Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»KESEHATAN»Pandemi Corona Merebak, Wartawan Perlu Bangun Narasi Energi Positif
KESEHATAN

Pandemi Corona Merebak, Wartawan Perlu Bangun Narasi Energi Positif

By Redaksi24 Januari 20213 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Dubes RI untuk Takhta Suci Vatikan Laurentius Amrih Jinangkung
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Ruteng, Vox NTT- Corona virus disease 2019 atau Covid-19 terus menggempur dan mewabah di tanah air. Covid-19 tampak terus memukul seluruh sendi-sendi kehidupan bangsa.

Semua pihak yang dimotori wartawan tanpa terkecuali tentu saja harus bersatu mencurahkan perhatian, tenaga dan pikiran untuk dapat mengatasi pandemi dan dampaknya di segala bidang.

Dubes RI untuk Takhta Suci Vatikan Laurentius Amrih Jinangkung mengatakan, wartawan merupakan profesi istimewa yang memiliki peran penting untuk mempererat NKRI di tengah pandemi Covid-19.

Sebab itu, Amrih mengharapkan para wartawan, dalam tulisan-tulisan dan narasinya, dapat menyebarkan energi positif. 

Warta yang ditulis secara profesional dan bertanggung jawab tentu saja akan memberikan kesejukan di tengah masyarakat.

Penanganan Covid-19 di Indonesia, isu vaksin dan lain-lain, lanjut Amrih, memberikan gambaran betapa perlunya menyebarkan energi positif ke tengah-tengah masyarakat. 

Memang banyak fakta yang membuat sedih terkait Covid-19, misalnya jumlah penderita dan korban yang meninggal. Tetapi banyak pula fakta-fakta positif, bahkan sangat positif yang terjadi. 

“Namun demikian, kalau kita baca terutama di media sosial, kita bisa lihat betapa mudah dan cepatnya orang-orang membuat judgement negatif. Dan hal negatif ini yang lebih banyak berseliweran, membuat gaduh, masyarakat bingung, dan cepat menguras energi kita semua,” ucap Amrih dalam sambutannya di acara Buka Tahun Bersama PWKI Paguyuban Wartawan Katolik Indonesia (PWKI) dari Roma, Sabtu (23/01/2021), sebagaimana dalam rilis yang diterima VoxNtt.com.

Acara yang bertema “Mempererat Ikatan NKRI di Tengah Pandemi” ini diikuti sekitar 250 anggota PWKI secara live streaming di Jakarta, dan sejumlah kota dari Sabang sampai Merauke. 

Ia mengatakan, jargon para wartawan, biasanya “bad news is good news”. 

Hal ini tentu saja ada tantangan terhadap nurani dan profesionalisme para wartawan untuk men-define (mengartikan) how bad is bad, how good is good (seberapa buruk itu buruk, seberapa baik itu baik). 

Menurut dia, sesuatu itu apakah bad atau good, biasanya relatif. Bahkan kadang perlu pembanding untuk menentukan sesuatu baik atau tidak. Perlu parameter jelas dan obyektif untuk menentukan sesuatu jelek, atau baik.

“Terlepas apakah baik atau buruk, selama masih berita faktual lebih bisa dipertanggungjawabkan. Tetapi kalau sudah judgement, ceritanya akan menjadi lain. Dan ini yang lebih sering kita lihat berseliweran di media sosial, misalnya dalam kasus vaksin,” ucapnya.

Terkait vaksin Covid-19, Amri menyampaikan beberapa hal. Pertama, Majelis Ulama Indonesia (MUI) sudah menyatakan bahwa vaksin Covid-19 produksi Sinovac “halal dan suci”. 

Kedua, Vatikan juga sudah menyatakan bahwa vaksin Covid-19 morally acceptable (dapat diterima secara moral).

Ketiga, banyak tokoh dunia maupun nasional, termasuk para pemimpin pemerintahan seperti Presiden Jokowi, Presiden AS Joe Biden, tokoh agama seperti Paus Fransiskus dan Paus Emeritus Benediktus dan lain-lain sudah memberi contoh dengan melakukan vaksinasi.

Menurut Amrih, banyak pihak termasuk Gereja juga menegaskan bahwa vaksinasi merupakan bentuk tanggung jawab. 

“Mengikuti vaksinasi berarti melindungi keselamatan keluarga dan sesama di sekitar kita,” tuturnya. 

Amrih pun mengimbau kepada semua pihak untuk menyikapi berbagai upaya yang sedang dilakukan pemerintah, tidak saja di Indonesia tetapi di seluruh dunia, secara dewasa dan bertanggung jawab. 

“Akan lebih baik apabila setiap diri kita menjadi bagian dari upaya mencari solusi, bukan sebaliknya,” pungkasnya.

Penulis: Ardy Abba

Kabupaten Manggarai Virus Corona
Previous ArticleSetelah 14 Jam Jalani Perawatan, Pria Terkonfirmasi Positif Covid-19 Asal Mabar Tutup Usia
Next Article Diaspora Manggarai Raya Minta Kejati NTT Lidik Izin Tambang Lengko Lolok

Related Posts

Rumah Warga di Cibal Barat Ambruk Diterpa Hujan dan Angin Kencang

5 Maret 2026

RSUD Aeramo Luncurkan Inovasi Layanan “Bahagia Kita”

4 Maret 2026

Profil Desa Paka, Kecamatan Satarmese, Kabupaten Manggarai

4 Maret 2026
Terkini

Surat Cinta untuk Mama

7 Maret 2026

Imigrasi Labuan Bajo Gelar Sosialisasi Bersama Desa Binaan di Kabupaten Manggarai, Cegah TPPO dan TPPM

7 Maret 2026

Demokrat Kritik Bawaslu NTT Soal Pelanggaran Pemilu 2024

7 Maret 2026

Cerpen: Mata Tua di Tubuh Bayi Bole Wote

6 Maret 2026

Tanah Ulayat, Identitas, dan Derita Sosial

6 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.