Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Gagasan»Ketika Algoritma Membentuk Kebutuhan Semu Manusia
Gagasan

Ketika Algoritma Membentuk Kebutuhan Semu Manusia

By Redaksi11 Desember 20253 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Ilustrasi Algoritma
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Oleh: Edelbertus Erikson Saju

Mahasiswa Fakultas Filsafat Unwira Kupang, Nusa Tenggara Timur

Kita hidup pada zaman ketika gawai di tangan bukan lagi sekadar alat komunikasi, tetapi pintu masuk ke dunia penuh tawaran konsumsi.

Dengan satu sentuhan, kita bisa memesan makanan, membeli pakaian, hingga menemukan barang-barang yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan.

Namun di balik kenyamanan itu, muncul pertanyaan penting: apakah semua yang kita beli benar-benar kebutuhan, atau sekadar kebutuhan semu yang dibentuk sistem digital dan kapitalisme modern?

Dalam satu dekade terakhir, budaya konsumtif digital tumbuh sangat cepat. Data Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) menunjukkan bahwa hampir separuh masyarakat Indonesia bertransaksi melalui e-commerce setidaknya sekali sebulan, 17,2% berbelanja setiap minggu, dan 2,1% melakukannya setiap hari.

Marketplace saling berlomba menawarkan diskon besar, flash sale tanggal kembar, program gratis ongkir, hingga layanan paylater yang mendorong orang berani membeli tanpa memikirkan kemampuan finansialnya. Ini adalah cara para produsen moderen dalam mendemonstrasikan atau mempromosikan hasil jual mereka.

Di sinilah kritik Herbert Marcuse, filsuf Mazhab Frankfurt, menjadi sangat relevan. Marcuse memperkenalkan konsep false needs (kebutuhan semu) yakni kebutuhan yang tidak muncul dari diri manusia, tetapi diciptakan sistem ekonomi dan budaya massa agar konsumsi terus berlangsung.

Dalam pandangannya, masyarakat modern diarahkan untuk merasa harus memiliki sesuatu, padahal dorongan itu tidak pernah ada sebelum media, iklan, dan teknologi digital menanamkannya perlahan dalam benak kita.

Fenomena ini tampak jelas dalam era algoritma. Ketika kita mencari sepatu hari ini, esoknya timeline langsung dipenuhi iklan sepatu. Setelah menonton video tentang perawatan wajah, produk skincare muncul berkali-kali.

Dunia digital tidak lagi menjadi ruang informasi, tetapi berubah menjadi mesin komersial raksasa yang bekerja membentuk persepsi bahwa manusia selalu kurang, selalu ada yang harus dibeli agar hidup terasa lengkap.

Kebutuhan semu ini bekerja bukan hanya secara ekonomi, tetapi juga psikologis. Banyak orang membeli barang bukan karena perlu, melainkan karena ingin terlihat “update”.

Budaya unboxing, standar estetika media sosial, dan tekanan untuk tampil menarik membuat konsumsi menjadi sarana mencari validasi.

Kita ingin terlihat pantas di mata orang lain, meski harus memaksakan diri membeli barang yang sebenarnya tidak dibutuhkan.

Akibatnya, budaya konsumtif digital menumbuhkan perilaku impulsif. Layanan paylater menjadi contoh paling nyata. Banyak anak muda terjebak utang digital karena membeli barang-barang yang sesungguhnya tidak mendesak.

Di sinilah analisis Marcuse tentang manusia satu dimensi (one-dimensional man) menjadi nyata: manusia kehilangan kemampuan berpikir kritis karena telah mengikuti arus sistem konsumsi tanpa menyadarinya.

Masalah ini bukan sekadar persoalan individu, tetapi persoalan sosial. Ketika masyarakat semakin konsumtif, pasar semakin mudah mengarahkan perilaku mereka. Data pribadi yang diberikan tanpa sadar dipakai untuk memperkuat kembali siklus konsumsi.

Kita masuk ke lingkaran yang sulit diputus: semakin banyak data diberikan, semakin tepat algoritma membaca keinginan kita, semakin sulit kita menghindari tawaran yang muncul.

Fenomena ini terlihat jelas di Indonesia. Belanja digital telah menjadi kebiasaan sehari-hari dan bahkan dianggap hiburan di banyak keluarga. Menunggu tanggal kembar untuk berbelanja seolah menjadi ritual bersama, padahal itu hanyalah strategi pasar yang sangat efektif.

Sayangnya, kebiasaan ini perlahan menjauhkan masyarakat dari nilai hidup sederhana dan hemat yang selama ini menjadi kekuatan budaya kita.

Apa yang bisa dilakukan?

Langkah pertama adalah kesadaran. Kesadaran bahwa tidak semua keinginan adalah kebutuhan. Kesadaran bahwa algoritma bekerja memengaruhi pilihan kita. Kesadaran bahwa hidup yang dipenuhi belanja bukan jaminan kebahagiaan, tetapi justru dapat memicu stres, utang, dan rasa hampa.

Langkah kedua adalah memperkuat literasi digital. Masyarakat perlu memahami bagaimana iklan bekerja, bagaimana data dikumpulkan, dan bagaimana membedakan kebutuhan nyata dari keinginan sesaat.

Pada akhirnya, teknologi bukan musuh. Dunia digital bukan ancaman. Yang berbahaya adalah ketika kita membiarkan diri dikendalikan oleh kebutuhan semu yang diciptakan layar-layar di hadapan kita.

Manusia yang merdeka adalah manusia yang mampu mengendalikan keinginannya, bukan yang dikendalikan oleh algoritma dan promosi tanpa henti.

Edelbertus Erikson Saju
Previous ArticleNeraca Perdagangan NTT Masih Defisit
Next Article Forkoma PMKRI NTT Gelar Retret Regio Timor, 300 Alumni Siap Hadir di Kupang

Related Posts

Jika Kopi Manggarai Bisa Bicara di Meja Hotel Labuan Bajo

10 Agustus 2026

Pendirian Universitas Republik Indonesia- Kemasan Simbol Kekuasaan

10 Agustus 2026

Dua Belas Penundaan Menguji Kemanusiaan Akademik

4 Agustus 2026
Terkini

PAN Manggarai Gelar Rakerda, Bupati Tantang Kader Tekan Kemiskinan di Wilayah Utara

12 Agustus 2026

Tiga Pria Diamankan Polisi Usai Bakar Burung Hantu Hidup-hidup di Manggarai Barat

12 Agustus 2026

Proyek Jalan Tani di Compang Dalo Diblokade Brimob, Dinas Pertanian Akui Lahan Diklaim Milik Polri

12 Agustus 2026

Kolang FC Hantam Wae Mata FC 6-1 di PSSI Manggarai Barat Cup II

12 Agustus 2026

Krisna FC Menang 2-0 atas Menjaga FC di PSSI Manggarai Barat Cup 2026

11 Agustus 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.