Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»HUKUM DAN KEAMANAN»Padma Indonesia Desak Pengusutan Tuntas Kematian Tragis Vian Ruma, Aktivis Lingkungan di Nagekeo
HUKUM DAN KEAMANAN

Padma Indonesia Desak Pengusutan Tuntas Kematian Tragis Vian Ruma, Aktivis Lingkungan di Nagekeo

By Redaksi12 September 20253 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Ketua Dewan Pembina Padma Indonesia, Gabriel Goa (kiri) (Foto: HO)
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Mbay, VoxNTT.com – Kematian tragis Vian Ruma, seorang guru sekaligus aktivis lingkungan yang tergabung dalam Koalisi Kelompok Orang Muda untuk Perubahan Iklim (KOPI) Nagekeo, pada Jumat, 5 September 2025, memunculkan banyak tanda tanya di tengah masyarakat.

Peristiwa yang tampak seolah-olah sebagai aksi bunuh diri ini memantik reaksi dari berbagai pihak, termasuk Lembaga Pelayanan Advokasi untuk Keadilan dan Perdamaian (Padma) Indonesia.

Ketua Dewan Pembina Padma Indonesia, Gabriel Goa menyatakan keprihatinan mendalam atas peristiwa tersebut.

Ia menegaskan, penyebab kematian almarhum harus diungkap secara ilmiah dan transparan melalui bantuan ahli forensik yang kompeten.

“Berdasarkan pengalaman kami dalam mengadvokasi berbagai kasus kematian tak wajar, pendekatan spiritual dan saintifik harus berjalan beriringan,” ujar Gabriel kepada VoxNTT.com, Jumat, 12 September 2025.

Lebih lanjut, Gabriel menyampaikan bahwa seluruh pihak diajak untuk mendoakan almarhum Vian, serta memohon pertolongan Tuhan agar melalui perantaraan arwah almarhum, bisa ditunjukkan petunjuk-petunjuk penting tentang penyebab kematiannya.

“Jika almarhum Vian memang dibunuh secara tragis, kami percaya bahwa melalui pertolongan Tuhan dan leluhur, para pelaku maupun aktor intelektualnya akan tersentuh nuraninya dan menyerahkan diri ke Polres Nagekeo,” katanya.

Gabriel juga mendesak Kapolri untuk segera memerintahkan Kapolda NTT dan Kapolres Nagekeo agar meminta bantuan dokter forensik dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (UI) atau Universitas Hasanuddin (UNHAS) guna melakukan autopsi ilmiah.

“Kami tidak ingin penyebab kematian ini berakhir pada spekulasi. Harus ada data forensik yang bisa dipertanggungjawabkan secara hukum,” tegasnya.

Gabriel juga mengajak seluruh elemen masyarakat, termasuk media massa, untuk secara aktif mengawal proses penyelidikan dan penyidikan yang dilakukan Polres Nagekeo dan Polda NTT.

“Kita harus pastikan bahwa kasus ini tidak dilupakan atau ditutupi. Kematian seorang aktivis lingkungan harus menjadi perhatian serius semua pihak,” tambah Gabriel.

Ia pun menyampaikan duka cita yang mendalam kepada keluarga besar almarhum Vian dan seluruh jaringan aktivis lingkungan di Nagekeo dan Indonesia.

Seperti diberitakan, seorang aktivis yang aktif dalam gerakan penolakan proyek geotermal di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur, Vian Ruma (30), ditemukan meninggal dengan posisi tergantung di dalam sebuah pondok tengah kebun yang berada di Desa Tonggo, Kecamatan Nangaroro, Kabupaten Nagekeo pada Jumat 05 September 2025

Di lokasi kejadian, ditemukan sepeda motor miliknya yang diparkir di luar pondok serta telepon genggam yang tergeletak tak jauh dari posisi korban. Di lokasi itu juga ditemukan bercak darah yang semakin menguatkan keyakinan keluarga bahwa korban diduga mengalami kekerasan.

Usai ditemukan, korban langsung dimakamkan di kampung halamannya di Desa Ngera, Kecamatan Keo Tengah, Kabupaten Nagekeo, Sabtu 06 September 2025

Namun, pihak keluarga meminta polisi menyelidiki kematian Vian lantaran dinilai ada kejanggalan dalam kematian aktivis muda NTT tersebut. Seperti, tali yang terlilit di leher korban adalah tali sepatu. Begitupun posisi kaki korban yang menyentuh lantai. Pihak keluarga menilai, dalam kondisi itu, korban tidak mungkin bisa sampai meninggal jika tidak ada kekerasan sebelumnya. [VoN]

Gabriel Goa Nagekeo PADMA Indonesia
Previous ArticleTiga Hari Pasca-Bencana Banjir Bandang di Nagekeo, Bantuan Kemanusiaan Mulai Disalurkan
Next Article Edi Hardum Minta Sipil yang Ikut Aniaya Warga Tidak Berlindung di Balik Polisi: Pecat dan Penjarakan

Related Posts

RSUD Aeramo Luncurkan Inovasi Layanan “Bahagia Kita”

4 Maret 2026

Dapur MBG Gako Dihentikan karena Berdiri di Atas Tanah yang Telah Diserahkan ke Pemda

3 Maret 2026

Penyidik Polresta Kupang Dinilai Tak Berani Periksa Tim SPPG Polda NTT

3 Maret 2026
Terkini

Pengkab Taekwondo Sumba Barat Daya Dukung Ridwan Angsar Jadi Ketua Pengprov TI NTT

6 Maret 2026

Nama Wakil Ketua DPRD NTT Dicatut dalam Dugaan Penipuan Lowongan Kerja, Ratusan Orang Mengaku Jadi Korban

6 Maret 2026

Golkar NTT Umumkan Pengurus Baru 2025–2030, Targetkan Musda Kabupaten Rampung April

6 Maret 2026

Cerdas Digital Saja Tidak Cukup: Haruskah Psikologi Jadi Pelajaran Wajib di Sekolah?

6 Maret 2026

Rumah Harapan untuk Regina Uner di Cibal Barat Rampung 100 Persen

6 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.