Oleh: Sipri Kantus
Penyuluh Agama Katolik Pada Kantor Kementerian Agama Kabupaten Manggarai, Penulis Buku Pikiran-Pikiran Alternatif: Esai-Esai tentang Pendidikan dan Literasi, Kemelut Sosial Kemanusiaan, dan Moderasi Beragama, 2025
“Jika Allah tidak ada lagi, maka segala sesuatu boleh.” Pernyataan ini diungkapkan oleh F. Dostoyevsky, seorang filsuf Rusia. Barangkali dia juga seorang sastrawan. Penulis mengutipnya ketika itu, ketika menulis skripsi untuk memenuhi sebagian syarat dalam meraih gelar sarjana filsafat (2009). Penulis mengutip pernyataan filsuf tersebut dalam konteks relativisme moral dan iman.
Relativisme sendiri merupakan sebentuk isme yang bertendensi menolak hal-hal mutlak, yang absolut. Dalam kaitan dengan relativisme moral dan iman, penganut aliran ini menolak keberadaan Allah sebagai subyek ultim yang menjadi isi dari kepercayaan dalam beberapa agama.
Bagi mereka, Allah sangat membatasi kebebasan manusia. Atas dasar tuduhan itu, mereka menolak keberadaan Allah sebagai rujukan mutlak tentang yang baik, yang benar, yang indah, yang diajarkan dalam beberapa agama sebagai basis moralitas pengikutnya.
Aliran pragmatisme juga sejalan dengan penganut relativisme. Bahkan aliran ini menyuarakan pengabaian akan eksistensi Tuhan dengan sangat terang. Diktum terkenal dari aliran itu yakni keberadaan Allah itu tidak dapat dibuktikan secara rasional, atau evidensi obyektif Allah itu tidak dapat dibuktikan secara empirik.
Klaim kaum pragmatis ini sesungguhnya mengekspresikan pendewaan terhadap kemampuan akal sekaligus sebentuk pledoi terhadap kebebasan manusia yang menolak hidup dalam batas-batas norma. Manusia yang memeluk kebebasan absolut sudah pasti tidak mau berada dalam aturan, sistem, atau mau hidup sesuka hati (anarkhi).
Jika semua orang menganut konsep seperti itu, coba bayangkan, kekacauan seperti apa yang akan timbul darinya. Dalam hasrat kebebasan yang tak terkendali, menyingkirkan orang lain akan menjadi sesuatu yang biasa. Itulah egoisme yang tidak memperhitungkan keberadaan orang lain sebagai sesama ciptaan, citra Allah sendiri.
Pertanyaan dari umat beriman terhadap kaum pragmatis adalah bagaimana manusia yang sungguh kecil bisa menjangkau Allah yang sungguh besar? Bagaimana yang terbatas harus memaksa diri untuk mencapai Allah yang tidak terbatas?
Sejumlah pertanyaan ini menjadi sangat penting untuk kembali melihat kodrat manusia dan Allah dalam oposisi konstan dari sebuah cara berada. Manusia adalah ciptaan dan Allah adalah pencipta.
Oposisi ini seharusnya amat terang untuk menerangkan kodrat manusia yang terbatas, yang menerima dasar adanya dari Allah sebagai penciptanya.
Pertanyaan-pertanyaan itu begitu penting diajukan kembali, juga menjadi pengingat bagi petualangan akal yang serba bebas. Dalam kelas filsafat katolik -sejauh yang saya pahami-penalaran falsafi (akal budi) tentang Allah tidak diarahkan untuk membuktikan keberadaan Allah, melainkan memberikan kerangka logis bagi upaya pertanggungjawaban akan iman.
Filsafat melayani teologi, dalam arti akal budi manusia coba menjelaskan wahyu, pewartaan para Nabi, Kitab Suci, tradisi, sebagai jejak dari revelasi Allah dengan keterbukaan penuh pada misteri-Nya. Keberadaan-Nya diterima bukan sebagai masalah melainkan sebagai sebuah misteri.
Sebab kalau keberadaan-Nya itu dipandang sebagai masalah maka pasti ada solusinya, tetapi keberadaan-Nya adalah misteri, maka jawaban dalam sejumlah pencarian akan Dia hanya berupa pertanyaan tanpa jawaban final. Sejauh ini, akal budi manusia belum sanggup mencapai-Nya.
Karena Allah itu misteri, maka dalam kidung hikmat penyembahan kepada Sakramen Maha Kudus umat Katolik, di sana ada satu rumusan pengakuan iman yang sangat menarik yaitu iman yang menolong Budi, indra tak mencukupi.
