Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Sastra»Penuh Tanya: Antologi Puisi Lalik Kongkar
Sastra

Penuh Tanya: Antologi Puisi Lalik Kongkar

By Redaksi19 Maret 20222 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Ilustrasi
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Oleh: Lalik Kongkar

Penuh Tanya

Hitam itu adalah aku
Dan kau terlalu putih untuk ku miliki
Ku coba merubah hitam menjadi merah
Tapi pada kenyataannya
Kau terlalu abu-abu bagiku

Apa mungkin rasaku untukmu
Seperti hitam dan putih?
Atau bahkan hanya sekedar abu-abu?
Mungkin
Tuhan tak menakdirkan kita bersatu

Tapi mengapa rasa ini terus menggebu?
Memanggil namamu
Menginginkan keberadaanmu di sini
Apakah Tuhan hanya ingin menyiksaku?
Menyiksa perasaanku

Tapi mengapa?
Jika aku tak ditakdirkan denganmu
Mengapa rasa ini sulit hilang di hatiku?
Dan bayangmu, tak pernah lepas di pikiranku
Aku hanya ibarat kupu-kupu yang malang

Terbang tanpa arah dan tujuan
Jauh, dan semakin jauh aku terbang
Sampai akhirnya
Di suatu lembah yang jauh
Kutemukan sang kumbang
Dan aku berharap kumbang itu adalah kamu

Kembali

Rabu,
Aku kembali dalam syair hangat
Namun dalam rinai yang berbeda
Karena kini semuanya terlihat sepi

Menyendiri untuk jauh dari keramaian
Sesak yang kurasa
Adalah hukuman
Bagi mereka yang tidak ikut bernyanyi tengah malam

Namun, apakah sepi ini berlangsung lama?
Aku harap, syair klakson dan barisan topi hitam muncul kembali di jalanan
Aku tak mau sendiri
Diam menyepi

 

Aku Padamu

Aku benci gaduh, seperti saat rindu-rindu mengadu
Aku benci kehilangan, meski cepat atau lambat ia adalah kepastian
Tetapi aku suka menatap matamu yang teduh, yang membuat segala luruh
Ada rindu yang tabah saat kesedihan mengetuk, dan pintu membiarkannya masuk
Puisi, menjadi kehilangan yang begitu nyeri

 

Terpisah oleh Takdir

Setiap napas hidup
Memiliki ceritanya sendiri
Seperti panggung siap menggelar pentas
Mempertontonka sebuah kisah
Ada cerita tentang akhir yang bahagia

Ada cerita dirundung pilu
Kemudian takdir memanggilku ke atas panggung
Berperan menjadi wanita bahagia
Aku mmilikimu
Waktu berjalan cepat bersama kita

Menebarkan luapan-luapan bahagia
Aku tak tahu hati kita sedang berbahagia
Hingga suatu hari lampu panggung redup
Semua barang dikemas
Perhelatan kisah kita telah usai

Bahagiaku berubah menjadi sendu
Ragamu meninggalkanku
Bukan untuk berpaling
Tapi kembali pada pangkuan takdir
Dulu takdir mempertemukan kita
Hari ini sudah waktunya kamu pulang

Lalik Kongkar
Previous ArticleDPD PPNI Kota Kupang Gelar Donor Darah, Sumbang 100 Kantong
Next Article Putri, Penderita Hidrosefalus asal Manggarai Butuh Biaya Operasi

Related Posts

Elegi Luka Sang Pemaaf

19 April 2026

Tentang Pintu Kiri dan Pintu Kanan di Surga

19 April 2026

Senja di Atas Batu Sisa

13 April 2026
Terkini

Jejak Skandal AKP Serfolus Tegu: Istri Simpanan, Dugaan Kekerasan hingga Laporan ke Propam

5 Juni 2026

Menteri Transmigrasi RI Serahkan Bantuan Sembako untuk Masyarakat Translok di Manggarai Barat

4 Juni 2026

Alarm dari Kupang: Reformasi Radikal Pengendalian PAD

4 Juni 2026

Pemkab Manggarai Barat Usulkan Satgas Perizinan untuk Perkuat Pengawasan Usaha

4 Juni 2026

Menteri Transmigrasi RI Tinjau Pembangunan Sanitasi dan Lokasi HPL di Manggarai Barat

4 Juni 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.