Kupang, Vox NTT – Bank Mandiri terus menunjukkan performa impresif sepanjang tahun 2024 dengan mencatatkan pertumbuhan aset yang solid.
Berkat optimalisasi ekosistem wholesale, ekspansi kredit yang merata, dan transformasi digital yang agresif namun tetap prudent, total aset konsolidasi Bank Mandiri tercatat mencapai Rp2.427 triliun, tumbuh 11,6% YoY.
Pencapaian ini memperkuat posisi Bank Mandiri sebagai bank terbesar di Indonesia dari sisi aset, serta mencerminkan efektivitas strategi yang mendukung pertumbuhan ekonomi nasional secara berkelanjutan.
Pada Kamis, 27 Februari 2025, Regional CEO Bali dan Nusa Tenggara, Bapak Winardi Legowo, menyatakan bahwa pertumbuhan kredit menjadi motor utama ekspansi bisnis Bank Mandiri.
Total penyaluran kredit mencapai Rp1.670,5 triliun, meningkat signifikan sebesar 19,5% YoY, jauh melampaui rata-rata industri. Segmen wholesale tetap menjadi pilar utama dengan kenaikan 25,5% YoY, mencapai Rp913,3 triliun.
“Kami berfokus pada pengembangan sektor wholesale untuk memperluas jangkauan ke berbagai sektor ekonomi yang membutuhkan akses permodalan. Ekosistem ini tidak hanya menciptakan peluang bagi perkembangan bisnis, tetapi juga berperan penting dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional,” ujar Winardi Legowo.
Bank Mandiri juga memberikan perhatian serius pada sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Penyaluran kredit untuk UMKM mencapai Rp135 triliun, tumbuh 6% YoY. Di Provinsi Nusa Tenggara Timur, pertumbuhan kredit UMKM bahkan tercatat mencapai 32,48%, menunjukkan strategi ekspansi yang merata di seluruh Indonesia. Langkah ini turut memperkuat daya tahan ekonomi, menciptakan dampak ekonomi yang inklusif.
“Inovasi digital melalui aplikasi Livin’ by Mandiri semakin memperkuat layanan finansial kami. Hingga akhir 2024, Livin’ by Mandiri telah memiliki 29,3 juta pengguna, dengan total transaksi mencapai 3,9 miliar, tumbuh 38% YoY. Di Nusa Tenggara Timur, terdapat 159 ribu pengguna dengan transaksi yang tumbuh 45,1% YoY,” tambah Winardi.
Bank Mandiri juga mengembangkan platform Kopra by Mandiri, yang menjadi tulang punggung layanan perbankan wholesale dengan nilai transaksi Rp22.700 triliun, tumbuh 17% YoY. Di Nusa Tenggara Timur, nilai transaksi Kopra bahkan tumbuh 117,1% YoY.
Selain fokus pada ekspansi bisnis, Bank Mandiri tetap menjaga fundamental yang sehat. Rasio Non-Performing Loan (NPL) tercatat turun 5 basis poin menjadi 0,97%, menunjukkan kesiapan bank dalam menghadapi berbagai tantangan ekonomi. Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh 7,73% YoY, mencapai Rp1.699 triliun, dengan dominasi dana murah (CASA) yang kini menyumbang 80,3% dari total DPK.
Di sisi pendapatan, Bank Mandiri berhasil mencatatkan laba bersih konsolidasi sebesar Rp 55,8 triliun di tahun 2024. Pendapatan berbasis komisi (fee-based income) meningkat 4,12% YoY menjadi Rp42,32 triliun, didorong oleh peningkatan transaksi digital, layanan treasury, serta jasa pengelolaan dana dan investasi.
Bank Mandiri juga semakin agresif dalam mengalokasikan pembiayaan ke sektor ramah lingkungan, dengan portofolio hijau mencapai Rp 149 triliun, tumbuh 15,2% YoY. Fokus utama pada Energi Baru Terbarukan (EBT) yang mencatatkan pertumbuhan signifikan sebesar 21% YoY, mencapai Rp11,8 triliun.
“Kami akan terus memperkuat peran Bank Mandiri dalam mendorong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan melalui inovasi dan kolaborasi yang lebih luas. Kami yakin strategi jangka panjang ini akan memberikan dampak positif bagi ekonomi nasional,” tutup Winardi.
Penulis: Ronis Natom