Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»HUKUM DAN KEAMANAN»Kuasa Hukum: Christofel Liyanto Seharusnya Jadi Tersangka Sejak Awal Kasus Kredit Bermasalah Bank NTT
HUKUM DAN KEAMANAN

Kuasa Hukum: Christofel Liyanto Seharusnya Jadi Tersangka Sejak Awal Kasus Kredit Bermasalah Bank NTT

By Redaksi31 Januari 20263 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Ketua tim kuasa hukum Paskalia Un Bria, Joao Meco (Foto: Ronis Natom/ VoxNtt.com)
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Kupang, VoxNTT.com – Ketua Tim Kuasa Hukum Paskalia Un Bria, Joao Meco, menilai Christofel Liyanto seharusnya sudah ditetapkan sebagai tersangka sejak awal dalam perkara dugaan tindak pidana korupsi kredit bermasalah Bank Nusa Tenggara Timur (NTT).

Penilaian itu didasarkan pada fakta hukum terkait penguasaan dan aliran dana kredit yang dinilai merugikan keuangan negara.

Menurut Joao, Undang-Undang Tindak Pidana Korupsi (UU Tipikor) menitikberatkan pada adanya kerugian keuangan negara.

Dalam perkara kredit bermasalah Bank NTT, dana kredit diketahui masuk ke rekening BPR Christa Jaya Perdana dan secara nyata dikuasai serta dinikmati melalui mekanisme pemindahbukuan atas otorisasi internal BPR tersebut.

“Sejak awal seharusnya Christofel Liyanto sudah ditetapkan sebagai tersangka karena fakta menunjukkan uang Bank NTT dikuasai dan dinikmati oleh pihak BPR Christa Jaya Perdana,” kata Joao pada Jumat, 30 Januari 2026 kemarin.

Ia menegaskan, penguasaan dana tersebut terlihat jelas dari adanya transaksi pemindahbukuan sebesar Rp500 juta ke rekening pribadi Komisaris Utama BPR Christa Jaya Perdana, Christofel Liyanto, tanpa sepengetahuan Rahmat.

Fakta ini, menurut Joao, menunjukkan bahwa seluruh transaksi di rekening BPR Christa Jaya Perdana berada di bawah kendali dan otorisasi internal BPR.

Joao Meco juga menilai dakwaan yang menyebut adanya perbuatan melawan hukum yang menguntungkan pihak lain, yakni Rahmat, tidak tepat. Ia menyebut dana sebesar Rp3,5 miliar justru dinikmati oleh Christofel Liyanto.

Selain itu, terdapat empat Sertifikat Hak Milik (SHM) yang telah diikat melalui Akta Pemberian Hak Tanggungan (APHT) dan bahkan telah terbit Sertifikat Hak Tanggungan (SHT).

“Empat SHM tersebut seharusnya dapat dilelang oleh Bank NTT untuk menutup kerugian kredit macet. Namun karena adanya laporan polisi dari Christofel Liyanto, aset tersebut justru disita oleh Polda NTT,” ujarnya.

Lebih lanjut, Joao menyoroti perhitungan kerugian negara dalam dakwaan yang disebut mencapai sekitar Rp3,319 miliar.

Menurut dia, angka tersebut belum mencerminkan kerugian negara yang riil karena masih terdapat aset berupa empat SHM yang telah diagunkan serta dana Rp3,5 miliar yang dikuasai dan dinikmati oleh BPR Christa Jaya Perdana.

Ia menegaskan, aset dan dana tersebut seharusnya dapat disita oleh penyidik kejaksaan atau dikembalikan secara sukarela oleh pihak BPR Christa Jaya Perdana untuk menutup potensi kerugian negara.

Joao Meco juga menyinggung pemindahbukuan dana Rp500 juta ke rekening pribadi Christofel Liyanto sebagai rujukan penting bahwa dana Rp2 miliar yang berada di rekening BPR Christa Jaya Perdana juga berada di bawah kendali BPR.

Hal ini diperkuat dengan keterangan Rahmat dalam persidangan yang menyatakan tidak pernah menarik dana Rp2 miliar tersebut.

“Fakta di persidangan jelas menunjukkan bahwa Rahmat tidak pernah melakukan penarikan dana tersebut, sehingga semakin menegaskan bahwa penguasaan dan pengaturan transaksi sepenuhnya berada pada pihak BPR,” pungkas Joao.

Penulis: Ronis Natom

Bank NTT BPR Christa Jaya Kredit Macet Bank NTT
Previous ArticlePolisi Bantu Siswa Sebrangi Sungai Wae Songkang di Manggarai Barat
Next Article Soal Korupsi Bansos, Benny Harman Tantang KPK Berantas ‘Gembong’ di Level Kebijakan, Bukan Sekadar ‘Kaki Tangan’

Related Posts

Kejari Manggarai Pastikan Kasus Eks Kadis DP3AKB Diproses Sesuai Prosedur

3 Agustus 2026

Bejo MY Sampaikan Hak Jawab, Bantah Lakukan Penganiayaan terhadap Nelayan

1 Agustus 2026

Diduga Aniaya Nelayan, Oknum Wartawan dan Seorang Waria di Nagekeo Dipolisikan

30 Juli 2026
Terkini

Apotek K-24 Resmikan Outlet di Labuan Bajo, Perluas Akses Layanan Kesehatan 24 Jam

4 Agustus 2026

Ketua DPRD Manggarai Timur Minta Agregat Jalan Watu Cie-Deno Dibongkar Jika Tak Sesuai Spesifikasi

4 Agustus 2026

Dua Belas Penundaan Menguji Kemanusiaan Akademik

4 Agustus 2026

ASN di Reok Barat Keluhkan Iuran HUT RI, Camat Sebut untuk Kelancaran Upacara

4 Agustus 2026

Camat Welak Kunjungi Tiga ODGJ di Desa Wewa, Sebut Penanganan ODGJ Jadi Prioritas

4 Agustus 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.