersebut.

Sebastian mengaku pihaknya melakukan upaya pendampingan terhadap pengembangan Desa Wisata Meler berdasarkan Surat Keputusan (SK) dari Dinas Pariwisata Kabupaten Manggarai.

Koordinator kegiatan Bimtek, Dr. Sebastianus Menggo (Foto: Ardy Abba/ Vox NTT)

Bimtek tersebut juga, kata dia, merupakan bagian dari program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Unika St. Paulus Ruteng.

Dalam materinya, ia mengungkapkan sedikitnya ada tujuh unsur utama dalam pengembangan desa wisata. Itu antara lain aman, tertib, bersih, sejuk, indah, ramah, dan unsur kenangan.

Sedangkan, Felisitas Ndeot dalam materinya mengatakan, kemasan (packaging) menjadi salah satu daya tarik wisatawan. Packaging adalah desain kreatif yang menghubungkan bentuk, struktur, material, warna, citra, tipografi, dan elemen-elemen desain dengan informasi produk agar dipasarkan.

Menurut dia, materinya penting disampaikan untuk mengedukasi dan meningkatkan komptensi pengelola desa wisata agar memiliki pemikiran terbuka dalam pengembangan produk/paket wisata di era new normal. Kemudian, mengeksplor potensi pariwisata unggulan melalui packaging, sehingga menjadi daya tarik bagi wisatawan.

Sementara itu, Yosefina Rosdiana Su dalam paparannya mengatakan, Meler adalah salah satu desa yang memiliki potensi wisata yang sangat menarik.

Potensi wisata sawah jaring laba-laba Lodok Cara, kata dia, tidak akan ditemukan di belahan dunia manapun.

“Daya tarik dari sawah berbentuk sarang laba-laba ini adalah sebuah produk wisata yang sesungguhnya memiliki nilai jual yang sangat tinggi apabila kita mampu mengelola potensi ini sesuai dengan standar pengelolaan desa wisata yang tepat,” ujar Yosefina.

Meski begitu, masih ditemukan masalah yakni terbatasnya sarana dan prasarana penunjang dan terbatasnya biaya atau anggaran untuk pengembangan sektor wisata.

Kemudian, belum optimalnya sinergitas dan pola kemitraan (partnership) lintas sektoral dan belum adanya program pemasaran dan promosi pariwisata yang efektif, yang menggunakan pendekatan profesional dan penguatan jaringan kelembagaan.

Selanjutnya, belum tersedianya sumber daya manusia (SDM) yang betul-betul mampu melihat peluang maupun tantangan dari sektor kepariwisataan.

Alberta Parinters Makmur, pemateri lain dalam paparannya menjelaskan, dalam pengembangan desa wisata membutuhkan physical plan.

Physical plan, jelas dia, menjadi informasi penting dalam mempresentasikan produk desa kepada customer. Hal itu agar customer mendapatkan gambaran utuh bahwa desa wisata yang menjadi tujuan sesuai dengan kebutuhan aktivitas mereka di sana.

Penulis: Ardy Abba

Desa Meler Manggarai Unika St. Paulus Ruteng
Previous ArticleAnsy Lema: Korupsi Dana Desa Merusak Pembangunan di Desa
Next Article BNN NTT Tangkap 7 Tersangka Kasus Narkoba, 1 Diantaranya Perempuan

Related Posts

Polres Manggarai Limpahkan Dua Tersangka Kasus Narkotika ke Kejaksaan

6 Maret 2026

Rumah Harapan untuk Regina Uner di Cibal Barat Rampung 100 Persen

6 Maret 2026

Rumah Warga di Cibal Barat Ambruk Diterpa Hujan dan Angin Kencang

5 Maret 2026
Terkini

Pentingnya Pendidikan Karakter dalam Membentuk Generasi Remaja Berintegritas

7 Maret 2026

Tuhan sebagai Gembala dan Bapa Yang Penuh Belaskasih dan Mengampuni 

7 Maret 2026

Surat Cinta untuk Mama

7 Maret 2026

Imigrasi Labuan Bajo Gelar Sosialisasi Bersama Desa Binaan di Kabupaten Manggarai, Cegah TPPO dan TPPM

7 Maret 2026

Demokrat Kritik Bawaslu NTT Soal Pelanggaran Pemilu 2024

7 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.