Ruteng, VoxNTT.com – Mantan Pengurus Pusat (PP) PMKRI periode 2016–2018, Fandis Nggarang, mengkritik dugaan praktik cawe-cawe alumni dan politik uang dalam pelaksanaan Kongres XXXIV dan Majelis Permusyawaratan Anggota (MPA) XXXIII Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Sanctus Thomas Aquinas yang berlangsung di Aula Assumpta Ruteng, Kabupaten Manggarai.
Kongres nasional yang dihadiri delegasi cabang PMKRI dari berbagai daerah di Indonesia itu resmi dibuka pada Senin, 20 Juli 2026.
Dalam catatan kritisnya yang disampaikan bertepatan dengan pembukaan kongres, Fandis menilai intervensi pihak luar, khususnya oknum alumni, telah menggeser arah perjuangan organisasi dari nilai-nilai dasar PMKRI.
“Yang saya yakini, bahwa cawe-cawe tidak lain adalah money oriented, yang mengerdilkan politik gagasan. Aksi-aksi seperti ini memaksa PMKRI untuk menjadi forum yang tidak bekerja sesuai DNA-nya,” tegas Fandis dalam keterangan yang diterima VoxNtt.com pada Kamis, 23 Juli 2026.
Kandidat doktor Linguistik di Universität zu Köln, Jerman, itu mengibaratkan kondisi tersebut seperti sebuah spesies yang dipaksa menerima unsur asing hingga menghasilkan “kloning yang gagal”.
Menurut dia, situasi itu memicu praktik saling menjatuhkan antarkader demi kepentingan finansial dan kekuasaan jangka pendek.
Fandis menegaskan, PMKRI merupakan organisasi mahasiswa sehingga semestinya berorientasi pada pengembangan ilmu pengetahuan, bukan kepentingan finansial.
Karena itu, ia meminta pihak yang tidak lagi berstatus mahasiswa tidak mendominasi maupun mengintervensi proses internal organisasi.
Selain menyoroti dugaan politik uang, Fandis juga mengkritik budaya aktivisme internal PMKRI yang dinilainya lebih menonjolkan slogan dibanding kerja nyata.
Ia menyebut narasi mengenai transformasi, arah gerak, dan perubahan kerap berhenti pada jargon tanpa pembahasan yang mendalam maupun implementasi di tengah masyarakat.
Ia juga menilai gerakan mahasiswa mengalami pergeseran menjadi aktivitas yang bersifat seremonial dan berorientasi pada pencitraan di media sosial, seperti pembuatan flyer, twibbon, dan baliho tanpa diikuti aksi nyata.
Menyinggung kontestasi kepemimpinan nasional dalam Kongres XXXIV, Fandis mempertanyakan kualitas kepemimpinan apabila proses pemilihan lebih ditentukan oleh kekuatan modal daripada pertarungan gagasan.
“Perubahan seperti apa yang kau harapkan dari pemimpin yang mesti siap ratusan juta (untuk tidak mengatakan miliaran) rupiah untuk bisa dianggap ‘pantas’ berkontestasi di Kongres? Kita akan semakin terisolasi dari aktivisme yang jujur karena urat nadi gerakan dibangun dari tipu-tapu,” urainya.
Pada bagian akhir pernyataannya, Fandis melontarkan kritik keras kepada oknum alumni yang disebutnya terlibat dalam praktik politik uang selama kongres berlangsung.
“Terhadap alumni siapa pun yang mengorkestrasi politik uang: Anda tidak lebih dari gelandangan politik. Anda boleh masuk Ruteng dan menganggap diri penting, nyatanya tidak. Kembali urus karirmu sendiri. Jangan ajarin adik-adik untuk menjilat balik,” pungkas Fandis.
Pernyataan tersebut menjadi sorotan di sela-sela pelaksanaan Kongres XXXIV dan MPA XXXIII PMKRI di Ruteng. Hingga pernyataan itu disampaikan, belum ada tanggapan resmi dari panitia kongres maupun pihak yang disebut dalam kritik tersebut. [VoN]

