Oleh: Pater Darmin Mbula, OFM
Ketua Presidium Majelis Nasional Pendidikan Katolik (MNPK)
Tikus yang tanpa kepala itu, meski bergegas mencari jalan keluar, tak tahu bahwa ia telah kehilangan otak yang jauh lebih penting—kesadaran akan tanggung jawab moral sosial demi kebahagiaan berkelanjutan.
Ketika otak di kepala tak lagi mampu menuntun, bahkan langkah-langkah yang diambil sesaat bisa tersesat, maka keheningan kontemplatif menjadi bahasa kasih yang paling bijak untuk memahami ketidakpastian.
Di dalam kekosongan yang mengganggu, pemimpin itu terperangkap dalam kegelapan pikirannya, seolah-olah otaknya terpecah (stroke) oleh serangkaian luka yang tak terlihat namun mengerikan.
Tak ada lagi arah atau tujuan yang pasti, hanya kegelisahan dan kemarahan yang mengalir, seperti sungai yang kehilangan aliran airnya yang menghidupkan.
Tanpa kepala, seperti tikus yang tak tahu arah dasarnya (ardas), ia berjalan dengan langkah-langkah kebingungannya, terombang-ambing di dunia yang penuh dengan keputusan yang tak lagi dapat dipahami.
Setiap kata yang terucap hanya menggema dalam ruang hampa, tak berdampak pada nyata perubahan dan tiap tindakan hanya menggambarkan kehampaan yang semakin dalam. Dalam kerusakan itu, impian untuk memimpin pun mencair menjadi debu, hilang tak terjangkau.
Seperti Tikus Tanpa Kepala
Otak Pemimpin yang rusaknya belum sempurna itu, seperti tikus tanpa kepala, berlari di lorong-lorong yang tak pernah berujung, bergerak dengan gegabah tanpa arah yang jelas.
Ia terburu-buru, tergesa-gesa, seolah dunia ini adalah ladang yang harus segera dituai, tanpa pernah peduli akan apa yang ia tinggalkan di belakang.
Tanpa kepala, tikus itu kehilangan arah, kehilangan kebijaksanaan yang seharusnya memandunya.
Pemimpin ini, terperangkap dalam hasrat yang tak pernah padam, melangkah tanpa mempertimbangkan akibat dari setiap tindakannya.
Ia hanya mengejar, tanpa tahu ke mana tujuannya, seperti tikus yang berlari dalam kegelapan, tanpa henti namun tanpa makna.
Tikus yang tanpa kepala itu, meski bergegas mencari jalan keluar, tak tahu bahwa ia telah kehilangan sesuatu yang jauh lebih penting—kesadaran akan tanggung jawab.
Begitu pula dengan pemimpin tamak, yang berjuang hanya untuk kepentingannya sendiri, tidak pernah melihat bahwa kepemimpinan adalah tentang melayani.
Ia menggigit dan merusak, mengumpulkan harta dan kekuasaan, tanpa tahu bahwa tubuhnya telah kehilangan jiwa.
Sebagai tikus tanpa kepala, ia terus melangkah, namun setiap langkahnya hanya membawa kehancuran. Tak ada kebijaksanaan yang memandunya, hanya nafsu yang menuntunnya pada kesia-siaan yang tak berujung.
Pemimpin yang tamak seperti tikus tanpa kepala itu akan jatuh pada akhirnya, karena tanpa kepala, ia tak bisa berpikir jernih. Ketamakan telah membuatnya buta, kehilangan penglihatan untuk melihat dengan hati.
Ia hanya tahu satu hal—berlari lebih cepat, meraih lebih banyak, namun tak pernah sampai pada tujuan yang seharusnya.
Dalam kelamnya malam, tikus itu berhenti, terengah-engah, tanpa tahu arah pulang.
Begitu juga pemimpin yang tamak, yang terperangkap dalam pencarian yang tak pernah selesai, sampai akhirnya ia menyadari bahwa tanpa kebijaksanaan, tanpa pemahaman, ia hanyalah sosok yang hilang, berlari tanpa kepala dalam dunia yang gelap.
Pemimpin Tamak
Dalam bayang-bayang malam yang hening, seekor tikus bergerak dengan gesit, menapaki lorong-lorong gelap dengan penuh kecerdikan.
Ia tak pernah diam, selalu mencari celah untuk menggapai keinginannya, memanfaatkan setiap kesempatan yang ada untuk memenuhi perutnya yang tak pernah kenyang.
Seperti halnya seorang pemimpin yang licik, tikus ini tak peduli pada mereka yang berada di sekitarnya, yang menganggapnya sebagai makhluk kecil dan tak berarti. Setiap gerakannya adalah tanda dari ambisi yang tak terpuaskan, mencuri dengan kebijaksanaan yang mengarah pada kehancuran.
Pemimpinnya, seperti tikus ini, terus mencari mangsa, merampas yang seharusnya menjadi hak bersama.
