Kupang, VoxNTT.com – Ketua Angkatan Muda Adonara (AMA) Kupang, Fransiskus Demon Koda, mengecam perang antarsuku yang terjadi di Pulau Adonara, Kabupaten Flores Timur, pada Jumat, 6 Maret 2026. Konflik tersebut melibatkan warga Dusun Bele, Desa Waiburak, dengan warga Desa Narasaosina di Kecamatan Adonara Timur.
Fransiskus mengatakan peradaban yang semakin maju seharusnya mencerminkan transformasi manusia menuju kehidupan yang lebih baik.
“Namun kenyataan peradaban yang maju dalam peningkatan struktur sosial budaya dan peningkatan pemikiran manusia yang lebih maju hanya sebuah mimpi yang tidak menjadi bagi orang Adonara dan menjadi kelemahan buat orang Adonara,” katanya, Senin, 9 Maret 2026.
Menurut Fransiskus, bentrok yang terjadi pada Jumat pagi itu dipicu oleh perebutan lahan di sekitar Toko Serba 35. Konflik tersebut menyebabkan tiga orang mengalami luka-luka serta sejumlah rumah dibakar dan dibom.
“Peristiwa yang sebenarnya tidak harus terjadi lagi di pulau Adonara. Konflik seperti ini membuat banyak orang akan menilai peradaban orang Adonara belum maju,” ujarnya.
Ia menilai konflik antara warga Desa Narasaosina dan Dusun Bele, Desa Waiburak, menunjukkan bahwa sebagian masyarakat masih memilih kekerasan sebagai cara menyelesaikan masalah.
“Hal demikian jangan kita anggap sebagai budaya yang akan diwariskan terus menerus ke generasi selanjutnya, kemajuan kita orang Adonara bisa diukur dengan kejadian seperti ini,” katanya.
Menurut dia, salah satu kelemahan masyarakat Adonara adalah kurangnya kerendahan hati untuk menyelesaikan persoalan dengan kepala dingin.
“Sebuah kelemahan kita orang Adonara adalah tidak memiliki kerendahan hati untuk menyelesaikan masalah dengan kepala dingin,” ujarnya.
Ia menilai sikap yang terlalu mengedepankan harga diri sering membuat musyawarah tidak berjalan baik. Keinginan untuk selalu merasa benar, kata dia, menjadi salah satu karakter yang tidak lagi sesuai dengan perkembangan zaman.
Selama ini, kata Fransiskus, konflik kerap diselesaikan dengan cara perang yang oleh sebagian masyarakat dianggap sebagai jalan terbaik untuk mencari kebenaran.
“Akan tetapi sampai kapan? Kapan orang Adonara mau maju kalau semua permasalah diselesaikan dengan kekerasan,” ujarnya.
Fransiskus menegaskan bahwa perang di era sekarang bukan lagi menjadi solusi terbaik. Menurut dia, perang hanya akan membuat masyarakat semakin sulit untuk bersatu, berdamai, dan berbenah menjadi lebih baik.
Ia menilai perang justru menjadi awal dari kehancuran serta meninggalkan warisan yang buruk bagi generasi berikutnya.
Ia juga menyebutkan bahwa kondisi tersebut dapat membuat masyarakat dilabeli sebagai bangsa yang tidak pernah maju. Meskipun budaya dan adat istiadat masih sangat dijunjung tinggi, Fransiskus menilai belum ada perubahan nyata dalam mewariskan kemajuan yang progresif bagi Adonara.
Karena itu, ia menegaskan bahwa kebiasaan buruk seperti konflik dan perang harus dihilangkan dan tidak boleh terjadi lagi di masa mendatang.
“Perubahan yang baik dengan cara mulai meninggal hal yang tidak baik, yang diwariskan oleh leluhur,” pungkasnya.
Diketahui, konflik yang terjadi pada Jumat, 6 Maret 2026 itu dipicu persoalan lahan yang rencananya digunakan untuk pembangunan Koperasi Merah Putih di wilayah Sdodna. Bentrokan kemudian terjadi antara warga Desa Narasaosina dan Dusun Bele.
Penulis: Ronis Natom

