Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»VOX POPULI»MAHASISWA»Fandis Nggarang Kritik Dugaan “Cawe-Cawe” Alumni dan Politik Uang dalam Kongres PMKRI
MAHASISWA

Fandis Nggarang Kritik Dugaan “Cawe-Cawe” Alumni dan Politik Uang dalam Kongres PMKRI

By Redaksi23 Juli 20263 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Fandis Nggarang (Foto: Dok. Pribadi/ HO)
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Ruteng, VoxNTT.com – Mantan Pengurus Pusat (PP) PMKRI periode 2016–2018, Fandis Nggarang, mengkritik dugaan praktik cawe-cawe alumni dan politik uang dalam pelaksanaan Kongres XXXIV dan Majelis Permusyawaratan Anggota (MPA) XXXIII Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Sanctus Thomas Aquinas yang berlangsung di Aula Assumpta Ruteng, Kabupaten Manggarai.

Kongres nasional yang dihadiri delegasi cabang PMKRI dari berbagai daerah di Indonesia itu resmi dibuka pada Senin, 20 Juli 2026.

Dalam catatan kritisnya yang disampaikan bertepatan dengan pembukaan kongres, Fandis menilai intervensi pihak luar, khususnya oknum alumni, telah menggeser arah perjuangan organisasi dari nilai-nilai dasar PMKRI.

“Yang saya yakini, bahwa cawe-cawe tidak lain adalah money oriented, yang mengerdilkan politik gagasan. Aksi-aksi seperti ini memaksa PMKRI untuk menjadi forum yang tidak bekerja sesuai DNA-nya,” tegas Fandis dalam keterangan yang diterima VoxNtt.com pada Kamis, 23 Juli 2026.

Kandidat doktor Linguistik di Universität zu Köln, Jerman, itu mengibaratkan kondisi tersebut seperti sebuah spesies yang dipaksa menerima unsur asing hingga menghasilkan “kloning yang gagal”.

Menurut dia, situasi itu memicu praktik saling menjatuhkan antarkader demi kepentingan finansial dan kekuasaan jangka pendek.

Fandis menegaskan, PMKRI merupakan organisasi mahasiswa sehingga semestinya berorientasi pada pengembangan ilmu pengetahuan, bukan kepentingan finansial.

Karena itu, ia meminta pihak yang tidak lagi berstatus mahasiswa tidak mendominasi maupun mengintervensi proses internal organisasi.

Selain menyoroti dugaan politik uang, Fandis juga mengkritik budaya aktivisme internal PMKRI yang dinilainya lebih menonjolkan slogan dibanding kerja nyata.

Ia menyebut narasi mengenai transformasi, arah gerak, dan perubahan kerap berhenti pada jargon tanpa pembahasan yang mendalam maupun implementasi di tengah masyarakat.

Ia juga menilai gerakan mahasiswa mengalami pergeseran menjadi aktivitas yang bersifat seremonial dan berorientasi pada pencitraan di media sosial, seperti pembuatan flyer, twibbon, dan baliho tanpa diikuti aksi nyata.

Menyinggung kontestasi kepemimpinan nasional dalam Kongres XXXIV, Fandis mempertanyakan kualitas kepemimpinan apabila proses pemilihan lebih ditentukan oleh kekuatan modal daripada pertarungan gagasan.

“Perubahan seperti apa yang kau harapkan dari pemimpin yang mesti siap ratusan juta (untuk tidak mengatakan miliaran) rupiah untuk bisa dianggap ‘pantas’ berkontestasi di Kongres? Kita akan semakin terisolasi dari aktivisme yang jujur karena urat nadi gerakan dibangun dari tipu-tapu,” urainya.

Pada bagian akhir pernyataannya, Fandis melontarkan kritik keras kepada oknum alumni yang disebutnya terlibat dalam praktik politik uang selama kongres berlangsung.

“Terhadap alumni siapa pun yang mengorkestrasi politik uang: Anda tidak lebih dari gelandangan politik. Anda boleh masuk Ruteng dan menganggap diri penting, nyatanya tidak. Kembali urus karirmu sendiri. Jangan ajarin adik-adik untuk menjilat balik,” pungkas Fandis.

Pernyataan tersebut menjadi sorotan di sela-sela pelaksanaan Kongres XXXIV dan MPA XXXIII PMKRI di Ruteng. Hingga pernyataan itu disampaikan, belum ada tanggapan resmi dari panitia kongres maupun pihak yang disebut dalam kritik tersebut. [VoN]

Fandis Nggarang PMKRI PMKRI Ruteng
Previous ArticleKepala SMPN Satap Munde Bantah Dugaan Pungli, Sebut Uang dari Orangtua Bersifat Sukarela
Next Article 40 Peserta Kwarcab Pramuka Manggarai Barat Ikut Jambore Daerah NTT X dan Jambore Nasional XII 2026

Related Posts

Gubernur NTT Minta PMKRI Tetap Jadi Mitra Kritis Pemerintah

21 Juli 2026

Bupati Matim Dorong Kongres PMKRI Hasilkan Rekomendasi untuk Manggarai Raya

20 Juli 2026

Bupati Manggarai Harap Kongres PMKRI Hasilkan Rekomendasi untuk Daerah 3T

20 Juli 2026
Terkini

40 Peserta Kwarcab Pramuka Manggarai Barat Ikut Jambore Daerah NTT X dan Jambore Nasional XII 2026

23 Juli 2026

Fandis Nggarang Kritik Dugaan “Cawe-Cawe” Alumni dan Politik Uang dalam Kongres PMKRI

23 Juli 2026

Kepala SMPN Satap Munde Bantah Dugaan Pungli, Sebut Uang dari Orangtua Bersifat Sukarela

22 Juli 2026

Gubernur NTT Minta PMKRI Tetap Jadi Mitra Kritis Pemerintah

21 Juli 2026

Bupati Matim Dorong Kongres PMKRI Hasilkan Rekomendasi untuk Manggarai Raya

20 Juli 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.