Kepemimpinan tikus tidaklah untuk kebaikan bersama. Seperti bayangan kelam yang mengikuti langkahnya, sifat rakus dan tamaknya menyelubungi setiap tindakannya.
Ia akan menggali lubang-lubang tersembunyi, mencari harta, dan menimbun apa yang bisa ia makan, tanpa memikirkan apa yang akan terjadi pada lingkungan di sekitarnya.
Setiap jejaknya di tanah adalah jejak yang meninggalkan kekosongan, sementara dirinya terus mencari dan mengambil, tak pernah merasa cukup.
Di balik kejelian matanya yang tajam, ada rasa serakah yang tak terpuaskan, menghancurkan segala yang ada di sekitarnya demi keuntungan pribadi.
Seperti tikus yang memanjat rak-rak tinggi untuk mencapai keinginan, pemimpin licik ini tak mengenal batas.
Ia melangkah tanpa peduli pada kerusakan yang ditinggalkannya. Dalam perjalanannya, ia mungkin terlihat cerdas, penuh daya tarik dan kemampuan untuk menggerakkan roda pemerintahan atau perusahaan.
Namun, tak ada kebijaksanaan sejati di balik gerakan-gerakan itu. Seperti tikus yang terus mencari lubang untuk bersembunyi, pemimpin ini hanya mementingkan diri sendiri, tanpa empati terhadap orang lain.
Tindakannya tidak hanya merugikan satu atau dua pihak, tetapi merusak tatanan yang lebih besar, merusak harmoni yang harusnya terjaga dalam masyarakat.
Kepemimpinan seperti ini jauh dari apa yang disebut kepemimpinan holistik. Pemimpin yang benar-benar holistik akan mempertimbangkan semua aspek kehidupan—alam, masyarakat, dan masa depan—dengan penuh perhatian dan kasih sayang.
Tetapi tikus yang licik ini hanya memikirkan dirinya sendiri, perutnya yang kosong, dan keinginannya yang tak terpuaskan.
Ia tidak melihat lebih jauh dari dirinya, tidak memikirkan akibat jangka panjang dari tindakannya.
Sebuah pemimpin yang holistik memahami bahwa keseimbangan dan keberlanjutan adalah inti dari kehidupan bersama, namun tikus ini mengajarkan kita sebaliknya: bahwa rakus dan serakah bisa memimpin pada kehancuran.
Di dalam gelapnya lorong-lorong yang ia lalui, tikus tak pernah mengakui adanya pihak lain yang lebih membutuhkan.
Pemimpin seperti tikus ini tidak hanya kehilangan pandangan tentang tanggung jawab sosial, tetapi juga mengabaikan nilai-nilai kemanusiaan yang seharusnya menjadi pedoman.
Ia memimpin bukan untuk memperbaiki, tetapi untuk mengisi ruang kosong dalam dirinya yang tak akan pernah penuh.
Seperti tikus yang makan untuk bertahan hidup, tetapi tidak pernah merasa kenyang, pemimpin rakus ini selalu merasa kurang, bahkan ketika ia memiliki lebih dari yang ia butuhkan.
Namun, di balik kepemimpinan yang licik dan serakah ini, terdapat pula sebuah pelajaran yang sulit diterima: bahwa ketamakan itu, meski sering kali tampak berhasil dalam jangka pendek, pada akhirnya akan membawa kehancuran.
Tikus yang rakus ini mungkin tampak seperti pemimpin yang cerdik, tetapi ia kehilangan arah dan tujuan sejati dalam hidup. Ia menggali tanah tanpa pernah menanam, mengumpulkan tanpa memberi.
Pemimpin yang mengutamakan kepentingan pribadi di atas kepentingan bersama pada akhirnya akan ditinggalkan oleh mereka yang lebih bijaksana, yang memilih untuk mencari jalan yang lebih terang.
Maka, dalam kisah tikus ini, kita belajar bahwa kepemimpinan yang licik dan serakah tidak dapat bertahan lama.
Walaupun banyak yang terbuai oleh kecerdikan dan kemampuan untuk mengelabui orang lain, pada akhirnya alam semesta akan menuntut keadilan.
Seperti tikus yang akhirnya terjebak dalam jerat yang ia buat sendiri, pemimpin yang tamak akan mendapati dirinya terperangkap dalam jaring-jaring ketamakan yang ia tebarkan.
Dalam pencariannya akan kekuasaan dan harta, ia kehilangan kebijaksanaan, dan dengan itu, ia kehilangan makna sejati dari kepemimpinan yang mengabdi pada kebaikan bersama.
Kita merindukan kepemimpinan holistik, yang penuh dengan rasa utuh dan keharmonisan, yang mengalir dari otakhati yang bijak dan penuh kasih, bukan seperti pemimpin tikus tanpa kepala yang berlari dalam kebingungan dan ketamakan, menghancurkan segala yang dijalani tanpa arah yang jelas, meninggalkan hanya kehampaan yang tak terobati.
