Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Seni dan Budaya»Angkat Kearifan Lokal Manggarai, Film ‘Nona Manis Sayange’ Gelar Gala Premiere di Labuan Bajo
Seni dan Budaya

Angkat Kearifan Lokal Manggarai, Film ‘Nona Manis Sayange’ Gelar Gala Premiere di Labuan Bajo

By Redaksi10 September 20234 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Film Nona Manis Sayange yang akan gelar gala premiere perdana di Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, NTT pada 27 September 2023 mendatang.
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Labuan Bajo, Vox NTT– Gala premiere Film ‘Nona Manis Sayange’ bakal digelar di Waterfront Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur pada Minggu, 27 September 2023 mendatang.

Excecutive Produser Film Nona Manis Sayange, Dr. Ngadiman kepada awak media, Minggu (10/09/2023), mengatakan dalam kegiatan tersebut nanti akan dihadiri Menteri kabinet Jokowi, artis, serta influencer.

Ngadiman kemudian mengungkapkan serangkaian agenda gala premiere dan tayang perdana Film Nona Manis Sayange.

Itu di antaranya; festival musik lokal dan soundtrack film, festival kuliner, menyajikan hidangan lokal yang dikreasikan oleh chef ternama, serta pameran produk lokal.

Ia menjelaskan, film yang mengangkat kearifan lokal Manggarai itu akan ditayang perdana pada Senin hingga Selasa (28-29/09/2023) di Waterfront Labuan Bajo.

Film ‘Nona Manis Sayange’, Perpaduan Kisah Romansa dan Budaya Manggarai

Film bertajuk romansa dan adat istiadat itu disutradarai oleh Hestu Saputra, Nominasi Sutradara terbaik FFI 2013 dan diperankan oleh Haico Van Der Veken(Sikka), Pangeran Lantang (Akram) juga pemeran lainnya seperti Luz Victoria (Dina), Bhisma Mulia (Rendy), Mathias Muchus (Dermawan) dan Chanceline (Rumi).

Venue utama  dari film ini yakni Hotel Loccal Collection Labuan Bajo, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur.

Ngadiman menerangkan, Film ‘Nona Manis Sayange’ memadukan daya tarik visual Labuan Bajo, musik unik namun menawan dari Indonesia Timur, dan kisah romansa yang dapat diterima secara universal yang berakar pada budayanya.

Melalui film ini, Dr. Ngadiman, didorong oleh hasratnya yang kuat untuk memajukan industri perhotelan di Indonesia sekaligus memperkenalkan keindahan menawan dari keanekaragaman budaya dan alam Nusantara.

Kali ini, berlatar belakang Labuan Bajo, film ini menampilkan lokasinya yang sangat indah, potensi wisata, kekayaan budaya, bahkan tantangan yang dihadapi masyarakat setempat.

“Semua dikemas dengan cerita romance dan juga ada komedinya. Sehingga isi film ini memberikan edukasi yang comprehensive terhadap penonton. Selama ini hanya film hantu yang banyak dibuat tapi tidak ada nilai edukasinya,” ujar Ngadiman.

Kata Ngadiman, film ini dibuat untuk mempromosikan pariwisata  juga memperkenalkan kebudayaan, masalah sosial, tentang belis atau mahar atau nama lain di daerah lain yang selalu disalahartikan dengan uang, sehingga kekerasan wanita juga sering terjadi dalam perkawinan.

Sinopsis

Film ‘Nona Manis Sayange’ menceritakan tentang Sikka seorang gadis remaja yang  lahir dari keluarga pengusaha kaya.

Sikka bersahabat semenjak kecil dengan Akram,  anak keluarga seorang pelaut yang hidup di pesisir pulau Labuan Bajo, mereka tumbuh bersama dan saling menguatkan melewati perjalanan hidup yang memperdalam perasaan cinta mereka berdua.

Kisah cinta mereka seketika rumit, manakala  ambisi dan manipulasi datang dari ayah Sikka untuk memisahkan mereka.

Sebagai anak pelaut, Akram dituntut aturan adat untuk membayar belis (syarat Mahar tradisi suku Manggarai di Labuan Bajo) dari ayah Sikka yang nilainya fantastis, jika ia ingin menikah dengan Sikka.

