Kupang, VoxNTT.com – Dewan Pimpinan Daerah Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI) Nusa Tenggara Timur menggelar dialog publik di Studio Programa 1 Radio Republik Indonesia Kupang, Senin, 23 Februari 2026.
Dialog yang bertajuk “Evaluasi 1 Tahun Kepemimpinan Melki–Johni Gubernur–Wakil Gubernur NTT” itu lewat program Dialog Kupang Menyapa.
Dialog tersebut menghadirkan Gubernur NTT, Emanuel Melkiades Laka Lena, pengamat ekonomi James Adam, akademisi Apolonaris Gai, serta Ketua DPD GAMKI NTT Winston Neil Rondo. Turut hadir Sekretaris DPD GAMKI NTT Amos Lafu.
Dalam forum tersebut, Winston menyampaikan evaluasi konstruktif atas satu tahun pemerintahan Melki–Johni.
Ia mengawali dengan mengapresiasi capaian makro Pemerintah Provinsi NTT yang menunjukkan tren positif, seperti pertumbuhan ekonomi meningkat, angka kemiskinan menurun, pengangguran relatif terkendali, serta indeks pembangunan manusia yang membaik.
“Fondasi awal yang baik sudah mulai dibangun. Namun sebagai organisasi kepemudaan, kami melihat pembangunan dari pertanyaan sederhana: apakah masa depan anak muda NTT hari ini terasa lebih jelas dibandingkan setahun lalu?” ujarnya.
Menurut dia, angka makro hanya bermakna jika diterjemahkan menjadi peluang hidup yang nyata bagi generasi muda.
Di sektor ekonomi, GAMKI menilai arah kebijakan seperti OVOP, hilirisasi UMKM, koperasi, dan penguatan ekonomi lokal sudah tepat. Namun tahun kedua harus menjadi fase penciptaan lapangan kerja baru yang lebih masif.
“Pertumbuhan ekonomi tidak boleh berhenti pada angka statistik. Tahun kedua kepemimpinan Melki–Johni harus menjadi fase penciptaan lapangan kerja baru yang lebih nyata dan terasa di kantong anak muda,” tegas Winston.
Ia menyoroti masih banyaknya anak muda yang hidup dalam kecemasan akibat terbatasnya pekerjaan dan dominasi sektor informal.
Sementara pada sektor pendidikan, perluasan akses melalui bantuan siswa miskin dan penguatan SMK diapresiasi.
Namun menurut Winston, tantangan utama adalah relevansi pendidikan dengan kebutuhan dunia kerja dan transformasi digital.
“Tahun kedua harus menjadi momentum revolusi mutu pendidikan, agar sekolah benar-benar menjadi jembatan harapan generasi muda,” katanya.
GAMKI juga mencatat progres penurunan stunting dan integrasi layanan kesehatan. Namun fakta bahwa satu dari tiga anak NTT masih mengalami stunting menjadi alarm besar bagi kualitas sumber daya manusia masa depan.
Selain itu, isu kesehatan mental remaja, tekanan sosial, serta kualitas layanan rumah sakit rujukan dinilai masih perlu perhatian serius.
“Kita sudah bergerak, tetapi kita belum berlari cepat,” tegas Winston.
Ia menekankan pentingnya pembangunan yang inklusif dan aman bagi semua, terutama perempuan, anak, penyandang disabilitas, serta kelompok rentan lainnya.
“Pembangunan bukan hanya soal infrastruktur, tetapi tentang rasa aman dan rasa percaya bahwa daerah ini layak menjadi tempat membangun masa depan,” ujarnya.
Memasuki tahun kedua, Winston menilai momentum harus bergeser dari fase fondasi menuju fase dampak nyata yang dirasakan hingga ke desa dan keluarga.
“NTT tidak kekurangan program. Yang dibutuhkan sekarang adalah lompatan kualitas layanan, percepatan peluang kerja bagi pemuda, serta perlindungan nyata bagi kelompok paling rentan,” katanya.
GAMKI NTT pun menyatakan siap menjadi mitra konstruktif pemerintah daerah untuk mengawal dan memastikan pembangunan benar-benar berpihak pada masa depan generasi NTT.
Pada kesempatan itu, Melki menyampaikan bahwa sektor pertanian menjadi salah satu penopang utama perbaikan indikator ekonomi daerah.
Peningkatan produksi gabah dinilai berdampak langsung pada pendapatan petani. Selain pertanian, sektor pariwisata juga mengalami pertumbuhan signifikan.
Geliat destinasi unggulan seperti Labuan Bajo diharapkan memberi efek berganda bagi daerah lain di NTT.
Sektor peternakan, kelautan dan perikanan, serta komoditas perkebunan seperti kopi dan kakao turut menunjukkan perkembangan positif.
Melki juga mengungkapkan bahwa Pemerintah Provinsi NTT tengah menyiapkan Tim Percepatan Ekonomi Kerakyatan untuk mengoptimalkan potensi daerah, termasuk pemanfaatan dana Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang mengalir ke NTT lebih dari Rp3,2 triliun guna mendorong usaha produktif dan memperluas kesempatan kerja.
Sementara itu, Apolonaris Gai menilai tahun pertama pemerintahan Melki–Johni merupakan fase konsolidasi tata kelola pemerintahan, dengan penguatan fondasi good governance dan stabilitas hubungan eksekutif-legislatif sebagai modal penting memasuki tahun kedua.
Pengamat ekonomi James Adam menambahkan, penguatan program One Village One Product (OVOP) perlu difokuskan pada kualitas produk, promosi, serta keberlanjutan produksi agar mampu menciptakan nilai tambah ekonomi di tingkat desa.
Menutup dialog, Melki menegaskan komitmennya terhadap keterbukaan dan partisipasi publik. Ia menyatakan pemerintahannya terbuka terhadap kritik dan masukan demi memastikan pembangunan NTT benar-benar menghadirkan kesejahteraan yang merata.
Dialog interaktif ini menjadi momentum refleksi atas capaian tahun pertama sekaligus penegasan arah kebijakan ke depan, dengan penciptaan lapangan kerja dan dampak nyata pembangunan sebagai agenda prioritas utama.
Penulis: Ronis Natom

