Oleh: Florensiana Daido
Mahasiswi Fakultas Teknik Komputer, Universitas Stellamaris Sumba Barat Daya
Saya adalah Mahasiswi di Fakultas Teknik Komputer Universitas Stellamaris Sumba Barat Daya. Sekarang menjalankan magang di SMA Katolik St. Josef Freinademetz Tambolaka.
Bagi saya ini adalah pengalaman menarik yang menggugah untuk menjawabi panggilan hati ini secara sungguh-sungguh.
Guru adalah kata mulia yang tergaung di telinga sebelum menginjak masa-masa sekolah. Kata itu tidak lazim lagi di kalangan masyarakat.
Namun membuat hati kecil ini terus mencari tahu apa makna terdalam dari kata ini.
Selama kurang lebih dua bulan menjalankan masa magang di sekolah ini sungguh-sungguh menghantar saya memahami dan merasakan bahwa menjadi guru itu adalah tugas mulia mencerdaskan generasi bangsa Indonesia.
Saya sungguh merasakan masa magang di sekolah ini sebagai momen terindah menimbah pengalaman yang membawa perubahan besar dalam hidupku.
Di momen peringatan Hari Ulang Tahun Guru Nasional yang ke-80 ini, saya terdorong untuk berhenti sejenak, merenungkan perjalanan singkatku, dan memahami kembali makna menjadi seorang pendidik.
Awalnya punya rindu yang dalam untuk menjadi guru yang baik bagi anak-anak bangsa. Selama beberapa minggu terakhir, setiap langkahku menuju ruang kelas selalu disertai rasa gugup dan harapan yang bercampur menjadi satu.
Sebagai seorang calon guru yang masih dalam proses belajar, saya sering merasa belum cukup siap. Namun kehadiran peserta didik yang menatapku dengan penuh kepercayaan membuat saya sadar bahwa profesi guru adalah amanah besar dan panggilan mulia.
Pada hari-hari pertama magang, saya merasa canggung saat berdiri di depan kelas. Suara terasa bergetar, tanganku dingin, dan pikiranku dipenuhi kekhawatiran: “Apakah saya mampu? Apakah saya bisa menjadi anutan bagi peserta didik?” Namun setiap kali saya mencoba melangkah lebih jauh, saya justru menemukan kekuatan baru yang tidak pernah kusadari sebelumnya.
Ketika peserta didik mulai mendengarkan penjelasan dalam pembelajaran, bertanya, tersenyum, bahkan sekadar menyapa di lorong sekolah, saya merasakan semangat yang mengalir dalam seluruh tubuhku begitu terasa hangat. Kehadiran mereka menjadi alasan bagiku untuk terus berusaha.
Dalam suasana perayaan Hari Ulang Tahun Guru Nasional ke-80 ini, saya semakin memahami betapa pentingnya peran guru dalam membangun bangsa. Dari para guru mentor di sekolah ini saya belajar tentang arti kesabaran.
Mereka menjalani hari demi hari dengan penuh dedikasi, mengajar tanpa mengeluh, dan tetap tersenyum meski lelah. Saya melihat bagaimana mereka mempersiapkan materi, membimbing siswa dengan tekun, dan hadir sebagai figur yang menguatkan.
Melihat semua itu, saya semakin menghargai profesi ini. Guru bukan hanya pengajar, tetapi juga pendidik yang membentuk karakter, memberikan inspirasi, dan menuntun generasi muda menemukan jati dirinya.
Pengalaman magang ini tidak hanya memberiku ilmu, tetapi juga membuka mata dan hati. Ada hari-hari ketika aku merasa kewalahan—menghadapi siswa yang sulit diatur, menyiapkan perangkat pembelajaran, atau ketika pelajaran tidak berjalan sesuai rencana.
Namun, ada pula momen-momen kecil yang terasa sangat berarti: ketika seorang siswa akhirnya mengerti materi yang sebelumnya sulit, ketika mereka berterima kasih secara sederhana, atau ketika mereka mengungkapkan bahwa kehadiranku membuat mereka semangat belajar. Semua momen itu menguatkan tekadku untuk tetap berjalan di jalur ini.
Di hari istimewa peringatan Hari Guru Nasional yang ke-80 ini, saya ingin mengucapkan hormat setinggi-tingginya kepada semua guru di Indonesia. Mereka adalah pahlawan tanpa tanda jasa yang mengabdikan hidupnya demi masa depan bangsa.
Sebagai mahasiswi magang, saya mungkin baru berada di awal perjalanan, tetapi keberadaan mereka memberi arah yang jelas. Mereka mengajar bukan hanya dengan kata-kata, tetapi juga dengan keteladanan.
Saya akan terus terus belajar, mengasah kemampuan, dan suatu hari nanti menjadi pendidik yang mampu membawa perubahan. Selamat Hari Ulang Tahun PGRI ke-80.
Semoga semangat mengajar dan mengabdi terus menyala dalam hati setiap pendidik, termasuk saya yang sedang memulai langkah kecil menuju dunia maha luas ini.

