Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Sastra»Jalanan Kota
Sastra

Jalanan Kota

By Redaksi6 Februari 20222 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Ilustrasi
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Jalanan Kota

Kring-kring…, Pip-pip…, Telolet…,
Wei-wei yang di sana…, Terminal, pelabuhan, pasar, berangkat..,

Ramai riuh tak karuan jalanan kota
Mereka berpacu dan berdalil dengan kegaduhan

Bermaksud mencairkan waktu yang padat

Kegirangan dan kesedihan merasuk, merajam bak pemazmur
Setiap harinya jalanan kota tetap gaduh tanpa ada yang melerai

Penuh jeruji-jeruji pembatas yang menengahkan satu dan yang lain
Sebab birokrasi tak biasa menjelma di jalanan kota untuk beramai riuh bersama

Sesak akan siksa mengakrabi kematian mereka tapi mimpi pada jalanan kota tidak terserempet
Kaki tak beralas dan kepala tak bertutup bergulat tak hentinya

Untuk menyumbat sejarah
Sebab hidup mereka sudah susah
Tidak mau jalanan kota terus menjadi tempat kematian yang lain nantinya
Terkucil dalam dunia sendiri dan klakson kendaraan menjadi potret setiap penyair yang bersyair

“Terlanjur terurai sudah
Untuk kali ini mari kita nikmati dulu klakson di jalanan kota ini
Tapi besok kita berbirokrasi”

Nanti Tuhan Marah

Sebatang kara bersama batang rokok di tangan

Bersantai di atas balkon rumah sambil mendengarkan adzan magrib
Aku anak pemula yang baru bermula-mula

Berkompetensi bersama waktu sambil memikirkan badai dan salju
Kapankah mereka menimpaliku?
Sepertinya ingin mati tapi adzan belum usai

Dan buku Heidegger belum juga selesai dibaca

Tapi tidak baik jika aku mati sia-sia
Nanti Tuhan marah
Baiklah aku bermimpi dahulu

Aku akan menjadi petani agar tetap merenung dan melihat tanah yang hitam
Sebab aku pemula yang bermula-mula dari tanah

Hendra Uran
Ritapiret/6/2/2022

Hendra Uran
Previous ArticleKisah Raja Shaka Zulu, Orang “Gila” yang Kejam dan Haus Darah
Next Article Nenek Malam

Related Posts

Bersama Senja: Antologi Puisi Cantikan Christiany Dapa

18 Juli 2026

Elegi Luka Sang Pemaaf

19 April 2026

Tentang Pintu Kiri dan Pintu Kanan di Surga

19 April 2026
Terkini

Apotek K-24 Resmikan Outlet di Labuan Bajo, Perluas Akses Layanan Kesehatan 24 Jam

4 Agustus 2026

Ketua DPRD Manggarai Timur Minta Agregat Jalan Watu Cie-Deno Dibongkar Jika Tak Sesuai Spesifikasi

4 Agustus 2026

Dua Belas Penundaan Menguji Kemanusiaan Akademik

4 Agustus 2026

ASN di Reok Barat Keluhkan Iuran HUT RI, Camat Sebut untuk Kelancaran Upacara

4 Agustus 2026

Camat Welak Kunjungi Tiga ODGJ di Desa Wewa, Sebut Penanganan ODGJ Jadi Prioritas

4 Agustus 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.