Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Gagasan»Semiotika Jolly Roger: Rekonstruksi Ideologis pada Mitos
Gagasan

Semiotika Jolly Roger: Rekonstruksi Ideologis pada Mitos

By Redaksi17 Agustus 20255 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Felisianus Efrem Jelahut
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Oleh: Felisianus Efrem Jelahut

Pengamat Isu Komunikasi

Dirgahayu Indonesiaku!!

Hari ini Masyarakat Indonesia merayakan hari kemerdekaan yang ke- 80. Sejauh mata memandang, pencapaian negeri tercinta ini sudah sangat jauh diatas fondasi penjajahan. Mari kita berharap, pandangan 20 tahun lagi melangkah jauh sampai pada usia satu abad kemerdekaan negeri beribu pulau ini.

Dalam usaha meraih usia stabil kemerdekaan, tidak sedikit isu yang muncul seakan ingin menggoyangkan kibaran merah putih. Beberapa waktu lalu, jagad maya dihebohkan dengan isu pengibaran bendera Jolly Roger bertepatan dengan hari ulangtahun sang saka Merah Putih.

Bagi sebagian orang yang tidak familiar dengan istilah Jolly Roger, terminologi tersebut sebenarnya mengarah pada symbol bendera bajak laut dalam serial fiksi Onepiece karya mangaka Jepang Bernama Eichiro Oda. Singkatnya dalam serial anime ini, Oda Sensei (Guru Oda; Jepang) menceritakan bagaimana dunia dibagi dalam dua kelas besar yang selalu berselisih membingkai menariknya alur cerita fiksi itu.

Dua kelas yang coba digambarkan adalah Kelas atas atau Penguasa di simbolkan oleh Pemerintah Dunia dan Marine sebagai aparatnya, dan kelas bawah atau kelas yang seolah dikuasai dalam alur cerita yakni kelas pemberontak, bajak laut.

Dalam perselisihan dua kelas ini, terdapat kontradiksi Kebenaran dan Kebaikan. Kelas Penguasa justru dilabeli oleh cerita sebagai kelas yang jahat, suka menindas, mempermainkan kekuasaan dan bertindak kriminal.

Lain halnya dengan kelas bawah, para bajak laut yang diwakili oleh Crew Topi Jerami (Luffy dkk dalam cerita) yang selalu bertindak adil, setia kawan, suka menolong, pembebas dan membenci ketidakadilan. Hal yang paling menarik untuk dianalisis adalah simbol Jolly Roger pada bendera salah satu kelas dalam cerita fiksi anime onepiece ini, yaitu kelas bawah yang di lakonkan oleh para bajak laut.

Dari sudut pandang ilmu komunikasi, semiotika boleh dipakai untuk melihat simbol Jolly Roger dalam karya fiksi Oda Sensi ini. Semiotika adalah ilmu yang mempelajari tanda dan sistem tanda, serta bagaimana tanda-tanda tersebut memiliki makna.

Roland Barthes, salah satu ahli semiotika mengasumsikan dalam argumentum semiotiknya bahwa tanda-tanda dalam suatu sistem budaya dapat dimaknai. Barthes mengembangkan dua tingkatan makna yakni denotasi (makna harfiah) dan konotasi (makna kiasan atau interpretasi budaya).

Ia juga memperkenalkan konsep mitos, di mana makna-makna yang sudah mapan dalam budaya tertentu dapat membentuk sistem makna yang lebih luas. Bagaimana Semiotika Roland Barthes melihat Jolly Roger?

Makna Denotasi

Jolly Roger dalam serial anime fiksi One Piece didenotasikan sebagai sebuah bendera bergambar tengkorak manusia dan tulang yang dipakai oleh Bajak Laut perintis Bernama Gol D Roger dalam cerita onepiece. Simbol dalam bendera ini menjadi latar utama dari bendera-bendera kelompok bajak laut selanjutnya dalam cerita.

Misalnya bendera kelompok bajak laut topi Jerami, terlihat pada bendera mereka symbol dasar tengkorak dan tulang yang ditambahkan item topi Jerami pada bagian tengkoraknya. Latar warna dari bendera-bendera tersebut pada umumnya adalah Hitam dan warna dari tengkorak dan tulang yang bersilangan adalah putih.

Makna Konotasi

Makna Konotasi mewakili makna khiasan dari Jolly Roger dalam cerita anime onepiece. Simbol Tengkorak manusia dapat di konotasikan dengan tanda kematian, bahaya, atau hal-hal yang bersifat negatif.

Namun, dalam beberapa konteks kepercayaan dan kebudayaan, tengkorak juga bisa melambangkan keberanian, pemberontakan, atau bahkan aspek spiritual.

Simbol Tulang yang bersilangan dapat dikonotasikan dengan Simbol tulang yang bersilangan, umumnya dikenal sebagai tengkorak dan tulang bersilang, konteks penggunaannya.

Secara umum, simbol ini melambangkan bahaya, kematian, racun, atau sesuatu yang beracun.