Hal itu tidak membuat sosok Akram mundur dan tetap berjuang demi Sikka. Di sisi lain, Sikka juga berusaha meyakinkan ayahnya bahwa cinta sejati bukan dilihat dari nilai materi ataupun status sosial.

Beragam Keindahan romantisme alam Labuan Bajo ternyata bisa menyatukan kisah cinta remaja dengan pengaruh norma adat dan budaya yang berkembang di masyarakatnya.

Konten Lokal Punya Daya Tarik Luar Biasa

Film-film lokal Indonesia telah berulang kali membuktikan bahwa adat istiadat, budaya, dan kearifan lokal dapat menjadi nilai jual yang menarik penonton bioskop Indonesia. Misalnya saja “Uang Panai” yang menarik lebih dari 500.000 penonton.

Fil Uang Panai berlatarbelakang adat istiadat, budaya dan kehidupan Makassar menjadi karakter sentralnya.

Selain Uang Panai, pada tahun 2022, dunia perfilman Indonesia dikejutkan dengan film “Ngeri Ngeri Sedap”. Film itu berlatar belakang suku Batak yang menampilkan keindahan Danau Toba. Film ini sukses meraup lebih dari 2,6 juta penonton.

Tak hanya film, konten lokal seperti  industri musik lokal telah berkembang di seluruh negeri. Seperti  Denny Caknan dari Ngawi dan Didi Kempot dari Solo.

Para seniman ini telah mencapai kesuksesan luar biasa dan mendominasi puncak karier musik Indonesia dengan lagu-lagu yang bahkan mungkin tidak ditulis dalam Bahasa Indonesia.

Dr. Ngadiman SH, SE, Msi sebagai Produser Eksekutif

Memulai kariernya di Direktorat Jenderal Pajak, beliau kemudian membangun usaha yang sukses di bidang jasa konsultasi perpajakan dan keuangan serta industri real estate dan perhotelan.

Ngadiman mempunyai ambisi dan semangat yang luar biasa untuk memajukan pariwisata di kawasan Labuan Bajo dan sekitarnya dengan menghidupkan kisah luar biasa ini melalui proyek film.

Hestu Saputra sebagai Sutradara & Penulis

Hestu memulai perjalanan pembuatan filmnya dengan menjadi asisten Hanung Bramantyo di beberapa filmnya.

Dia membuat debut penyutradaraannya dalam film ‘Pengejar Angin’ pada tahun 2011.

Pada tahun 2013, Hestu menyutradarai “Cinta Tapi Beda” membuatnya mendapatkan nominasi Sutradara Terbaik di Festival Film Indonesia. Dari dulu, Hestu telah menyutradarai 12 film layar lebar. [*]

Film Nona Manis Sayange Labuan Bajo Mabar Manggarai Barat
Previous ArticleKala Pemkab Manggarai Disebut Tidak Manusiawi hingga Dituntut Ganti Rugi 21 Miliar
Next Article Acoustic Band Battle 2023 Dorong Bakat Musik Muda di Labuan Bajo

Related Posts

Desa Golo Riwu Tetapkan APBDes Tahun Anggaran 2026, KMP dan MBG Jadi Fokus Utama

6 Maret 2026

RRI Labuan Bajo dan Plataran Komodo Gelar Donor Darah, Perkuat Aksi Kemanusiaan di Manggarai Barat

3 Maret 2026

Kades Golo Riwu Luncurkan Program “Investor Serbu Desa”, Andalkan Porang Hadapi Risiko Krisis 2026

3 Maret 2026
Terkini

Pentingnya Pendidikan Karakter dalam Membentuk Generasi Remaja Berintegritas

7 Maret 2026

Tuhan sebagai Gembala dan Bapa Yang Penuh Belaskasih dan Mengampuni 

7 Maret 2026

Surat Cinta untuk Mama

7 Maret 2026

Imigrasi Labuan Bajo Gelar Sosialisasi Bersama Desa Binaan di Kabupaten Manggarai, Cegah TPPO dan TPPM

7 Maret 2026

Demokrat Kritik Bawaslu NTT Soal Pelanggaran Pemilu 2024

7 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.