Mbay, VoxNTT.com – Kunjungan Danrem 161/Wirasakti, Brigadir Jenderal TNI Joao Xavier Barreto Nunes ke Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur, pada Selasa, 1 Juli 2025, diwarnai momen haru saat dirinya bertemu dengan sahabat lamanya semasa SMA di Timor Timur.
Danrem yang memimpin pengantaran 560 prajurit TNI Angkatan Darat dari satuan pembangunan (TP) ke barak sementara di Desa Aeramo, Kecamatan Aesesa, tidak menyangka akan bertemu kembali dengan Anton Seka—teman sekolahnya di SMAN 1 Maliana, Timor Timur, pada tahun 1985.
Para prajurit yang tiba siang tadi di Pelabuhan Marapokot menggunakan Kapal ADRI-L1, akan bertugas dalam Batalyon 834 Waka Nga Mere/Nagekeo sebagai prajurit teritorial pembangunan.
Mereka ditempatkan sementara di barak darurat sembari menunggu rampungnya pembangunan barak permanen di Desa Tonggurambang.
Setelah mendampingi prajuritnya menjalani pemeriksaan kesehatan, Brigjen Joao mendapat informasi bahwa rumah sahabat lamanya itu hanya berjarak sekitar 200 meter dari lokasi barak.
Ia pun segera berjalan kaki menuju rumah tersebut, didampingi Dandim 1625/Ngada Letkol Czi Deny Wahyu Setiyawan serta beberapa perwira lainnya.
Anton Seka, yang kini berprofesi sebagai guru dan pernah menjabat sebagai Kepala SMKN Nangaroro, menyambut hangat kedatangan sahabat lamanya.
Pertemuan itu dipenuhi nostalgia, mengingat kembali masa-masa mereka sebagai siswa di Timor Timur sebelum akhirnya berpisah pasca-referendum tahun 1999, yang mengubah status wilayah itu menjadi negara Timor Leste.
Keduanya tampak akrab dan saling bertukar cerita, termasuk tentang sosok guru sejarah mereka, Adrianus Kesut, yang masih hidup dan sehat hingga kini.
“Masih tinggal di Nangaroro, di pantai selatan,” ujar Anton kepada Brigjen Joao.
Setelah hampir satu jam berbincang, keduanya berpamitan. Mereka sempat bertukar nomor telepon, berpose bersama, dan berjanji untuk terus menjaga komunikasi ke depannya.
Pertemuan ini menjadi salah satu momen mengharukan dalam rangkaian kunjungan resmi Brigjen Joao di Nagekeo, yang tak hanya membawa misi tugas negara, tetapi juga mempererat kembali tali persahabatan yang telah terjalin selama puluhan tahun.
Penulis: Patrianus Meo Djawa

