Kupang, VoxNTT.com – Setelah retret alumni PMKRI Regio Flores berlangsung di Ruteng awal pekan lalu, Forum Komunikasi Alumni (Forkoma) PMKRI Nusa Tenggara Timur kini menyiapkan kegiatan serupa untuk Regio Timor. Retret tersebut akan digelar pada 12–14 Desember 2025 di Biara Susteran SSpS Bello, Kupang.
Ketua Panitia, Paskalis Angkur mengatakan, hingga H-1 tercatat sekitar 300 alumni memastikan kehadiran. Angka itu dihimpun dari pendaftaran daring yang ditutup pada 7 Desember dengan 230 peserta, ditambah 70 peserta yang mendaftar secara luring.
“Kita pastikan besok peserta mencapai 300 orang,” ujar Paskalis saat meninjau persiapan akhir di lokasi kegiatan, Kamis, 11 Desember 2025 malam.
Paskalis hadir bersama Sekretaris Panitia Ronald Raya. Turut hadir pula Ketua DPD Forkoma PMKRI NTT, Aloysius Min, serta mantan Ketua PMKRI Cabang Kupang, Johni Kaunang.
Dari Forkoma Pusat, Sekretaris Umum Herry Soba dan tokoh alumni nasional Christofel Nugroho telah terkonfirmasi hadir.
Kehadiran para tokoh itu menandai luasnya jejaring alumni PMKRI, sekaligus memperlihatkan bagaimana pengalaman lintas generasi hendak dipertemukan kembali dalam ruang reflektif tersebut.
Meneguhkan Mandat Moral
Retret Forkoma di dua regio tahun ini mengusung tema “Mari Kita Memulai Lagi untuk Berbagi”.
Menurut Ketua DPD Forkoma PMKRI NTT, Aloysius Min, tema itu berakar dari inspirasi St. Fransiskus dari Asisi—seruan untuk kembali membangun “Rumah Tuhan”.
Aloysius menilai tema itu relevan bagi para alumni yang kini bergulat dengan dinamika profesi, politik, dan panggilan hidup masing-masing.
“Retret ini mengingatkan siapa kita, dari mana kita berangkat, dan untuk apa kita dipanggil. Dengan saling berbagi pengalaman dan tanggung jawab, alumni dapat kembali memainkan peran strategis bagi masyarakat dan daerah,” ujarnya.
Ia menekankan, tiga nilai dasar PMKRI yakni kristianitas, fraternitas, dan intelektualitas, menjadi titik berangkat refleksi.
Karena itu, retret dirancang bukan sekadar wadah ceramah, tetapi ruang dialog partisipatif. Para pemantik hanya membuka percakapan; ruang utama diberikan kepada peserta untuk membaca kembali perjalanan hidup mereka.
Untuk Regio Timor, sejumlah pemantik telah dijadwalkan hadir, seperti Uskup Agung Kupang Mgr. Hironimus Pakenoni, Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena, akademisi RD Dr. Leo Mali, serta para tokoh alumni dari pusat dan daerah.
Secara filosofis, retret diposisikan sebagai “ruang sunyi”, tempat alumni mengambil jeda dari ritme hidup profesional dan politik yang kian padat.
Dalam dokumen pengantar disebutkan bahwa peserta diajak “kembali ke dusun”, sebuah metafora mengenai kembali ke ruang hening untuk menata ulang perjalanan hidup dan menemukan energi baru untuk berbagi.
Retret ini merumuskan tiga pilar refleksi anatara lain, Kristianitas: mengidentifikasi tantangan etis dalam profesi masing-masing, menyegarkan panggilan menghadirkan nilai Kristiani dalam kehidupan sosial, serta menghidupkan kembali semangat solidaritas.
Fraternitas: mempertemukan visi alumni lintas profesi, membuka ruang kolaborasi antar generasi, serta memperkuat rasa memiliki dalam peran publik.
Intelektualitas: mendorong alumni menjadi rujukan pemikiran kritis bagi Gereja dan masyarakat dan menegaskan tanggung jawab intelektual dalam pembangunan daerah dan bangsa.
Paskalis Angkur menegaskan, retret ini tidak berhenti pada temu kangen atau romantisme masa lalu.
“Kerinduan bertemu itu penting, tetapi refleksi atas perjalanan hidup dan panggilan publik jauh lebih penting. Di sini alumni menata ulang kompas nilai yang lama mereka pegang,” katanya.
Ia berharap retret menjadi momentum memperkuat kembali kontribusi alumni PMKRI bagi Gereja, masyarakat, dan negara.
Pada titik ini, alumni didorong untuk menghadirkan keberanian moral dan kejernihan intelektual, dua hal yang semakin dibutuhkan di tengah perubahan sosial dan politik yang cepat.
Dengan berkumpulnya ratusan alumni di dua wilayah besar, Forkoma PMKRI NTT berharap retret ini menjadi pintu masuk bagi keterlibatan yang lebih sistematis dalam karya sosial, advokasi publik, pendidikan politik warga, dan pembangunan daerah.
Retret ini menegaskan kembali orientasi dasar alumni PMKRI, menyelaraskan langkah dengan motto Pro Ecclesia et Patria, demi Gereja dan Tanah Air.
Penulis: Ronis Natom

