Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Gagasan»Nilai Kesatuan dalam Budaya Baru 
Gagasan

Nilai Kesatuan dalam Budaya Baru 

By Redaksi4 September 20214 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Ilustrasi Pancasila
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Oleh: Armando Manek

Pancasila merupakan rumusan dan pedoman kehidupan berbangsa dan bernegara yang mencakup Bhineka Tunggal Ika (walaupun berbeda-beda tetapi tetap satu). Bhineka Tunggal Ika merupakan semboyan Negara. 

Negara Indonesia sendiri memiliki 5 nilai dasar yang luhur, yang mencakup seluruh aspek kehidupan masyarakat. 

Kecakupan nilai Pancasila ini mampu menerobos ke dalam aspek kehidupan masyarakat, khususnya dalam budaya yang dilandaskan atas dasar semboyan Bhineka Tunggal Ika. 

Negara Indonesia merupakan negara yang kaya akan budaya. Walaupun kaya akan budaya, namun tidak mengabaikan nilai Pancasila, yang dengan semboyan sakralnya  menyatukan semua nilai dan keberagaman budaya yang ada di tanah air Indonesia  ini.

Perkembangan zaman yang  terus mengglobal ini menghadirkan persoalan bagi  Negara  Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). 

Persoalan di zaman four point zero (4.0) mengarahkan perhatian masyarakat untuk tidak lagi mengenal identitas bangsa Indonesia sebagai negara kesatuan. 

Persoalan ini yang mengakibatkan banyak nilai mengalami kemerosotan dalam setiap aspek kehidupan masyarakat termasuk aspek kebudayan bangsa Indonesia. 

Persoalan ini jangan dipandang sebagai suatu tantangan, melainkan sebagai suatu budaya baru yang perlu disesuaikan dengan nilai-nilai Pancasila. 

Wilayah Indonesia yang meliputi daerah dari Sabang sampai Merauke memiliki ciri khas yang unik dengan alasan Indonesia memiliki banyak sekali kebudayaan. 

Kekhasan budaya inilah yang menunjukkan identitas bangsa Indonesia yang kaya. Bangsa Indonesia memiliki induk dari kebudayaan  yang dapat merangkul setiap kekhasan budaya yang tercantum dalam nilai kesatuan. 

Nilai kesatuan ini menyangkut bahasa yang dijunjung tinggi yakni bahasa Indonesia atau bahasa permersatu yang mencakup setiap budaya, yang telah membuahkan kesejahteraan bagi  masyarakat termasuk dalam kehidupan budaya kita masing-masing.

Bhineka Tunggal Ika yang merupakan fondasi dari multikultural telah mendarah daging dalam aspek kehidupan, sebagaimana yang telah masyarakat alami saat ini. 

Prespektifnya bahwa dalam menjalani hidup di masa pandemi ini masyarakat dituntut untuk lebih bersikap bijaksana dalam menjaga persatuan dan kesatuan, mentaati protokol kesehatan seperti, dan memakai masker.

Dengan cara ini kesehatan dan keharmonisan dalam masyarakat dapat terwujud. Persatuan yang perlu dijunjung tinggi yakni masyarakat harus memakai masker dalam menyikapi persoalan pandemi. 

Lebih dari itu bahwa memakai masker bukan lagi suatu kebiasaan atau kewajiban bagi masyarakat, tetapi telah menjadi budaya baru atau cara hidup baru yang patut masyarakat terima. 

Alasannya bahwa budaya dan masyarakat merupakan suatu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Budaya dibentuk oleh masyarakat atau tidak ada budaya tanpa masyarakat. Kebudayaan memakai masker membentuk masyarakat demi kesejahteraan, kedamaian, serta keselamatan.  

Di samping itu manusia juga membentuk kebudayaan yang membawa nilai kesatuan. Tanpa masyarakat sadari bahwa saat ini mereka telah mewarisi budaya yang baru untuk generasi berikutnya. 

Untuk itu, perlu untuk dijaga dan terus ditindaklanjuti dalam kehidupan bermasyarakat, agar tidak menjadi suatu persoalan. 

Kehidupan masyarakat dalam budaya baru ini telah menunjukan nilai kesatuan terhadap semua masyarakat. Sebab budaya bermasker ini tidak memandang suku, ras, etnis, dll. 

Kesatuan antara nilai persatuan dan budaya bermasker  mengandung makna kompeten yang mempengaruhi semua aspek kehidupan. 

Persatuan nilai Pancasila dan budaya bermasker mengandung unsur persaudaraan, kebenaran, keadilan, kebaikan, kejujuran, yang senantiasa dialami dalam cara hidup budaya bermasker dan menciptakan rasa peduli antarnilai Pancasila dan budaya bermasker. 

Kebiasaan ini harus dikembangkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Di samping itu, masyarakat juga harus tetap membangun relasi dan komunikasi, agar akar persaudaraan  dalam bermasker tidak renggang melainkan tetap terjaga.

Lebih dari itu timbul nilai satu kesatuan dengan budaya bermasker yang dialami masyarakat. Terkait kondisi yang dialami masyarakat saat ini yang menimbulkan berbagai dampak seperti gangguan pernapasan.

Hal ini tentu tidak mudah, karena bukan merupakan seuatu kebiasaan bagi  masyarakat. Namun masyarakat harus bekerja lebih keras lagi untuk selalu mengingatkan diri sendiri, orang di sekitar kita, serta orang lain untuk terus menerapkan protokol kesehatan dalam hal ini budaya bermasker. 

Hal tersebut penting agar tidak terjadi penambahan kasus Covid-19. Jadi, nilai kesatuan Pancasila dan budaya merupakan satu kesatuan yang integral.

 

Penulis adalah mahasiswa Fakultas Filsafat Unwira Kupang

Armando Manek
Previous ArticleSurat Cinta untuk Ayah
Next Article Diduga Abaikan Regulasi dalam Pemberian Insentif Nakes, PMKRI: Copot Direktur RSUD Ruteng

Related Posts

Dua Belas Penundaan Menguji Kemanusiaan Akademik

4 Agustus 2026

PMKRI dan Proyek Kebhinekaan

26 Juli 2026

STEAMS Membangun Murid Berpikir Bijaksana

25 Juli 2026
Terkini

Apotek K-24 Resmikan Outlet di Labuan Bajo, Perluas Akses Layanan Kesehatan 24 Jam

4 Agustus 2026

Ketua DPRD Manggarai Timur Minta Agregat Jalan Watu Cie-Deno Dibongkar Jika Tak Sesuai Spesifikasi

4 Agustus 2026

Dua Belas Penundaan Menguji Kemanusiaan Akademik

4 Agustus 2026

ASN di Reok Barat Keluhkan Iuran HUT RI, Camat Sebut untuk Kelancaran Upacara

4 Agustus 2026

Camat Welak Kunjungi Tiga ODGJ di Desa Wewa, Sebut Penanganan ODGJ Jadi Prioritas

4 Agustus 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.