Namun, dalam sejarah dan budaya tertentu, simbol ini juga memiliki makna lain, seperti keberanian, kebebasan, atau bahkan simbol militer dari resimen tertentu.

Warna hitam sebagai latar umum dari bendera Jolly Roger, memiliki beragam makna tergantung pada konteksnya. Secara umum, hitam dikaitkan dengan kekuatan, misteri, dan keanggunan.

Namun, dalam budaya Barat, hitam sering diasosiasikan dengan kematian, kesedihan, dan kejahatan. Di sisi lain, dalam beberapa budaya di daerah Afrika dan beberapa budaya lain, hitam melambangkan kebijaksanaan, kedewasaan, dan kekuatan spiritual.

Warna Putih sebagai warna dasar dari Tengkorak dan Tulang dalam Jolly Roger, secara umum melambangkan kesucian, kebersihan, kemurnian, dan kesederhanaan.

Dalam konteks agama-agama dan budaya, putih juga bisa melambangkan perdamaian, kesalehan, dan awal yang baru. Selain itu, putih juga sering dikaitkan dengan kesejukan, ketenangan, dan keabadian.

Makna Mitos

Mitos menurut Barthes bukan sekadar cerita atau legenda, melainkan sistem tanda yang menyajikan makna tertentu sebagai sesuatu yang alami atau universal, padahal sebenarnya merupakan konstruksi sosial dan ideologis.

Mitos, menurut Barthes, menyamarkan sejarah dan alasan di balik suatu makna, sehingga makna tersebut tampak wajar dan diterima begitu saja.

Mitos dari Bendera Jolly Roger berisi hasil konstruksi dari isu kejahatan, penindasan, ketidakadilan, korupsi, kematian jati diri dan ajakan pemberontakan dalam konteks wilayah isu simbol ini dipakai.

Rekonstruksi Ideologis pada Mitos Jolly Roger

Apabila pengkritik negara Indonesia hanya melihat dari analisis permukaan, maka makna mitos dalam semiotika Barthes ini bagi Sebagian orang akan menjadi buah bibir yang yang tajam bagi negeri tercinta ini.

Namun Makna Mitos ketika dilihat lebih jauh, terdapat ideologi yang terselubung untuk memecah belah bangsa yang hampir meraih 100 tahunnya.

Konstruksi yang dibangun sebenarnya adalah sebuah Rekonstruksi Ideologis penjajahan. Negeri Samurai rupanya memiliki caranya sendiri dalam mengubah level penjajahan selama 3,5 tahun yang lalu untuk memecah belah bangsa ini,

Ideologi di rekonstruksi sampai pada level dimana jagad maya bangsa Indonesia hampir seluruhnya ingin mempersandingkan sebuah cerita fiksi dengan perjuangan nyata dari para pejuang yang 80 tahun lalu menumpahkan darahnya demi kebebasan dan kebahagian kita pada kemerdekaan hari ini.

Momentum Kemerdekaan Indonesia hari ini 17 Agustus Tahun 2025 seharusnya menjadi pembuktian bahwa Kemerdekaan kita adalah kemerdekaan yang berpijak pada bukti historis yang nyata dan dapat dibuktikan, tak dapat digoyahkan hanya dengan romansa pihak pemecah belah yang menunggangi kemurnian sastra sebagai simbol penuh makna pemecah belah.

Isu Jolly Roger yang menghebohkan jagad maya Indonesia sembari menyongsong kemerdekaannya hanyalah setitik noda yang bahkan tak mampu menetes pada sucinya merah putih. Merdeka Indonesiaku, Merdeka Tanah Airku…..

Felisianus Efrem Jelahut
Previous ArticleResilensi Jiwa dan Cinta Tanah Air
Next Article Bendera Kusam dan Robek Dikibarkan di Hari Kemerdekaan ke-80, Pemerintah Desa Tomberabu II Disorot Warga

Related Posts

Cerdas Digital Saja Tidak Cukup: Haruskah Psikologi Jadi Pelajaran Wajib di Sekolah?

6 Maret 2026

Memburu “Hantu”, Memukul Manusia, dan Psikologi Sosial

6 Maret 2026

Pastor Sumber Ajaran Moral, Jangan Bela Pelaku TPPO

4 Maret 2026
Terkini

Pengkab Taekwondo Sumba Barat Daya Dukung Ridwan Angsar Jadi Ketua Pengprov TI NTT

6 Maret 2026

Nama Wakil Ketua DPRD NTT Dicatut dalam Dugaan Penipuan Lowongan Kerja, Ratusan Orang Mengaku Jadi Korban

6 Maret 2026

Golkar NTT Umumkan Pengurus Baru 2025–2030, Targetkan Musda Kabupaten Rampung April

6 Maret 2026

Cerdas Digital Saja Tidak Cukup: Haruskah Psikologi Jadi Pelajaran Wajib di Sekolah?

6 Maret 2026

Rumah Harapan untuk Regina Uner di Cibal Barat Rampung 100 Persen

6 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.