Iman adalah percaya kepada sesuatu yang tak kelihatan, yang tidak sanggup dijangkau oleh oleh akal Budi manusia karena kodratnya yang terbatas. Jika budimu berpetualang tanpa iman, ia akan melakukan petualangan buta dan tanpa arah.
Akal budi yang demikian yang mudah tersesat karena berekspolorasi sesukanya, bahkan sampai pada perusakan manusia dan alam seperti pembuatan senjata berhulu ledak tinggi maupun percobaan-percobaan merekayasa manusia dalam laboratorium para ilmuwan.
Hari ini, penghayatan terhadap ajaran agama memang sedang tidak baik-baik saja. Maka pernyataan filsuf di atas boleh menjadi kritik yang sehat berhadapan dengan fakta prilaku pemeluk agama yang kacau dan tidak menghidupi kaidah moral agamanya.
Dan memang, sepertinya, dunia kini jamak menampilkan pola hidup seperti itu. Oleh karena hasrat kebebasan yang sewenang-wenang, dalam planet bumi ini, sepertinya ada sekian banyak planet lain yang mengorbit jauh, meninggalkan jutaan orang lain yang tidak punya ongkos untuk menumpangnya.
Planet-planet itu dipiloti oleh segelintir yang berwawasan ketidakpedulian. Tidak peduli terhadap Agamanya, Allah-nya, sesamanya manusia. Sebuah ketidakpedulian yang akut.
Dari perspektif kodrat manusia sebagai salah bentuk ciptaan, persoalan manusia hari ini adalah “persoalan tapal batas” tindakannya. Kebutaan dan nir-arah dari cara pikir dan tindakannya itu yang jamak sedang ditampilkan sekarang, mempertontonkan serba bebasnya tindakan manusia.
Dibolak-balik, manusia yang berkuasa, karena kekuasaannya dilihat dan dinikmati, meski mengandung kebebasan yang tidak memperhitungkan orang lain dan alam lingkungan.
Alih-alih berargumen Allah tidak ada adalah godaan menjadi Allah itu sendiri dan memproklamirkan kehadiran allah manusia yang bisa dibujuk, disuap, dan dijinakkan.
Mendiang Joseph Ratzinger (Paus Benediktus XVI) menulis satu hal yang remeh namun mendalam tentang godaan yang menawarkan manusia untuk menjadi Tuhan.
Dia mengatakan bahwa hari ini begitu banyak orang yang menulis nama “Tuhan dengan “tuhan,” (T capital diganti dengan ‘t”). Remeh memang, namun kalau didalami sungguh, hal ini mengarah pada pengabaian kemahabesaran Allah, dan manusia seperti itu tergoda hendak menyamakan Tuhan dengan tuhan-tuhan lain hasil konstruksinya.
Dengan itu hendak dikatakan bahwa Allah atau Tuhan tidak membatasi kebebasan manusia, melainkan mendasarinya. Kebebasan yang benar berarti kebebasan yang lahir dari penerimaan akan kodrat manusia yang terbatas. Sejarah kejatuhan manusia yang diceriterakan dalam Kitab Suci (Adam-Hawa) adalah kisah ketidaktaatan pada batas, pada aturan, pada sistem.
Batas-batas tindakan manusia sejauh yang saya alami, tidak terbatas pada yang diceriterakan dalam kitab suci. Dalam budaya orang Manggarai, seperti yang sering disampaikan oleh RP. Dr. Hubertus Muda, SVD, basis etik tindakan orang Manggarai ada pada kata “neka” (baca: Jangan). “Neka daku, ngong data” (Jangan klaim milik orang sebagai milik saya).
Saya kira, setiap daerah punya basis etik tindakannya masing-masing, dan semua itu merujuk pada batas tindakan manusia. Menjadi manusia berarti menerima batasan-batasan etik itu. Sekaligi lagi, menjadi manusia berarti terbatas.
Jadi ketika hari ini kita cenderung menolak hal-hal yang prinsipil, cobalah diperiksa apakah kita masih beriman dengan benar ataukah sudah jauh tenggelam dalam pragmatisme. Sebab jikalau kita terlampau tenggelam dalam cara pragmatik itu berarti kita memperlakukan segala sesuatu dalam skop instrumental.
Sesuatu itu baik dan benar jika sesuatu itu melayani kepentingan ego, atau kelompok (kartel). Jika itu yang kita mau, maka kita akan selalu berhadapan dengan kemahakuasaan manusia, serba bebasnya tindakan manusia, di mana manusia bisa sampai menjadi serigala bagi sesamanya atau homo homini lupus. F. Dostoyevsky mengingatkan kita orang beriman dengan sangat baik, “jika Allah tidak ada lagi, maka segala sesuatu boleh.”