Tanggung Jawab Moral Sosial
Kepemimpinan holistik adalah kepemimpinan yang tumbuh dari kesadaran yang mendalam akan tanggung jawab moral sosial, sebuah panggilan jiwa yang tidak hanya berfokus pada kekuasaan atau keuntungan pribadi, tetapi pada kesejahteraan bersama.
Seperti matahari yang tidak hanya menerangi dirinya sendiri, tetapi juga memberikan cahaya kepada seluruh kehidupan yang ada di sekitarnya, seorang pemimpin holistik mengerti bahwa kekuatan sejati terletak pada kemampuannya untuk menyatukan, untuk membimbing dengan penuh kasih dan pemahaman.
Kepemimpinan ini bukan sekadar tentang mengambil keputusan yang tepat, tetapi tentang merasakan getaran hati rakyatnya, menyelami setiap kebutuhannya, dan memastikan bahwa setiap langkah yang diambil adalah langkah yang membawa semua orang menuju kebahagiaan yang berkelanjutan.
Dalam kepemimpinan holistik, tanggung jawab moral sosial bukanlah sekadar teori yang dibicarakan, tetapi sebuah kenyataan yang hidup dalam setiap tindakan.
Seperti akar pohon yang tersembunyi namun menopang seluruh kehidupan di atasnya, pemimpin holistik memupuk rasa saling peduli dan berbagi di dalam jiwanya, menyadari bahwa dunia ini adalah sebuah jaringan tak terpisahkan, dan apa yang terjadi pada satu bagian, akan mempengaruhi seluruh sistem.
Ia tidak mengabaikan penderitaan yang terjadi di sekitarnya, tidak membiarkan kemiskinan dan ketidakadilan merayap tanpa perhatian.
Dalam setiap keputusan yang diambil, ia mengingatkan dirinya untuk menjaga keseimbangan, bukan hanya untuk keuntungan jangka pendek, tetapi untuk masa depan yang penuh harapan bagi generasi mendatang.
Kepemimpinan semacam ini adalah tentang melihat lebih jauh dari mata, lebih dalam dari pikiran, dan lebih luas dari sekadar ambisi.
Pemimpin holistik adalah mereka yang dapat menyelami nurani manusia, yang mampu melihat kebutuhan yang lebih dalam dari sekadar materi, yang menyadari bahwa kebahagiaan sejati terletak pada kesejahteraan jiwa, bukan hanya kepuasan fisik.
Ia mengerti bahwa kebahagiaan yang berkelanjutan adalah kebahagiaan yang datang dari rasa kebersamaan, dari keterhubungan antara manusia dan alam, antara individu dan komunitas.
Setiap tindakannya adalah ekspresi dari cinta dan tanggung jawab, bukan hanya untuk dirinya, tetapi untuk seluruh kehidupan.
Dalam kepemimpinan yang holistik, kita melihat sebuah komitmen terhadap perubahan yang sejati, perubahan yang bukan hanya mengubah dunia luar, tetapi juga membangun kekuatan batin yang lebih dalam dalam diri setiap orang.
Pemimpin ini tidak hanya berusaha untuk memperbaiki dunia secara fisik, tetapi juga memperbaiki dunia batin, memberi ruang bagi setiap individu untuk berkembang, untuk menemukan potensi terbaik mereka.
Kepemimpinan yang demikian menginspirasi, bukan hanya karena kekuasaannya, tetapi karena kelembutannya dalam mengayomi, dalam membawa setiap individu untuk merasakan rasa tanggung jawab terhadap keberlanjutan, bukan hanya untuk hari ini, tetapi untuk esok yang lebih baik.
Kepemimpinan holistik adalah tentang memberi arti pada kehidupan yang saling terhubung, di mana kebahagiaan berkelanjutan bukanlah sebuah impian yang jauh, tetapi kenyataan yang dibangun bersama dengan penuh cinta, rasa hormat, dan pengertian.
Seperti air yang mengalir tanpa henti, menyuburkan tanah dan memberi kehidupan kepada segala yang tumbuh, pemimpin holistik adalah mereka yang memberikan kehidupan bukan hanya pada masa kini, tetapi pada semua generasi yang akan datang.
Dalam kepemimpinan ini, kita menemukan bahwa sejatinya kebahagiaan bukanlah tentang mencapai puncak tertinggi sendiri, tetapi tentang mendaki bersama, menjaga agar langkah-langkah kita selalu seiring dan sejajar, menuju dunia yang lebih penuh cinta dan keberlanjutan.
Untunglah, meski sering terombang-ambing, otak para pemimpin masih mampu berpikir dan berarah, sehingga mereka tetap bisa menuntun langkah-langkah menuju harapan kebahagiaan berkelanjutan.