Mbay, VoxNTT.com – Kematian tragis Vian Ruma, seorang guru sekaligus aktivis lingkungan yang tergabung dalam Koalisi Kelompok Orang Muda untuk Perubahan Iklim (KOPI) Nagekeo, pada Jumat, 5 September 2025, memunculkan banyak tanda tanya di tengah masyarakat.
Peristiwa yang tampak seolah-olah sebagai aksi bunuh diri ini memantik reaksi dari berbagai pihak, termasuk Lembaga Pelayanan Advokasi untuk Keadilan dan Perdamaian (Padma) Indonesia.
Ketua Dewan Pembina Padma Indonesia, Gabriel Goa menyatakan keprihatinan mendalam atas peristiwa tersebut.
Ia menegaskan, penyebab kematian almarhum harus diungkap secara ilmiah dan transparan melalui bantuan ahli forensik yang kompeten.
“Berdasarkan pengalaman kami dalam mengadvokasi berbagai kasus kematian tak wajar, pendekatan spiritual dan saintifik harus berjalan beriringan,” ujar Gabriel kepada VoxNTT.com, Jumat, 12 September 2025.
Lebih lanjut, Gabriel menyampaikan bahwa seluruh pihak diajak untuk mendoakan almarhum Vian, serta memohon pertolongan Tuhan agar melalui perantaraan arwah almarhum, bisa ditunjukkan petunjuk-petunjuk penting tentang penyebab kematiannya.
“Jika almarhum Vian memang dibunuh secara tragis, kami percaya bahwa melalui pertolongan Tuhan dan leluhur, para pelaku maupun aktor intelektualnya akan tersentuh nuraninya dan menyerahkan diri ke Polres Nagekeo,” katanya.
Gabriel juga mendesak Kapolri untuk segera memerintahkan Kapolda NTT dan Kapolres Nagekeo agar meminta bantuan dokter forensik dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (UI) atau Universitas Hasanuddin (UNHAS) guna melakukan autopsi ilmiah.
“Kami tidak ingin penyebab kematian ini berakhir pada spekulasi. Harus ada data forensik yang bisa dipertanggungjawabkan secara hukum,” tegasnya.
Gabriel juga mengajak seluruh elemen masyarakat, termasuk media massa, untuk secara aktif mengawal proses penyelidikan dan penyidikan yang dilakukan Polres Nagekeo dan Polda NTT.
“Kita harus pastikan bahwa kasus ini tidak dilupakan atau ditutupi. Kematian seorang aktivis lingkungan harus menjadi perhatian serius semua pihak,” tambah Gabriel.
Ia pun menyampaikan duka cita yang mendalam kepada keluarga besar almarhum Vian dan seluruh jaringan aktivis lingkungan di Nagekeo dan Indonesia.
Seperti diberitakan, seorang aktivis yang aktif dalam gerakan penolakan proyek geotermal di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur, Vian Ruma (30), ditemukan meninggal dengan posisi tergantung di dalam sebuah pondok tengah kebun yang berada di Desa Tonggo, Kecamatan Nangaroro, Kabupaten Nagekeo pada Jumat 05 September 2025
Di lokasi kejadian, ditemukan sepeda motor miliknya yang diparkir di luar pondok serta telepon genggam yang tergeletak tak jauh dari posisi korban. Di lokasi itu juga ditemukan bercak darah yang semakin menguatkan keyakinan keluarga bahwa korban diduga mengalami kekerasan.
Usai ditemukan, korban langsung dimakamkan di kampung halamannya di Desa Ngera, Kecamatan Keo Tengah, Kabupaten Nagekeo, Sabtu 06 September 2025
Namun, pihak keluarga meminta polisi menyelidiki kematian Vian lantaran dinilai ada kejanggalan dalam kematian aktivis muda NTT tersebut. Seperti, tali yang terlilit di leher korban adalah tali sepatu. Begitupun posisi kaki korban yang menyentuh lantai. Pihak keluarga menilai, dalam kondisi itu, korban tidak mungkin bisa sampai meninggal jika tidak ada kekerasan sebelumnya. [VoN]

