Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Ekbis»Berawal dari Iseng-iseng, Karyawan Bank di TTU Kini Raup Keuntungan Jutaan Rupiah per Minggu dari Usaha Ayam
Ekbis

Berawal dari Iseng-iseng, Karyawan Bank di TTU Kini Raup Keuntungan Jutaan Rupiah per Minggu dari Usaha Ayam

By Redaksi28 November 20213 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Marianus Niken Ratrigis sementara memberikan makan ke ayam-ayam miliknya saat dikunjungi VoxNtt.com, Jumat, 26 November 2021 (Foto: Eman Tabean/VoxNtt.com)
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Kefamenanu, Vox NTT-Marianus Nikan Ratrigis begitu nama lengkapnya. Warga Kelurahan Tubuhue, Kecamatan Kota Kefamenanu ini memang layak jadi panutan bagi kalangan muda dan masyarakat Kabupaten TTU.

Betapa tidak, di tengah padatnya kesibukan sebagai karyawan Bank Rakyat Indonesia (BRI) Cabang Kefamenanu, sosok yang akrab disapa Niken itu masih mengisi waktu luangnya dengan beternak ayam.

Bukan sepuluh atau 20 ekor, ayam yang diternakkan di halaman belakang rumahnya tersebut bahkan mencapai ribuan ekor.

Saat VoxNtt.com menyambangi kediamannya, Jumat (26/11/2021) malam, Niken tampak sedang asyik memberikan makanan pada ayamnya.

Mendengar sapaan dari wartawan media ini, Niken pun langsung bergegas keluar dari kandang untuk bertemu.

Setelah berbincang beberapa saat, Niken pun mengajak VoxNtt.com untuk masuk langsung ke dalam kandang ayam yang berukuran kurang lebih 4×6 meter.

Sambil terus asyik memberikan makanan ke ayam-ayamnya, Niken bertutur jika usaha tersebut mulai dirintisnya sejak tahun 2020 lalu.

Niken mengaku pada mulanya, ia mengembangkan ternak ayam, hanya untuk sekadar mengisi waktu luang dengan memanfaatkan lahan kosong di belakang rumahnya.

“Waktu itu rumah belum selesai kerja jadi pakai saja ruangan kecil di samping kanan itu, awal mulai dengan 400 ekor ayam, sekarang sudah pakai dua kandang dengan satu yang di bagian atas,” ujar alumni FKM Undana itu.

Perlahan tapi pasti, usaha peternakan ayam milik Niken terus berkembang.
Ia kemudian membeli mesin penetas telur sehingga tidak perlu lagi membeli anak ayam dari luar untuk dikembangkan.

Hasil dari keseriusannya, Niken sudah memiliki 400 ekor ayam induk dan 1000 lebih ayam pedaging jenis kampung super yang siap dipanen.

Selain itu, dalam sepekan dari peternakan ayam miliknya, bisa terjual dua boks Doc yang di mana per box dihargai antara Rp700 ribu hingga Rp900 ribu.

“Sekarang dalam satu minggu bisa hasilkan Doc (anak ayam) 250 ekor, biasanya langsung dibeli langganan dari sekitaran Kabupaten TTU, Belu dan ada juga yang dari Malaka,” tuturnya sambil mengajak media ini langsung melihat mesin tetas telur miliknya.

Dorong Pemberdayaan Kalangan Muda dan Masyarakat

Niken mengaku dirinya selama ini terus berusaha mendorong masyarakat dan kalangan muda terutama mahasiswa untuk ikut mengembangkan usaha peternakan ayam.

Menurutnya, usaha peternakan ayam tidak membutuhkan modal yang besar, namun pasar sangat menjanjikan.

“Saya sering ajak teman-teman mahasiswa ke sini, saya selalu bilang intinya ada kemauan, kalau soal modal sekarang ini ada banyak fasilitas perbankan yang memudahkan para pelaku usaha untuk dapat modal usaha,” tuturnya.

Niken juga mengaku dirinya sedang berupaya untuk mendorong peningkatan produksi Doc (anak ayam).

Dengan begitu, maka peternak di Kabupaten TTU pada khususnya dan Pulau Timor pada umumnya tidak lagi bergantung dengan Doc yang didatangkan dari Pulau Jawa. Sehingga dengan sendirinya biaya produksi untuk peternakan ayam bisa semakin dipangkas.

“Saya punya mimpi besar agar suatu hari masyarakat TTU bisa dengan murah dan mudah mendapat pemenuhan protein, sehingga saya selalu dorong kawan-kawan pemuda dan keluarga semua untuk ikut beternak ayam, dengan begitu ayam dan telur bisa diperoleh masyarakat dengan harga murah dan pemenuhan kebutuhan protein juga bisa terpenuhi,” tuturnya.

Penulis: Eman Tabean
Editor: Ardy Abba

TTU
Previous ArticleRorate: Antologi Puisi Hendra Uran
Next Article Pemkab TTU Diminta Perjuangkan Hak Cipta Hasil Tenunan Masyarakat

Related Posts

Perumda Air Minum Kota Kupang Luncurkan Promo Sambungan Baru dan Website Resmi Jelang HUT ke-17

2 Maret 2026

Kapal Pesiar Mewah Bawa 1.300 Turis Singgah di Kupang, Travel Agen Siapkan Tiga Destinasi

23 Februari 2026

Imigrasi Labuan Bajo Periksa Kedatangan Dua Kapal Pesiar Internasional

19 Februari 2026
Terkini

Pentingnya Pendidikan Karakter dalam Membentuk Generasi Remaja Berintegritas

7 Maret 2026

Tuhan sebagai Gembala dan Bapa Yang Penuh Belaskasih dan Mengampuni 

7 Maret 2026

Surat Cinta untuk Mama

7 Maret 2026

Imigrasi Labuan Bajo Gelar Sosialisasi Bersama Desa Binaan di Kabupaten Manggarai, Cegah TPPO dan TPPM

7 Maret 2026

Demokrat Kritik Bawaslu NTT Soal Pelanggaran Pemilu 2024

7 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.