Oleh: Rm. Inosensius Sutam
(Kamis Putih, Tahun A; 2 April 2026; Kel 12:1-8.11-14; Mzm 116:12-13.15-16bc.17-18; R:1Kor 10:16; 1 Kor 11:23-26; Yoh 13:1-15)
1
Pada hari ini kita merayakan Kamis suci atau putih. Disebut suci karena ini bagian dari tahap karya Allah untuk membebaskan kita dari dosa dan menyucikan. Sejalan dengan ia disebut putih karena Allah memutihkan dosa kita sehingga kita menjadi putih bersih. Putih juga menunjukkan anak domba yang tak bercacat dan bercela. Menunjukkan kesetiaan dan ketulusan dari Yesus Kristus sebagai Anak Domba Allah.
2
Putih dan suci itu ditunjukkan dalam dua sakramen yang diperingati hari ini, yaitu Sakramen Ekaristi dan Sakramen imamat. Sakramen adalah perjanjian. Kita taat pada perjanjian, sehingga kita mendapat rahmat dan berkat yang dijanjikan Allah.
3
Sakramen ekaristi terungkap dalam perjamuan terakhir yang kita peringati. Ekaristi berarti mengucap syukur. Berterimakasih kepada Tuhan, kepada sesama, dan kepada alam. Sakramen imamat atau tahbisan berarti mengukuhkan orang-orang yang akan melayani sakramen ekaristi dan sakramen-sakramen lainnya.
4
Pada malam ini, kita juga mendengar dan melakukan pembasuhan kaki yang pernah dilakukan Yesus kepada murid-muridNya. Ini simbol pelayanan dan perhatian kepada mereka yang paling lemah dan kecil dalam hidup kita.
5
Kita juga akan mengadakan prosesi sakramen Mahakudus: artinya kita berziarah bersama Kristus dengan mengosongkan diri seperti yang disimbolkan dengan pengosongan altar.
6
Kita juga mengadakan doa tuguran. Artinya kita mau menemani Yesus dalam menghadapi penderitaan. Supaya kita jangan seperti para murid yang capai dan tidur. Membiarkan Yesus sendirian.
Kamis Putih berarti kita mengosongkan diri dan memberi diri dibasuh dari dosa.

