Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Regional NTT»NasDem NTT Gelar Diskusi Lima Tahun Seroja, Bahas Risiko Bencana hingga Solusi Mitigasi
Regional NTT

NasDem NTT Gelar Diskusi Lima Tahun Seroja, Bahas Risiko Bencana hingga Solusi Mitigasi

By Redaksi26 Februari 20263 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
DPW NasDem NTT menggelar diskusi akhir pekan (Foto: Ronis Natom/ VoxNtt.com)
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Kupang, VoxNTT.com – Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Partai NasDem Provinsi Nusa Tenggara Timur menggelar diskusi publik bertajuk “Lima Tahun Seroja, Apa Dampak dan Solusi Konkret” di Kantor DPW NasDem NTT, Kamis, 26 Januari 2026. Diskusi tersebut merupakan bagian dari agenda rutin bulanan partai untuk membahas isu-isu publik di luar politik.

Sekretaris DPW NasDem NTT, Lisa Pally membuka kegiatan tersebut. Ia mengatakan, diskusi publik menjadi wadah kontribusi pemikiran bagi para pemangku kepentingan di daerah.

“Kalau ada pikiran cerdas bisa disampaikan. Nasdem berkontribusi terhadap pembangunan di daerah ini. Isunya tidak melulu soal politik,” katanya.

Lisa menambahkan, perubahan iklim telah menjadi persoalan global sehingga mitigasi, pengelolaan bencana, dan desain kebijakan perlu menjadi bahan diskusi bersama.

“Terima kasih untuk narasumber dan serta selamat berdiskusi. Ini bisa membuka pola pikir dan adanya gagasan yang bernas bagi kita,” katanya.

Hadir sebagai narasumber antara lain Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan Bencana Badan Penanggulangan Bencana Daerah Provinsi NTT, Safrudin German. Ia menjelaskan bahwa pembahasan bencana harus dimulai dari analisis ancaman dan kerentanan wilayah.

“Jika ancaman dan kerentanan tinggi maka risiko menjadi tinggi. Cara untuk mengurangi risiko melalui peningkatan kapasitas. Hari ini diskusi ini juga salah satu cara,” jelasnya.

Safrudin merinci sejumlah potensi ancaman bencana di NTT, seperti banjir, banjir bandang, cuaca ekstrem, gelombang ekstrem, kebakaran hutan, kekeringan, letusan gunung api, hingga tanah longsor.

“Pembelajaran bagi kita semua bahwa urusan kemanusiaan itu tidak main main,” ujarnya.

Ia juga menyinggung Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana yang mengubah paradigma penanganan bencana di Indonesia.

“Itu membuat perspektif sudah berubah sejak tsunami Aceh. Penanganan bencana bukan lagi pasca bencana. Tapi jauh sebelumnya harus dilakukan perencanaan untuk pencegahan. Penguatan kapasitas dimulai dari komunitas,” ujarnya.

Menurut Safrudin, masyarakat harus diperkuat agar mampu melindungi diri secara mandiri saat terjadi bencana.

“Pertama-tama yang menyelamatkan diri adalah komunitas itu sendiri. Keluarga tangguh, desa Tangguh, Kabupaten Tangguh sampai ke Indonesia tangguh,” pungkasnya.

Narasumber lain, akademisi dari Universitas Nusa Cendana, Norman Riwu Kaho, mengatakan siklon Seroja merupakan salah satu dari banyak siklon tropis yang pernah terjadi di NTT dan menunjukkan tingginya tingkat ancaman bencana di wilayah tersebut.

“Bencana terjadi karena kita melupakan dia. NTT memiliki sejarah bencana cuaca ekstrem akibat siklon tropis dan sekaligus mengindikasikan tingginya tingkat bahaya,” jelasnya.

Norman menjelaskan, manajemen bencana mencakup tiga tahap, yakni sebelum, saat, dan setelah bencana. Namun, menurut dia, perhatian terhadap isu kebencanaan masih rendah.

“Saat ini menurutnya, kita kurang fokus pada isu bencana. Tidak ada satupun kota atau kabupaten di NTT yang memiliki kapasitas bencana tinggi semua rendah,” pungkasnya.

Penulis: Ronis Natom

Nasdem NasDem NTT
Previous ArticleJenazah WNA Asal Kanada yang Tewas di Labuan Bajo Diterbangkan ke Bali 
Next Article Reses di Kuwu, Lexy Armanjaya Dorong Warga Manfaatkan Lahan Kosong untuk Pertanian Produktif

Related Posts

ASN di Reok Barat Keluhkan Iuran HUT RI, Camat Sebut untuk Kelancaran Upacara

4 Agustus 2026

Camat Welak Kunjungi Tiga ODGJ di Desa Wewa, Sebut Penanganan ODGJ Jadi Prioritas

4 Agustus 2026

Herry Baben: Tak Ada yang Kaya karena Judi Online, yang Ada Justru Hancur

2 Agustus 2026
Terkini

ASN di Reok Barat Keluhkan Iuran HUT RI, Camat Sebut untuk Kelancaran Upacara

4 Agustus 2026

Camat Welak Kunjungi Tiga ODGJ di Desa Wewa, Sebut Penanganan ODGJ Jadi Prioritas

4 Agustus 2026

Organisasi Sipil Berperan Penting Dukung Investasi Hijau

3 Agustus 2026

Kejari Manggarai Pastikan Kasus Eks Kadis DP3AKB Diproses Sesuai Prosedur

3 Agustus 2026

Spesialis Tendang Bebas Jeims Moa Antar Desa Pinggang FC Raih Podium Dua di Turnamen U15 Kecamatan Cibal

2 Agustus 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.