Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»NTT NEWS»Penjabat Gubernur NTT Beri Perhatian Khusus Atasi Stunting dan Kemiskinan Ekstrem
NTT NEWS

Penjabat Gubernur NTT Beri Perhatian Khusus Atasi Stunting dan Kemiskinan Ekstrem

By Redaksi4 Februari 20253 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Penjabat Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Andriko Noto Susanto, pose bersama beberapa ASN usai apel kesadaran ASN di lingkungan Pemerintah Provinsi NTT pada Senin, 3 Februari 2025 (Foto: Dionisius Ceunfin/ Biro Administrasi Pimpinan Setda Provinsi NTT)
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Kupang, Vox NTT – Penjabat Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Andriko Noto Susanto, memberikan perhatian serius terhadap penanganan stunting dan kemiskinan ekstrem di Provinsi NTT.

Menurut data survei Kesehatan Indonesia tahun 2023, prevalensi stunting di NTT masih sangat tinggi, mencapai 37,9 persen.

Selain itu, data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa persentase kemiskinan di NTT pada Maret 2024 mencapai 19,48 persen, menjadikannya salah satu provinsi dengan tingkat kemiskinan tertinggi di Indonesia.

Untuk mengatasi masalah stunting, Andriko menyebutkan bahwa berbagai intervensi telah dilakukan, antara lain melalui Gerakan Kemanusiaan Percepatan Penanganan Stunting Terpadu (GKP2ST).

Selain itu, telah dikeluarkan surat edaran kepada 22 bupati dan penjabat wali kota/penjabat bupati se-NTT untuk melaksanakan GKP2ST.

Beberapa langkah yang diambil termasuk gerakan orangtua asuh, monitoring melalui aplikasi Anting Orta dan Aplikasi Anting Mutiara, edukasi di lembaga pendidikan, layanan telemedicine, serta pembentukan pusat terapi makan (therapeutic feeding center) dan pelatihan TOT untuk tenaga kesehatan.

Di sisi lain, untuk mendukung intervensi sensitif, Pemerintah Provinsi NTT menyalurkan bantuan sosial (bansos) berupa 9.626 paket yang bersumber dari dana insentif fiskal stunting sebesar Rp5,742 miliar.

Setiap paket berisi berbagai bahan pangan bergizi seperti beras forte, telur ayam, kacang hijau, abon ikan, biskuit kelor, serta serbuk kelor, yang bertujuan untuk mendukung pemenuhan gizi anak-anak dan keluarga.

“Berkat upaya bersama, kita patut bersyukur karena data e-PPGM mencatatkan penurunan prevalensi stunting pada balita, dari 19 persen pada Oktober 2024 menjadi 18,6 persen pada November 2024,” ungkap Andriko saat memimpin apel kesadaran ASN di lingkungan Pemerintah Provinsi NTT pada Senin, 3 Februari 2025.

Selain stunting, penanganan kemiskinan ekstrem juga menjadi prioritas utama.

Beberapa langkah yang dilakukan di antaranya adalah menurunkan beban pengeluaran masyarakat melalui pemberian bansos sebanyak 24.557 paket.

Setiap paket terdiri dari beras 10 kg, gula 1 kg, dan minyak 1 liter, yang didistribusikan ke seluruh kabupaten/kota se-NTT, dengan anggaran dana insentif fiskal sebesar Rp5,59 miliar.

Selain itu, bantuan iuran jaminan kesehatan (PBI-KL) diberikan kepada 3.197.155 penerima manfaat per Oktober 2024, serta bantuan pangan beras premium 20 kg/KK kepada 6.120 keluarga di 22 kabupaten/kota.

Pemerintah Provinsi NTT juga memberikan dukungan untuk meningkatkan pendapatan dan produktivitas masyarakat, di antaranya dengan memberikan bantuan alat tangkap ikan untuk nelayan dan bantuan modal usaha ekonomi produktif.

Pada tahap pertama, bantuan diberikan kepada 60 Kelompok Usaha Bersama (KUB) yang beranggotakan 359 kepala keluarga, dengan total bantuan sebesar Rp10 juta per KUB.

Tak hanya itu, penurunan jumlah kantong kemiskinan juga diupayakan melalui bantuan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS).

Sebanyak 66 unit PLTS telah disalurkan, serta bantuan PLTS terpusat off-grid di 14 lokasi di Pulau Sumba yang mencakup 1.659 rumah tangga.

Selain itu, bantuan meteran listrik 450 VA sebanyak 145 unit dan bantuan sumur bor juga diberikan sebagai bagian dari upaya pemerataan akses energi dan air bersih. [VoN]

Andriko Noto Susanto Penjabat Gubernur NTT Stunting NTT
Previous ArticleMelki Laka Lena Audiensi dengan Kepala Bappenas Bahas Agenda Bangun NTT
Next Article Usulan Pembentukan Kecamatan Kota Mbay, Langkah Klarifikasi Identitas Ibu Kota Nagekeo

Related Posts

Nama Wakil Ketua DPRD NTT Dicatut dalam Dugaan Penipuan Lowongan Kerja, Ratusan Orang Mengaku Jadi Korban

6 Maret 2026

Gubernur NTT Buka Diskusi Nasib 9.000 PPPK di Ruang Publik

5 Maret 2026

Pemprov NTT Harus Lobi Pemerintah Pusat soal Nasib 9.000 PPPK

5 Maret 2026
Terkini

Cerpen: Mata Tua di Tubuh Bayi Bole Wote

6 Maret 2026

Tanah Ulayat, Identitas, dan Derita Sosial

6 Maret 2026

Desa Golo Riwu Tetapkan APBDes Tahun Anggaran 2026, KMP dan MBG Jadi Fokus Utama

6 Maret 2026

Rote Ndao Siap Jadi Tuan Rumah Selancar Ombak PON 2028

6 Maret 2026

Polres Manggarai Limpahkan Dua Tersangka Kasus Narkotika ke Kejaksaan

6 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.