Membuka kubur dan membangkitkan orang mati bisa berarti membuka pengalaman pahit, membuka dan mengeluarkan dendam, irihati, marah, cemas, dan ketakutan. Atau sebaliknya juga membuka ikatan khayalan yang meninabobokan. Menanam lubang-lubang luka hidup dengan benih kasih dan maaf. Dengan itu tumbuh pohon harapan yang baru.
Oleh: Rm. Inosensius Sutam
(Minggu Prapaskah V, Tahun A; Minggu, 22 Maret 2026; Yeh 37:12-14; Mzm 130: 1-2.3-4.5.6b.7b-8; R:7; Rm. 8:8-11; Yoh 11:1-45)
1
Kematian adalah akar dari semua ketakutan manusia. Ia membatasi semua hal. Ia memisahkan. Membuat sedih. Tapi juga membuka jalan untuk sebagian orang. Itu terjadi dalam konflik atau perang. Atau perebutan kekuasaan. Mungkin karena kematian dalam semua agama dan budaya kematian diritualkan dengan penuh hormat. Namun bacaan hari ini menunjukkan Tuhan yang melampui kematian.
2
Dalam bacaan pertama (Yeh 37:12-14), Tuhan Allah berjanji untuk membuka kubur-kubur umatNya dan membangkitkan umatNya dari kematian dan membawa mereka ke tanah terjanji. Allah memberikan Roh sehingga umatNya bisa hidup kembali. Hal itu akan memberi pengetahuan kepada orang Israel tentang Tuhan. Hanya Dia yang bisa membangkitkan orang mati.
3
Dalam bacaan kedua (Rm. 8:8-11), Santu Paulus memperkenalkan hidup dalam daging dan dalam Roh. Yang hidup dalam daging tidak berkenan kepada Allah. Mereka bukan milik Kristus. Jika mereka mati, maka akan mati selamanya. Sebaliknya, mereka yang hidup dalam Roh adalah milik Kristus. Kalau mereka mati, tubuhnya memang mati karena dosa, tetapi rohnya akan hidup karena kebenaran. Dan sama seperti Roh Allah, telah membangkitkan Kristus, maka kita pun akan dibangkitkan oleh Roh Allah itu. Dengan itu tubuh fana kita akan hidup selamanya.
4
Dalam bacaan Injil (Yoh 11:1-45), Yesus berhasil membangkitkan Lazarus yang sudah empat hari berada dalam kubur. Yesus mengalahkan kematian. Kubur menjadi jembatan menuju kehidupan yang kedua bagi Lazarus. Dalam iman dan Roh Allah, kematian adalah tidur. Berarti bisa bangun lagi. Sebaliknya, jika malas dan tidur terus maka kita sebenarnya mati.
5
Bacaan hari menyadarkan kita dan mengajak kita untuk memulihkan hidup kita dalam Roh Allah sendiri dalam beberapa hal.
Pertama, hal yang melekat dengan kematian dan menjadi tempat tinggal orang mati adalah kubur. Karena itu, kubur adalah hal yang menakutkan kita. Ia seperti batas akhir dari hidup kita. Secara metaforis kita sadar juga kubur sebagai sesuatu yang menakutkan mungkin terbentuk dalam diri kita: mulut kita yang marah bisa menjadi kubur, mata kita yang melotot terus bisa menjadi kubur, telinga kita yang hanya mendengar gossip yang tidak benar bisa menjadi kubur, pikiran kita yang salah bisa menjadi kubur, perasaan benci, dendam, irihati bisa menjadi kubur, tangan kita yang memukul bisa menjadi kubur, nafsu yang tak terkendali bisa menjadi kubur, dst.
5
Kedua, Namun iman akan Allah akan mengubah kubur menjadi rahim yang melahirkan kita secara baru. Ia seperti sebuah lubang yang menumbuhkan benih dan bibit hidup yang baru. Jika tubuh, jiwa, dan roh kita penuh dengan Roh Allah, maka tubuh kita bukan menjadi kubur tetapi rahim, mulut kita menjadi rahim yang melahirkan kata-kata bijaksana yang meneguhkan dan menyelesaikan masalah, tangan kita yang rajin cuci piring, rajin kerja kebun, pelihara hewan menjadi rahim yang melahirkan kehidupan, dll. Jadikan hidup sebagai rahim, maka ia akan membangkitkan semangat yang mati, mengubah pikiran yang salah, perasaan yang buruk, cara pandang yang jelek, dst.
5
Ketiga, membuka kubur dan membangkitkan orang mati bisa berarti membuka pengalaman pahit, membuka dan mengeluarkan dendam, irihati, marah, cemas, dan ketakutan. Atau sebaliknya juga membuka ikatan khayalan yang meninabobokan hidup kita. Menanam lubang-lubang luka hidup dengan benih kasih dan maaf. Dengan itu tumbuh pohon harapan yang baru. Hal itu juga yang mengajak kita untuk menanam lahan yang gersang dalam lingkungan hidup kita, sehingga air tetap melimpah dan udara tetap segar.
6
Keempat, jika kita hidup baik dan menjadi rahim bagi lahirnya hal baik, benar, dan indah selama hidup kita, maka kita akan hidup selamanya. Karena kita dikenang oleh orang. Tubuh kita mati dan menjadi tanah. Tetapi karya kita, pikiran kita, teladan kita, tingkah laku kita yang benar dan baik akan abadi dan membangkitkan banyak orang yang hidup dalam kematian roh dan jiwa.

