Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»HUKUM DAN KEAMANAN»DPRD Desak Polisi Segera Ungkapkan Misteri Kematian Guru Matematika di Nagekeo
HUKUM DAN KEAMANAN

DPRD Desak Polisi Segera Ungkapkan Misteri Kematian Guru Matematika di Nagekeo

By Redaksi7 September 20254 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Ilustrasi
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Mbay, VoxNTT.com – Kematian Rudolfus Oktavianus Ruma alias Vian Ruma (30), guru Matematika SMPN 1 Nangaroro sekaligus aktivis penolak Geotermal Flores, masih menyisakan polemik.

Vian ditemukan meninggal dunia pada Jumat, 5 September 2025, di sebuah rumah pondok di Wodo Mau, Desa Tonggo, Kecamatan Nangaroro, Kabupaten Nagekeo.

Dalam sebuah video yang beredar, korban tampak tergantung pada seutas tali sepatu miliknya sendiri dengan lutut korban yang menekuk serta telapak kaki masih menyentuh lantai bambu pondok.

Barang-barang pribadi seperti ponsel, tas, sepatu, dan sandal ditemukan masih tergeletak di sekitar jasad korban. Sedangkan sepeda motor miliknya tergeletak begitu saja di luar pondok di dekat TKP, tampak seperti diparkir dalam situasi sedang terburu-buru.

Hingga kini, belum ada keterangan resmi dari pihak Kepolisian Resor Nagekeo. Kapolsek Nangaroro, Iptu Juliardy Sinambela, hingga kini belum merespons secara detail upaya konfirmasi media terkait perkembangan kasus tersebut.

Seperti ada kejanggalan dalam kasus kematian Vian Ruma. Anggota DPRD Nagekeo dari Partai NasDem, Anton Sukadame Wangge, yang juga pensiunan polisi, menilai kematian Vian diduga kuat bukanlah kasus bunuh diri biasa.

Hal itu merujuk pada temuan sejumlah kejanggalan di TKP. Kejanggalan tersebut, katanya, perlu segera ditelusuri aparat sebagai petunjuk untuk mengungkap “apa sebenarnya terjadi di balik peristiwa kematian Vian Ruma.”

“Pasti kita akan panggil Kapolres. Apapun penyebab kematiannya, saya minta polisi secara profesional mengusut tuntas kasus adik kita ini,” ujar Anton kepada VoxNtt.com, Minggu, 7 September 2025.

Anton secara tegas menyatakan keberatannya jika kematian korban dianggap sebagai aksi bunuh diri murni. Ia menyoroti cepatnya proses pembusukan jenazah, padahal korban baru dikabarkan hilang selama tiga hari.

Selain itu, Anton juga menilai kondisi sepeda motor korban yang diparkir secara sembarangan serta adanya luka di bagian kepala merupakan petunjuk penting yang perlu ditelusuri lebih lanjut.

“Ini kasus kematian dengan kejanggalan kesekian kalinya di Nagekeo. Kasus kematian serupa seperti di Rumah Dinas Camat Nangaroro juga tak pernah terungkap sampai sekarang,” tegas Anton.

Berdasarkan kronologi sebelum korban ditemukan, keberadaan korban terakhir kali diketahui pada Selasa, 2 September 2025.

Saat itu, ia meminta izin kepada Kepala Sekolah SMPN 1 Nangaroro untuk mengikuti kegiatan akbar Mbay Youth Day atau pertemuan Orang Muda Katolik Kevikepan Mbay di Kecamatan Keo Tengah, di mana ia tercatat sebagai panitia inti.

Kegiatan tersebut difasilitasi oleh otoritas Gereja Katolik yang selama ini gencar menolak proyek geothermal di Flores.

Namun, tiga hari kemudian setelah diberi ijin oleh Kepala Sekolah, korban justru ditemukan meninggal dunia di sebuah pondok di Wodo Mau, jauh sebelum tiba di lokasi kegiatan.

Selain faktor aktivitas korban sebagai penolak proyek geothermal, motif asmara juga perlu diselidiki Polisi.

Anton menyarankan penyelidikan juga perlu dilakukan Polisi pada aspek pribadi korban. Menurutnya, Vian diketahui memiliki seorang kekasih yang juga berprofesi sebagai guru dan berdomisili di Kecamatan Keo Tengah.

“Status korban yang masih lajang tentu berpotensi ada motif lain seperti asmara. Jika benar ia berencana mengikuti Mbay Youth Day di Keo Tengah, di mana kekasihnya juga berada, sangat janggal rasanya bila ia memilih mengakhiri hidup di tengah perjalanan sebelum bertemu kekasihnya,” kata Anton.

Karenanya, Anton meminta polisi memeriksa ponsel korban untuk mengetahui lalu lintas informasi dengan siapa saja korban berkomunikasi sebelum kematiannya, termasuk sang kekasih.

Sementara itu, keluarga korban juga menolak jika kematian Vian disebut sebagai bunuh diri. Viktor Tegu, perwakilan keluarga, mengatakan Vian dikenal sebagai sosok baik, ramah, dan tidak bermasalah dengan siapa pun.

Namun, sebelum dimakamkan pada Sabtu, 6 September 2025 di kampung halamannya, Desa Ngera, Kecamatan Keo Tengah, keluarga menemukan adanya luka sayatan pada kepala korban.

Kondisi jasad yang telah dipenuhi lalat dan belatung kian memperkuat dugaan bahwa korban mengalami kekerasan sebelum meninggal.

Senin esok, pihak keluarga berencana melaporkan kasus ini ke kepolisian. Mereka berencana meminta polisi dan pihak berwenang melakukan otopsi ulang demi mengungkap penyebab kematian yang sebenarnya.

Penulis: Patrianus Meo Djawa

DPRD Nagekeo Geotermal Flores Nagekeo
Previous ArticleKenaikan Tunjangan DPRD NTT Disorot, Pengamat: Tidak Empatik dan Harus Dipertimbangkan Kembali
Next Article Kornelis Dola Resmi Pimpin DPD PKS Manggarai, Siap Perjuangkan Suara Rakyat Kecil

Related Posts

RSUD Aeramo Luncurkan Inovasi Layanan “Bahagia Kita”

4 Maret 2026

Dapur MBG Gako Dihentikan karena Berdiri di Atas Tanah yang Telah Diserahkan ke Pemda

3 Maret 2026

Penyidik Polresta Kupang Dinilai Tak Berani Periksa Tim SPPG Polda NTT

3 Maret 2026
Terkini

Nama Wakil Ketua DPRD NTT Dicatut dalam Dugaan Penipuan Lowongan Kerja, Ratusan Orang Mengaku Jadi Korban

6 Maret 2026

Golkar NTT Umumkan Pengurus Baru 2025–2030, Targetkan Musda Kabupaten Rampung April

6 Maret 2026

Cerdas Digital Saja Tidak Cukup: Haruskah Psikologi Jadi Pelajaran Wajib di Sekolah?

6 Maret 2026

Rumah Harapan untuk Regina Uner di Cibal Barat Rampung 100 Persen

6 Maret 2026

Memburu “Hantu”, Memukul Manusia, dan Psikologi Sosial

6 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.